banner lebaran

Pemuda Hijau: Jaga Lingkungan Hidup Bisa dengan Ngupas

73
JUMAT 3 FEBRUARI 2017
MAKASSAR—Hari sudah sore ketika saya tiba di sebuah Resto Cepat Saji di Jalan Andi Petrani. Enam anak muda tampak berkumpul di salah satu sudut. Sepintas tidak tampak mereka lazimnya mahasiswa gaul zaman sekarang, berbusana modis, sekalipun sederhana.  Tetapi sebetulnya mereka datang dari Koalisi Pemuda Hijau Indonesia (KOPHI) Sulawesi Selatan. Menemui mereka memang tujuan saya.
Bertemu para personel KOPHI. 
“Kami sedang membicarakan perekrutan anggota baru. Hal ini bertujuan untuk menemukan orang-orang yang dapat berkontrobusi dengan lingkungannya,” kata Ketua Umum KOPHI Sulsel Rahma Purnama Sari. 
Koalisi Pemuda Hijau Indonesia atau KOPHI adalah sebuah organisasi aktivis pelestarian lingkungan hidup Indonesia Diprakarsai oleh tiga orang mahasiswa dari perguruan tinggi yang berbeda, yaitu Yudithia (Universitas Indonesia), Lidwina Marcella (London School of Public Relation), dan Agusman Pranata (President University), KOPHI berdiri pada tanggal 28 Oktober 2010 dan diresmikan pada tanggal 30 Oktober 2010 melalui sebuah deklarasi di Museum Bank Mandiri, Jakarta, yang dihadiri organisasi-organisasi mahasiswa dari sejumlah perguruan tinggi di Jabodetabek.
Menurut perempuan yang akrib dipanggil rara ini  KOPHI Sulawesi Selatan sendiri  dibentuk lima tahun lalu. Yang diprakarsai  oleh sekumpulan mahasiswa tenik lingkungan, Universitas Hasanudin(Unhas) angkatan 2011. Di antara penggagasnya  Arif Azis.
“Anak Teknik Lingkungan Unhas waktu itu menghadiri kongres Nasional kophi untuk pertama kalinya di yogyakarta” cerita Rara kepada Cendana News, Jumat 3 Februari 2017.
Berdirinya kophi sendiri disulsel sendiri bertujuan untuk mewadahi warga Sulsel, yang peduli terhadap kehidupan dan pelestarian lingkungan. Untuk saat ini KOPHI sudah memiliki 100 lebih anggota yang terdiri dari berbagai universitas yang ada di Makassar. Dengan 100 anggota ini komunitas ini  menjalankan roda kegiatannya seperti, KOPHI  go to school, dan juga Ngupas(Ngumpul sampah dapat sembako).
Untuk kegiatan  yang go to school sendiri, misalnya KOPHI sudah memberikan penyuluhan kepada  materi anak TK untuk  menanam pohon pada usia dini, sampah 3R, dan juga cuci tangan pakai sabun. Menurut rara sendiri “Mengajarkan seseorang untuk peduli pada lingkungan itu sulit jika bukan kesadaraan orang itu sendiri,” tambah Rara.
Sementara untuk kegiatan yang bernama NGUPAS (Ngumpul Sampah Dapat Sembako), para anggota Kophi Sulsel mendekati warga pemukiman (biasanya kumuh) dan kurang mempunyai kesadaran lingkungan hidup. Mereka memberikan edukasi  bagaimana untuk memilah sampah. Lalu setiap satu kilogram sampah plastik yang dikumpulkan warga diharai dengan sembako. Kegiatan Ngupas ini di antaranya diadakan di Kecamatan Tallo pada Juni 2016. 
Terobosan yang dilakukan Rara dan kawan-kawannya membuktikan bahwa di tangan anak muda harapan untuk memulihkan lingkungan hidup masih ada.
Jurnalis: Nurul Rahmatun Ummah/Editor: Irvan Sjafari/Foto: Nurul Rahmatun Ummah
Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.