banner lebaran

Perajin Gula Merah Kelimpungan Akibat Harga Anjlok

209
SELASA, 7 FEBRUARI 2017

LAMPUNG — Harga gula merah atau gula kelapa menurun drastis akibat permintaan yang lesu sejak awal tahun di sejumlah tempat sentra pembuatan gula merah atau dikenal dengan gula Jawa. Saat ini, harga gula merah di pasaran hanya mencapai Rp 8.000 hingga Rp 9.000 padahal sebelumnya gula merah mencapai harga dari Rp 12.000 hingga  Rp 13.500.

Yarnida sedang mengolah bahan pembuatan gula merah.

Salah satu pembuat gula merah di antaranya Sarwani (60) dan istrinya Yarnida (50) di Dusun Sibanjar, Desa Ruang Tengah, Kecamatan Penengahan,  menjelaskan, bukan musim hujan yang menyebabkan gula merah turun harga, tetapi permintaan konsumen sedang lesu. Padahal, di tingkat petani, penderes tidak ada penurunan produksi karena banyaknya pohon kelapa di wilayah tersebut.

“Permintaan  gula merah memang lagi lesu, sehingga harganya turun sejak dua bulan  lalu. Kondisi ini juga diperparah dengan kondisi ekonomi yang sedang lesu. Terutama kurangnya permintaan dari pabrik pembuatan kecap,” terang Sarwani, salah satu pembuat gula merah di Dusun Sibanjar, Desa Ruang Tengah, Kecamatan Penengahan, saat ditemui Cendana News, Selasa (7/2/2017).

Menurut Sarwani, setiap hari gula merah yang dibuatnya  stabil, yaitu kisaran 30-50 kilogram per hari dengan teknik pembuatan secara manual mulai dari proses penderesan pada tanaman kelapa hingga proses pengolahan. Sejak musim hujan melanda, kondisi pasokan gula merah diakuinya juga tidak ada penurunan.

“Kalau disebabkan musim hujan, produksi gula merah di tingkat petani menurun. Tetapi sekarang masih stabil dan untuk mendapatkan barang juga tidak sulit,” ujarnya.

Dengan kondisi musim penghujan yang masih berlangsung, ia justru memprediksi harga gula merah  akan kembali naik antara Rp 1.000 sampai Rp 1.500 pada dua minggu ke depan. Sebab, selain proses penderesan yang sulit akibat musim penghujan, kadar air juga berlebih sehingga kualitas gula kelapa yang dihasilkan lebih jelek.

“Seperti tahun-tahun sebelumnya, diprediksi harga akan kembali naik sekitar dua minggu ke depan. Namun kita juga tidak tahu kapan akan naik. Sebab di pasaran kami masih menjual dengan harga yang murah, belum naik,” ungkapnya.

Sarwani yang menyewa lahan kebun kelapa di Dusun Sibanjar mengungkapkan, proses pembuatan gula merah yang ditekuninya selama hampir lima tahun dilakukan berjarak sekitar 200 meter dari rumah yang sekaligus menjadi lokasi pembuatan gula merah. Ia mengaku, setiap hari menderes bunga kelapa yang diambil niranya dan selanjutnya diolah dengan cara dimasak menggunakan kayu bakar.

Setelah proses penderesan dan pengambilan air nira dan diolah menjadi cairan air gula, pencetakan dilakukan dengan proses  menggunakan tabung-tabung bambu. Tugas mencetak dilakukan sang istri hingga proses penjualan yang dilakukan di pasar tradisional Desa Pasuruan. Ia mengaku dari proses penderesan hingga diolah menjadi gula merah, membutuhkan waktu sekitar dua hari.

Salah satu petani penderes lainnya di Sibanjar, Akim mengatakan, sejak musim hujan tidak ada penurunan produksi. Setiap hari, dia bisa memproduksi sekitar 20-30 kilogram gula merah. Namun, sejak tahun baru, harganya turun Rp 500 dan hingga kini belum mengalami kenaikan.

Akim mengungkapkan, untuk proses penderesan, ia mengaku, melakukan sistem kontrak pada kebun milik warga setempat dengan membayar sewa tanaman kelapa milik warga per tahun sebesar Rp 2 juta. Sementara dalam proses pembuatan dikurangi biaya produksi untuk pembelian kayu bakar dan biaya operasional lain,  ia rata-rata mendapat keuntungan sekitar Rp 500 ribu.

“Keuntungan tersebut rata-rata diperoleh saat harga gula mencapai harga Rp 10 ribu per kilogram namun jika harga lebih murah keuntungan lebih sedikit,” ungkap Akim.

Akim dan gula merah olahannya yang siap didinginkan.

Ia berharap, harga gula merah kembali membaik sehingga para perajin gula merah bisa lebih meningkatkan taraf hidupnya. Sebab, sebagian warga Sibanjar berprofesi sebagai pembuat gula merah. Selain banyaknya perkebunan kelapa yang ada di wilayah tersebut, sebagian pemilik kebun kelapa menyewakan pohon kelapa yang jumlahnya ribuan batang untuk digunakan sebagai bahan pembuatan gula kelapa.

Jurnalis: Henk Widi / Editor: Satmoko / Foto: Henk Widi

Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.