Pemanfaatan Lahan Basah di Bakauheni Berdampak Ekonomi Bagi Warga

153

KAMIS, 2 FEBRUARI 2017

LAMPUNG — Kawasan Kecamatan Bakauheni merupakan satu wilayah di Kabupaten Lampung Selatan yang berada di ujung paling Selatan Pulau Sumatera. Menurut Camat Kecamatan Bakauheni, Zaidan SE, beberapa desa di wilayah Kecamatan Bakauheni itu di antaranya Desa Semanak, Desa Bakauheni, Desa Hatta, Desa Totoharjo dan Desa Kelawi, berhadapan dengan Laut Selat Sunda.

Kawasan pesisir pantai di Bakauheni yang sebagian digunakan sebagai tambak, perumahan dan dermaga.

Menurut Zaidan, kontur perbukitan yang menyambung dengan Gunung Rajabasa didominasi oleh beberapa wilayah pantai yang merupakan bagian dari beberapa muara sungai yang membentuk ekosistem tanaman mangrove, dan sebagian merupakan rawa-rawa yang masih dimanfaatkan oleh masyarakat untuk lahan pertanian sawah, palawija serta memelihara ikan air tawar dan sebagian dalam skala besar digunakan masyarakat untuk pertambakan.

Potensi lahan basah (wetlands) yang menurut Zaidan sebagian besar menjadi perkampungan para nelayan, seperti di wilayah Dusun Muara Piluk, Dusun Pegantungan, Dusun Minang Ruah serta dusun-dusun pesisir pantai lainnya digunakan secara perseorangan dan oleh pemodal-pemodal besar sebagai tambak udang windu dan ikan bandeng, seperti yang ada di lahan-lahan basah area rawa-rawa berair payau.

Keunikan wilayah Bakauheni tersebut, lanjut Zaidan, telah membawa dampak positif perekonomian masyarakat, karena dengan adanya tambak-tambak tradisional di wilayah Dusun Penobakan di wilayah Tanjung Tua, telah memberi sumber penghasilan bagi warga sekitar sebagai nelayan budi-daya.

Selain nelayan-nelayan budi-daya sebagai petambak udang perseorangan, di wilayah Dusun Penobakan juga berdiri beberapa lahan tambak intensif milik pemodal-pemodal besar. Keberadaan tambak tersebut merupakan perkembangan industri perikanan, karena menurut Zaidan, tanpa adanya pemodal skala besar, wilayah rawa-rawa di daerah tersebut masih akan menjadi lokasi yang terbengkalai dan tidak dimanfaatkan secara maksimal karena kontur rawa-rawa yang berbatu dan juga tidak bisa dimanfaatkan oleh masyarakat yang tidak memiliki modal besar.

Tanaman Mangrove sebagai  penjaga abrasi dan angin.

“Meski demikian, para pemilik tambak tetap kita imbau untuk memiliki kepedulian terhadap lingkungan dengan tidak menggunakan zat kimia untuk pertambakan, memberdayakan warga lokal sebagai karyawan dan tentunya ada tanggung-jawab sosial dalam hal membuat akses jalan yang memadai bagi masyarakat,” terang Zaidan, yang ditemui secara khusus oleh Cendana News terkait pemanfaatan kawasan lahan pesisir di wilayah Bakauheni.

Zaidan bahkan mengajak beberapa pemilik atau bos-bos tambak di wilayah tersebut untuk memiliki kepedulian terhadap sabuk hijau (green belt) pantai dengan tidak melakukan penebangan dan penggusuran tanaman mangrove. Kesadaran akan pemanfaatan sabuk hijau tanaman mangrove tersebut bagi sejumlah petambak ikan, baik tradisional maupun intensif, masih sangat penting, karena selain bisa menahan laju abrasi oleh gelombang laut Selat Sunda, jajaran batang-batang mangrove sekaligus menjadi benteng atau tembok dari terjangan angin laut yang bisa membahayakan perkampungan nelayan di wilayah tersebut.

