Pemanfaatan Lahan Basah di Indonesia Belum Seimbang

423

KAMIS, 2 FEBRUARI 2017

YOGYAKARTA — Indonesia diketahui memiliki lahan basah sangat luas yang tersebar di berbagai daerah. Baik itu berupa rawa-rawa, lahan gambut, muara sungai hingga daerah pinggiran aliran sungai. Namun, sayangnya, hingga saat ini masih banyak potensi lahan basah tersebut belum diperhatikan dan dipikirkan dengan baik, bahkan seolah terpinggirkan.

Pramono Hadi.

Sekretaris Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, Dr. M. Pramono Hadi, MSc, menyebut, pemanfaatan lahan basah yang merupakan wilayah-wilayah pertemuan antara daratan dan perairan di Indonesia masih belum seimbang. Di satu sisi banyak lahan basah dibiarkan terbengkalai, sementara di sisi lain banyak lahan basah dimanfaatkan secara berlebiham dan cenderung dieksploitasi. Pemanfaatan lahan basah sendiri dikatakan bisa dilakukan untuk berbagai macam bidang kehidupan sesuai kebutuhan manusia. Baik itu untuk lahan pertanian, perikanan, tambak, wilayah konservasi untuk kepentingan biodiversity sekaligus buffer zone, hingga pemanfaatan sebagai pemukiman atau tempat tinggal.

“Memang pemanfaatan lahan basah ini belum balance. Ada yang belum dimanfaatkan sama sekali, namun ada pula yang pemanfaatannya terlalu intensif, tidak terkontrol, dan mengarah ke perusakan, hingga menimbulkan degradasi dari sisi kualitas lingkunguan,” ujarnya kepada Cendana News di UGM, Kamis (2/2/2017).

Salah satu contoh pemanfaatan secara berlebihan itu dikatakan adalah pembatasan sistem air pada kawasan lahan basah untuk kepentingan manusia baik pertanian maupun pemukiman. Hal ini secara lingkungan telah masuk kategori eksploitasi yang merusak, karena terlalu dipaksakan. Sehingga memiliki potensi risiko yang sangat besar, misalnya ketika terjadi banjir.

“Ini memang lebih banyak dilakukan oleh oknum-oknum yanng ingin mendapatkan pendapatan ekstra, namun tidak melihat dari sisi lingkungan. Secara ekologis tidak diperhatikan, karena hanya cari untung. Semestinya harus seimbang. Yakni dengan memikirkan semuanya secara komprehensif dan jangka panjang,” ujarnya.

Selain itu pemanfaatan sejumlah lahan basah dengan segala potensinya dikatakan juga belum dilakukan dengan menggunakan cara-cara yang tepat. Misalnya saja pemanfaatan lahan gambut untuk lahan pertanian. Banyak lahan gambut dibuka namun selang beberapa waktu kemudian ditinggalkan karena dianggap rusak dan tak bisa lagi dimanfaatkan.

“Lahan gambut itu merupakan lahan basah yang terjadi karena tumbukan material organik. Itu sebenarnya merupakan  rongga-rongga, dengan banyak sistem air. Jika dimanfaatkan, dalam tahun pertama memang bagus, tapi setelahnya tanahnya akan menyusut dan timbul air. Sehingga seolah rusak dan ditinggalkan. Hal semacam ini yang selama ini tidak dipikirkan,” katanya.

Untuk mengatasi hal itu, memang perlu pengawasan pemerintah. Selain juga upaya-upaya edukasi kepada masyarakat. Namun, pemberian edukasi tersebut juga harus mempertimbangkan kebutuhan dasar masyarakat itu sendiri. Karena pemberian edukasi tanpa adanya pemenuhan kebutuhan dasar seperti mata pencaharian dan tempat tinggal akan sia-sia.

“Memang masyarakat butuh edukasi. Karena pada dasarnya mereka akan patuh. Namun sebelum itu kebutuhan dasar mereka harus terpenuhi. Pemerintahlah yang harus memenuhi itu. Kalau tidak, masyarakat akan tetap mencari kebutuhan hidup mereka dengan cara merambah alam,” jelasnya.

Jurnalis: Jatmika H Kusmargana / Editor: Satmoko / Foto:  Jatmika H Kusmargana

Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.