banner lebaran

Penjualan Kain Sasirangan di Banjarmasin Kini Lesu

727

JUMAT, 3 FEBRUARI 2017

BANJARMASIN — Pedagang kain sasirangan mengeluh penjualan kain asli Kalimantan Selatan itu merosot pada 2016 lalu. Persaingan ketat antarpedagang sasirangan, pelemahan ekonomi lokal, ditambah kenaikan harga bahan baku kain, memicu menyempitnya ceruk pasar.
                 

Mariati seorang penjual sasirangan di Banjarmasin.

Pemilik toko Susi Sasirangan, Sentot Budiyanto, mengatakan, omset penjualan rata-rata sempat melorot separuh pada tahun 2016. Ia sempat menerima omset rata-rata Rp 50-60 juta per bulan pada 2015. Memasuki tahun 2016, kata Sentot, omset penjualan jadi Rp 30-an juta per bulan. “Tahun lalu memang merosot omsetnya,” ujar Sentot yang membuka toko di kampung sasirangan atau Jalan Seberang Masjid, Kota Banjarmasin, Jumat (3/2/2017).

Menurut Sentot, penjualan yang tak menggembirakan itu akibat menjamurnya pedagang baru sasirangan di Banjarmasin. Ia pun mesti bersaing memperebutkan konsumen yang kini justru dihadapkan banyak alternatif toko penjual sasirangan. Membuka usaha sejak tujuh tahun lalu, Sentot merasakan penjualan sasirangan paling seret pada 2016.

Selain itu, kenaikan bahan baku mengakibatkan harga jual kain sasirangan semakin mahal. “Mungkin perekonomi juga sedang lesu. Saya dulu sering kirim ke Solo dan Surabaya, tapi sekarang enggak kirim lagi. Selain menunggu pembeli yang datang ke toko, saya juga masih andalkan pesanan kain,” kata Sentot seraya melayani calon pembeli di toko.

Sentot menuturkan, konsumen yang datang ke toko kebanyakan membeli pakaian jadi ketimbang dalam bentuk kain sasirangan. Kain sasirangan berbahan cotton dan satin lebih mendominasi penjualan di tokonya. Di toko Susi Sasirangan, satu kemeja sasirangan lengan pendek berbahan cotton dibanderol Rp 180 ribu dan Rp 200 ribu untuk kemeja lengan panjang.

Adapun kemeja lengan pendek berbahan veskos ditawarkan seharga Rp 250 ribu. “Masih bisa ditawar lagi. Kalau kain berbahan cotton harganya Rp 120 ribu per 2 meter. Semua hand made, makanya mahal karena membuatnya lama,” ujar Sentot sambil menambahkan kain sasirangan printing lebih murah lantaran proses produksinya lebih praktis dan cepat.

Penjualan sasirangan di toko Baim Sasirangan juga tak jauh beda dengan Sentot. Pemilik toko Baim, Mariati mengaku, omset usahanya sekitar Rp 15-20 juta per bulan pada 2016 lalu. Ia merasakan saat ini banyak bermunculan toko-toko penjual sasirangan. Mariati mengaplikasikan pola pemasaran yang sama seperti Sentot.

Selain menunggu konsumen di toko, Mariati menuturkan, “Saya juga melayani pesanan kain. Pesanannya dari Banjarmasin saja, penjualan sasirangan tertolong program Joko Widodo yang mengharuskan pegawai pakai kain khas. Kalau di Jawa, namanya kain batik.” 

Menurut Mariati, konsumen saat ini condong mencari motif sasirangan bergambar segitiga dipadu corak tradisional.

Pembeli memilih motif sasirangan di toko Susi Sasirangan.

“Motif itu yang sekarang banyak dicari,” pungkasnya.

Jurnalis: Diananta P. Sumedi / Editor: Satmoko / Foto: Diananta P. Sumedi

Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.