Pentingnya lahan basah di wilayah Bakauheni mulai disadari peranan pentingnya oleh masyarakat dan juga Pemerintah Kecamatan Bakauheni, terlihat dari adanya upaya-upaya konservasi yang sekaligus mendorong pertumbuhan perekonomian masyarakat melalui pemanfaatan untuk kegiatan wisata bahari. Beberapa desa di Kecamatan Bakauheni yang digaungkan sebagai kawasan wisata, menurut Zaidan, bahkan merupakan destinasi wisata kawasan pesisir, baik kawasan pesisir pantai dengan mangrove yang masih terjaga, maupun kawasan pantai yang berpasir seperti di Pantai Pegantungan, Pantai Batu Alif, Tanjung Tuha, Minang Ruah, Blebug serta pulau-pulau kecil di wilayah Kecamatan Bakauheni, seperti kawasan Pulau Sekepol, Pulau Sindu, Pulau Dua, Pulau Kelapa, Pulau Kandang Balak, Kandang Lunik, Pulau Prajurit dan beberapa pulau kecil lainnya.

“Kita memang menyadari lahan semakin berkurang, terutama dengan adanya proyek pambangunan Jalan Tol Sumatera yang membuat sebagian warga Bakauheni tergusur dan mencari tempat tinggal di lahan yang baru, dan arah pertumbuhan tempat tinggal justru mengarah ke wilayah pesisir pantai yang selama ini jarang dilirik orang, karena faktor kebutuhan,” ungkap Zaidan.

Zaidan, SE., Camat Bakauheni

Sebagian kampung nelayan yang mulai dipenuhi oleh penduduk tersebut, di antaranya kawasan Dusun Pegantungan yang berhadapan dengan Pulau Sindu. Kawasan pesisir rawa mangrove yang masih asri dan hijau tersebut dengan muara sungai yang masih dipertahankan sebagai pelabuhan alam oleh masyarakat, bahkan telah memiliki dasar hukum terkait pemanfaatan, pelarangan serta aktivitas yang boleh dan tidak boleh dilakukan oleh masyarakat, terutama berkaitan dengan kawasan hutan mangrove.

Sejak Kepala Desa Bakauheni dijabat oleh Sadide yang kini berpindah ke tampuk pimpinan Sahroni, wilayah Dusun Pegantungan yang kaya akan berbagai jenis tanaman mangrove, bahkan telah diatur melalui Peraturan Desa (Perdes), untuk menjaga kelestarian mangrove. Perdes tersebut di antaranya mengatur, bahwa kawasan tersebut merupakan kawasan milik desa yang pemanfaatannya tidak diperkenankan untuk kepentingan pribadi, dan hanya dimanfaatkan untuk konservasi dan perlindungan mangrove.

Perdes yang mengatur pemanfaatan kawasan lahan basah dengan muara sungai di dekat Pulau Sindu yang akan dijadikan kawasan wisata tersebut, diharapkan bisa menjadi benteng bagi pelestarian mangrove di kawasan tersebut. “Desa Bakauheni memiliki aturan yang jelas, sehingga Perdes yang dibuat tidak akan dilanggar karena akan ada sanksi bagi masyarakat. Untuk itu, konsep penataan kawasan pesisir dengan wisata yang memiliki potensi pemasukan ekonomi perlu dikembangkan,” terang Zaidan.

Penyadaran kepada masyarakat untuk pemanfaatan lahan basah berkelanjutan itu, diakui Zaidan juga telah sering dibahas terutama bagi masyarakat yang tinggal di wilayah muara sungai dan pesisir pantai di beberapa dusun nelayan di wilayah tersebut. Beberapa kawasan pesisir pantai yang ada di wilayah Bakauheni, namun diakuinya memiliki keunikan dengan kontur yang berbeda seperti ujung Selatan Pulau Sumatera tersebut, memiliki wilayah pantai pesisir Timur yang terpisah dari Tanjung Tua, dengan pantai pesisir Barat yang memiliki landscape berbeda.

Kebijakan pemerintah yang berpihak kepada rakyat, di antaranya memanfaatkan lahan pesisir pantai dengan mangrove tanpa menghilangkan mata pencaharian warga, merupakan langkah bijak yang menguntungkan bagi pemerintah setempat maupun masyarakat.

Jurnalis: Henk Widi/ Editor: Koko Triarko/ Foto: Henk Widi

Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.