banner lebaran

Pekat Masih Marak di NTB, Sanksi Sosial Dirasa Perlu

83

JUMAT, 3 FEBRUARI 2017

MATARAM — Kepala Satuan Polisi Pamong Praja Provinsi Nusa Tenggara Barat, Dirjaharta, mengatakan, masalah penyakit masyarakat (pekat) hingga kini masih marak terjadi di tengah masyarakat. “Praktik prostitusi dan peredaran minuman keras (miras) termasuk pekat yang seringkali masih banyak ditemukan dan ditangani Satpol PP NTB,” ujarnya, Jum’at (3/2/2017).

Kasat Pol PP NTB, Dirjaharta

Menurutnya, masih banyaknya kasus pekat tersebut, selain menyangkut kesadaran masyarat juga sanksi atau hukuman yang dijatuhkan belum mampu memberikan efek jera bagi para pelaku. Untuk itu, tegas Dirjaharta, ke depan bagi para pelaku pekat, terutama praktik prostitusi, sanksi akan dijatuhkan tidak saja sekedar ditangkap, diambil KTP, dipanggil keluarga atau orang tua kemudian dipulangkan. “Tapi, harus ada sanksi sosial, semisal identitas pelaku diumumkan lewat media masa, supaya bisa memberikan efek jera,” katanya.

Berdasarkan data Satpol PP NTB, jumlah pelanggaran pekat selama 2016 saja untuk kasus terkait prostitusi mencapa 66 orang, terdiri dari laki-laki dan perempuan, mulai dari mahasiswa hingga orang dewasa yang diamankan di sejumlah tempat, mulai dari hotel, homestay, hotel kelas melati dan losmen. “Sementara untuk pekat narkoba selama dua ribu enam belas, jumlahnya relatif sedikit, yaitu mencapai dua puluh satu orang yang diamankan di tempat hiburan seperti cafe, discotik, termasuk hotel, losmen dan homestay” tutupnya.

Jurnalis : Turmuzi / Editor : Koko Triarko / Foto : Turmuzi

Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.