Perajin Kasur Kapuk di Lampung, Beromzet Puluhan Juta Rupiah

SELASA, 28 FEBRUARI 2017

LAMPUNG — Kasur atau alas tidur berbahan kapuk, masih diminati masyarakat, meski saat ini alas tidur berbahan matras dan busa sudah mulai umum digunakan. Salah-satu perajin tradisional kasur, bantal dan guling berbahan kapuk di Desa Pasuruan, Kecamatan Penengahan, Ahmad Soleh (38) dan istri, Dewi Sudiro (31), mengatakan, jumlah permintaan kasur berbahan kapuk masing sangat tinggi.

Ahmad Soleh, perajin kasur kapuk

Ahmad Soleh mulai menekuni usaha pembuatan kasur kapuk sejak 1997 di Kabupaten Pati, Jawa Tengah. Ketrampilannya itu didapatkan dari sang ayah, Saji (60), yang mewariskan cara pembuatan kasur kapuk kepada ketiga anaknya, dan salah-satunya Ahamd Soleh, yang kini merantau di Lampung dan menekuni pembuatan kasur, bantal dan guling berbahan kapuk.

Ahmad memulai usaha pembuatan kasur di Desa Palas Bangunan, Kecamatan Palas, sejak 2003 dan kemudian pindah ke Desa Pasuruan di tempat strategis di Jalan Lintas Sumatera KM 68, Desa Pasuruan, Kecamatan Penengahan, yang berada di perlintasan jalan nasional dan penghubung kota-kota di Sumatera. “Saya sudah beberapa kali pindah tempat tinggal, sekaligus mencari lokasi strategis untuk usaha dan mudah memperoleh bahan baku untuk pembuatan kasur kapuk dan perlengkapan tidur lain berbahan baku kapuk, dan kini sudah menetap di Penengahan dan berada di tepi jalan lintas,”ungkap Ahmad, saat ditemui Cendana News di rumahnya yang sekaligus difungsikan sebagai tempat pembuatan berbagai jenis kasur dan bantal berbahan kapuk, Selasa (28/2/2017).

Proses pembuatan kasur, bantal dan guling, diakuinya terbilang sederhana. Bahan baku kapuk yang sudah dipisahkan dari kulit dan sudah kering dimasukkan dalam kain yang sudah disiapkan sebelumnya sesuai ukuran. Ahmad mendatangkan bahan baku kapuk dari sejulmah kecamatan di Lampung Selatan, dan sebagian lagi didatangkan dari Kabupaten Tanggamus, Lampung, dengan harga Rp. 6.000 per kilogram, dengan kondisi masih ada biji dan hati (bonggol kapuk). Sementara untuk kapuk bersih tanpa biji dan hati dibeli seharga Rp 20.000 per kilogram.

Kapuk yang masih ada biji yang dikirim dari wilayah Kecamatan Talangpadang, Kabupaten Tanggamus, bisa mencapai 1 ton untuk kebutuhan 1 bulan, sehingga kebutuhan selama 1 tahun mencapai 12 ton, bahkan bisa mencapai 14 ton per bulan. Menurut Ahmad, pasokan kapuk tersedia banyak pada saat musim kapuk di bulan Oktober-Desember, dan harganya lebih murah. Sementara di luar musimnya, kapuk akan berharga mahal, bahkan bisa mencapai Rp. 8.000 per kilogram.

Ahmad yang akrab disapa Mad Kasur, menjelaskan, dalam proses pembuatannya, penyortiran kapuk dari hati dan biji dikerjakan oleh dua karyawan. Lalu, proses mengisi kapuk ke dalam kain yang sebelumnya telah diukur sesuai kebutuhan, dilakukan olehnya dibantu sang istri. Proses pengisian kasur sepanjang 130 centi meter, membutuhkan waktu sekitar 2 jam, sedangkan untuk ukuran 100 centi meter membutuhkan waktu sekitar 1 jam, dan untuk bantal dan guling  dengan ukuran 44 centi meter dalam sehari bisa mengisi sebanyak 50 buah.

