Pertanian Lahan Basah, Tak Cocok Diterapkan di NTT

142

RABU, 8 FEBRUARI 2017

MAUMERE — Fokus Pemerintah yang menitik-beratkan pada pertanian lahan basah, menuai masalah dan terkesan tidak efektif bila dikembangkan di Kabupaten Sikka maupun wilayah lain di Provinsi Nusa Tenggara Timur pada umumnya. Kontur tanah berbukit dan lahan pertanian dengan kemiringan minimal 30 persen, membuat sebagian besar masyarakat di wilayah ini menjadi petani lahan kering, bukan lahan basah.

Lahan sawah di Desa Nebe yang dialihkan menjadi kebun jagung akibat hasil panen padi yang terus menurun.

 Seorang petani desa Nebe, Kecamatan Talibura, Markus Moro, mengakui, sebagai petani lahan kering, ia hampir tidak pernah mendapat bantuan dari Pemerintah. “Kalau yang masuk kelompok tani dan punya lahan sawah, maka akan dapat bantuan, sementara saya hanya punya kebun yang ditanami kakao dan kelapa saja,” ujar Markus, saat ditemui, pekan kemarin.

Diakui Markus, untuk mendapat bantuan pihaknya disuruh membentuk kelompok. Namun, pertanyaannya apakah anggota kelompok mempunyai lahan sawah? Ini yang menyebabkan kebanyakan petani di desanya yang memiliki tanaman kelapa dan kakao hanya berusaha sendiri saja. “Memang ada bantuan bibit dari Pemerintah, seperti pembagian kakao, tapi kalau sekedar bibit kami juga memiliki. Tanaman kakao kami sudah bertahun-tahun diserang hama busuk buah, namun belum juga bisa diatasi,” tuturnya.

Di Desa Nebe, lanjut Markus, banyak lahan sawah yang tidak produktif dan dialihkan untuk menanam kakao dan kelapa. Padahal, air dari Sungai Nangagete melimpah-ruah dan terbuang percuma. Hasil panen padi terus menurun dan tak ada solusi mengatasinya, baik oleh petani maupun Pemerintah.

Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Holtikultura Dinas Pertanian Kabupaten Sikka, Inoseng Sega.

Direktur Lembaga Swadaya Masyarakat Wahana Tani Mandiri (WTM), Carolus Winfridus Keupung, saat ditemui Cendana News pada Jumat (3/2/2017) di kantornya pun mengatakan hal senada. Dikatakan Win, sapaannya, harusnya perhatian itu secara perlahan dialihkan ke lahan kering, karena di lahan kering itu ada variasi usaha seperti usaha tanaman perdagangan dan juga peternakan, selain tanaman pertanian. “Kita berupaya mendorong Pemerintah untuk mengembangkan usaha tani terpadu, pedampingan secara menyeluruh dan tidak secara spot. Kondisi pertanian kita lebih banyak di daerah miring yang tidak berpotensi untuk lahan basah,” jelasnya.

Hal yang harus diperhatikan, lanjut pendiri WTM ini, adalah mendorong petani agar berdaulat atas pangannnya. Pasalnya, yang terjadi selama ini Pemerintah hanya fokus membangun ketahanan pangan komunitas, bukan ketahanan atau kedaulatan pangan petani secara pribadi. Bukan saja petani di lahan basah, tapi juga petani lahan kering pun masih belum sejahtera. “Kalau masing-masing petani itu mengamankan pangannya dan tidak membeli dari luar, maka kita tidak perlu lagi melakukan pendampingan. Untuk itu, dalam pengelolaan wira usaha tani, dilaksanakan pengelolaan pertanian terpadu,” terangnya.

Menurut alumni Politani Kupang ini, semestinya dikembangkan areal pertanian terpadu. Ada areal pengembangan peternakan, tanaman perdagangan dan ada yang dipakai untuk pengembangan pangan. Petani di Sikka dan NTT, bertani hanya masih sebatas ketahanan pangannya saja, tapi pengembangan ekonominya masih diabaikan. Masih petani hanya bertani untuk sekedar makan dan tidak untuk mendapatkan uang agar bisa hidup lebih baik ke depannya.

“Yang terjadi saat ini, anak petani usai kuliah tidak mau menjadi petani dan hanya berpikir untuk menjual tanah, agar bisa membeli motor untuk bekerja sebagai pengojek,” bebernya, sembari mengimbuhkan, saat ini harus ada dorongan agar orang yakin jika petani juga bisa memiliki penghasilan yang besar, dan ini tergantung kepada motivasi dari diri-sendiri dan bantuan dari luar.

Sementara itu, terkait minimnya perhatian Pemerintah terhadap petani lahan kering, Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Holtikultura Dinas Pertanian Kabupaten Sikka, Inoseng Sega, ditemui Cendana News, Selasa (7/2/2017), pun mengakui hal itu. Dikatakan, Ino sapaannya, untuk lahan kering memang Pemerintah memberikan bantuan bibit jagung dan padi bagi para petani di Sikka. Untuk luas tanaman jagung sebesar 15.130 hektar di 2016, yang sudah ditanam bulan Desember  2016 seluas 12.534 hektar dan sisanya di Januari 2017.

Sementara itu, untuk padi ladang jenis Gogo dari sasaran luas tanam sebesar 12.434 hektar, yang sudah ditanam di Januari 2017 seluas 8.462 hektar, sedangkan sisanya masih melakukan penanaman di Februari  2017. “Memang untuk lahan kering, Pemerintah lebih banyak intervensi pada pembagian bibit unggul bagi para petani, dan ini juga berlaku untuk petani di lahan basah,” pungkasnya.

Jurnalis: Ebed De Rosary/ Editor: Koko Triarko/ Foto: Ebed De Rosary

Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.