Pengembangan Pertanian Lahan Kering di NTT akan Dilakukan 2018

1.225

RABU, 8 FEBRUARI 2017

MAUMERE – Pemerintah Pusat melalui Kementerian Pertanian RI akan mengubah fokus perhatian pertanian di NTT pada lahan kering di 2018. Pasalnya, berdasarkan rapat evaluasi di Kementerian Pertanian akhir 2016, banyak permintaan dari daerah, termasuk dari Provinsi NTT.

Pertanian lahan kering di Kecamatan Alok Barat yang ditanami jagung.

Demikian disampaikan Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Sikka, Ir Hendrikus Blasius Sali, melalui Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Holtikultura Dinas Pertanian Kabupaten Sikka, Inoseng Sega, yang ditemui Cendana News, Selasa (7/2/2017) sore. Dikatakan Ino, sapaan akrabnya, Kabupaten Sikka memang sudah sepantasnya perhatian difokuskan pada lahan kering, karena luas lahan kering lebih banyak dibandingkan lahan basah. “Saat ini, banyak mata air yang mengalami kekeringan sehingga banyak areal sawah di Magepanda agak terganggu akibat minimnya debir air yang membuat hasil panen tidak maksimal,” ujarnya.
Baca:
Pertanian Lahan Basah, Tak Cocok Diterapkan di NTT
Potensi Pertanian di NTT Belum Tergarap Maksimal
Ditambahkan Ino, akibat minimnya air mengakibatkan para petani sawah terpaksa harus menggunakan pompa air yang dibeli sendiri untuk mengairi lahan sawah mereka. Dampak kekurangan air, selain hasil panen berkurang juga membuat petani hanya bisa menanam dua kali dalam setahun, bahkan ada yang hanya sekali saja dan sisanya dimanfaatkan untuk menanam sayuran dan tanaman holtikulutra lainnya seperti kacang-kacangan. “Ada areal sawah yang luas di Desa Nebe dan Bangkoor di Kecamatan Talibura, namun petani di daerah ini belum memanfaatkan melimpahnya air sungai dari Bendungan Nangagete, karena malas,” terangnya.

Dengan bergesernya perhatian Pemerintah ke lahan kering, papar Ino, diharapkan produksi padi dan jagung di Kabupaten Sikka akan surplus, sehingga bisa dijual selain dikonsumsi petani itu sendiri.

Sementara itu, tantangan lain dalam mengembangkan pertanian di NTT juga ada pada kurangnya pemahaman para petani di NTT. Menurut Direktur Wahana Tani Mandiri (WTM), Carolus Winfridus Keupung, yang ditemui Cendana News, Rabu (8/2/2017), tantangan terbesar pengembangan pertanian di Sikka yakni banyak petani yang mulai bertani usai menikah. Sebanyak 70 persen warga di Kabupaten Sikka terjun menjadi petani setelah menikah, sementara sisanya menjadi petani sejak putus sekolah atau tamat sekolah menengah dan tidak memiliki uang melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi.

Dikatakan pendiri WTM ini, hanya 30 persen petani yang bertani sebelum menikah yang berarti mereka secara sadar tahu dan mau berprofesi menjadi petani, sedangkan 70 persennya menjadi petani setelah menikah, karena tidak ada pilihan. “Dengan situasi ini, kami mencoba membenahi yang ada dahulu dan ke depannya kami akan merambah ke sekolah dan mendidik generasi ini agar berpikir bagaimana hebatnya seorang petani yang juga bisa hidup sukses,” tuturnya.

Win mengatakan pula, agar jangan setelah kuliah generasi muda hanya berpikir untuk menjadi pegawai negeri atau penjaga toko, bahkan bekerja sebagai tukang ojek. Untuk itu, peran serta pendamping baik dari lembaga swadaya masyarakat maupun Pemerintah, diharapkan bisa mengubah motivasi warga untuk mulai menjadi petani. “Lahan pertanian kita masih luas dan banyak lahan tidur yang belum digarap, sehingga peluang ini harus dimanfaatkan dan tentunya petani harus dibekali dengan motivasi dan kemampuan untuk menjadi petani sukses,” pungkasnya.

Jurnalis: Ebed De Rosary/ Editor: Koko Triarko/ Foto: Ebed De Rosary

Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.