banner lebaran

Perkembangan Mental Terlalu Cepat Timbulkan Keprihatinan Hompimpa

56

MINGGU, 19 FEBRUARI 2017

SEMARANG — Banyaknya gadget yang masuk akibat derasnya arus teknologi seringkali membuat anak merasa menjadi dewasa sebelum waktunya. Hal tersebut membuat komunitas Hompimpa khawatir. Dikarenakan masa kecil adalah saat yang paling tepat untuk bermain dengan sesama sehingga bisa mengenal lingkungan.

Komunitas kampung Hompimpa sedang bermain tali dengan masyarakat

Karena itulah kenapa generasi zaman dahulu sering dianggap sebagai generasi yang peduli dengan orang lain karena mereka benar-benar menikmati masa kecil dengan berkumpul dengan teman-temannya untuk bermain permainan tradisional. Sementara saat ini anak kecil cenderung apatis karena gadget sudah mengisi waktu mereka selama 24 jam.

Beranjak dari keprihatinan mengenai mental anak tersebut, maka komunitas Kampung Hompimpa secara rutin kembali memperkenalkan mainan tradisional kepada khalayak umum. Target mereka selain kepada anak-anak juga kepada orang tua, tentang pengaruh buruk gadget bagi perkembangan mental.

pengurus Komunitas kampung Hompimpa Semarang, Restanti Salihah

Pengurus Komunitas Kampung Hompimpa Semarang, Restanti Salsabilah mengatakan, permainan tradisional yang ‘memaksa’ anak-anak untuk bermain bersama secara tak sadar akan menimbulkan solidaritas kebersamaan, sementara jika anak lebih suka bermain gadget mereka akan lebih individualis dan cenderung kurang pergaulan ketika dewasa.

“Kami hanya ingin agar permainan tradisional tidak hilang tergerus zaman,” terang mahasiswi Unnes semester delapan tersebut.

Dalam komunitas Kampung Hompimpa terdapat bermacam-macam permainan tradisional seperti lompat tali, dakon, engklek, gasing dan semuanya bebas dimainkan, bahkan pengurus akan mengajarkan permainan tersebut jika ada anak kecil yang mau berlatih.

Restanti sendiri secara rutin mempunyai jadwal berkunjung ke panti asuhan dan sekolah, disana mereka mengajak anak-anak untuk bermain bersama. Bersama pengurus komunitas tersebut ia berharap di masa depan generasi anak kecil jangan sampai mendapat stigma sebagai generasi gadget.

“Semoga mereka lebih peka terhadap lingkungan dan orang lain,” tukas Resti saat ditemui CDN (19/02/2017)

salah satu pengurus Komunitas Hompimpa saat berpose dalam acara pengenalan mainan tradisional

Komunitas Kampung Hompimpa Semarang berdiri pada bulan November 2016. Idenya berawal ketika Mahasiswa Surya University, Muhammad Miftah melakukan kunjungan kerja sekolah ke Semarang. Saat kunjungan tersebut Miftah menjelaskan tentang pentingnya permainan tradisional bagi perkembangan anak. Tertarik dengan konsep yang ditawarkan, maka Restanti ingin mendirikan komunitas tersebut di Semarang. Saat ini anggotanya sudah mencapai 30 orang.

“Nama Hompimpa sengaja dipilih karena permainan tradisional sering dimulai dengan melakukan hompimpa untuk mementukan urutan, disitulah kebersamaan mulai dibangun,” tambahnya.

Jurnalis : Khusnul Imanuddin / Redaktur : ME. Bijo Dirajo / Foto : Khusnul Imanuddin

Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.