Dalam pemasarannya, Mad Kasur dibantu oleh 4 orang penjual keliling. Selain itu, sebagian hasil produksinya juga dikirimkan ke toko-toko di beberapa kecamatan di Lampung Selatan, dan di rumahnya sendiri.  “Kalau pedagang pengecer keliling sudah siap setiap pagi mengambil barang di sini berupa kasur, bantal dan guling, yang dijual dengan menggunakan sepeda motor dari desa ke desa,” terang Ahmad.

Sejumlah pembeli saat memilih kasur buatan Ahamd Soleh.

Berkait harga jual, Ahmad mengatakan, harga bantal di tingkat pengecer dijual seharga Rp. 27.500 dan dijual pengecer ke konsumen bisa mencapai Rp. 30.000. Sementara untuk guling dijual ke pengecer dengan harga Rp. 30.000 dan dijual ke konsumen dengan harga Rp. 40.000. Produk lain berupa kasur dengan standar ukuran 80, centi meter, 140 centi meter dan panjang 200 centi meter dijual seharga Rp. 200.000 per buah, yang selanjutnya dijual ke konsumen oleh pengecer seharga Rp. 250.000.

Ahmad mengatakan, jumlah perminyaan kasur kapuk terbilang masih cukup tinggi. Rata-rata per hari ia mampu menjual 15 buah, yang dijual oleh penjual keliling dan juga ke toko dengan rata-rata per bulan mencapai 450 buah, sementara bantal biasa dan bantal guling bisa mencapai 900 buah per bulan. Dengan lokasi yang berada di sekitar masyarakat petani, penjualannya pun meningkat di saat para petani sedang panen padi dan coklat, karena biasanya usai panen itu para petani membeli  kasur dan atau bantal.

Meski menekuni usaha pembuatan kasur kapuk tradisional, Ahhmad mengaku bisa menggaji dua karyawan dan juga bisa menghasilkan omzet per bulan hingga Rp 30. Juta. Uang yang diperoleh tersebut selanjutnya digunakan untuk keperluan membeli bahan baku, di antaranya kain untuk proses pengisian yang dibeli dari Kalianda dengan 1 piece/roll (satu lembar) yang bisa dibuat kasur 8 buah kasur dan 90 buah bantal guling.

Meski saat ini banyak pilihan untuk kasur, di antaranya kasur busa atau kasur pabrikan, Ahmad mengaku permintaan kasur kapuk masih tinggi. Bahkan, di kalangan ekonomi menengah ke atas. Ia bahkan mengaku beberapa pembeli yang dari kalangan ekonomi atas banyak yang membeli kasur di tempatnya. Ia pun optimis, kebutuhan akan kasur kapuk masih akan berlangsung, bahkan prinsipnya selama masih banyak orang ingin tidur permintaan akan kasur kapuk masih akan terus terjadi.

Usaha yang ditekuni Ahmad tersebut, juga masih bisa menghasilkan dari bahan sisa pakai, di antaranya dari biji kapuk atau kelenteng yang masih bisa dijual. Ia mengatakan,
biji kapuk bisa digunakan untuk pakan ikan bawal dengan harga per kilogram mencapai Rp. 2.000 per kilogram, dan ia menjual rata-rata 1 ton dengan harga Rp. 2  Juta. Sementara untuk hati atau bonggolnya, masih bisa digunakan menjadi kapuk untuk isian kasur kualitas nomor dua, yang juga bisa dimanfaatkan lagi dan masih bisa dimanfaatkan dengan harga per kilogram Rp. 2.000. “Kita masih manfaatkan bahan yang tak terpakai untuk dijual kembali dan selama proses pemanfaatan kapuk berjalan, barang sisa pakai masih bernilai ekonomis tinggi,” tutup Ahmad.

Jurnalis: Henk Widi/ Editor: Koko Triarko/ Foto: Henk Widi

Lihat juga...