banner lebaran

Petani di Lampung Selatan, Keluhkan Keterlambatan Distribusi Pupuk Bersubsidi

80

SENIN, 6 FEBRUARI 2017

LAMPUNG — Mandok (40), mencampurkan pupuk NPK dan Urea yang akan ditebarkannya di lahan seluas setengah hektar di Desa Taman Baru, Kecamatan Penengahan, untuk tanaman padi jenis Ciherang yang ditanamnya. Ia mengaku pupuk tersebut merupakan pupuk bersubsidi yang dibelinya setengah bulan lalu dari pengecer pupuk di wilayah tersebut. Namun akibat lama disimpan, sebagian pupuk yang akan ditebarnya dalam kondisi menggumpal.

Mandok, saat memupuk tanaman padinya.

Mandok merupakan salah-satu petani yang cukup beruntung, karena masih bisa melakukan pemupukan, mengingat sebagian petani lainnya di Desa Pasuruan, Kecamatan Penengahan, Kabupaten Lampung Selatan, dalam sepekan ini kesulitan memperoleh pupuk bersubsidi. Seperti Ahmad (45), petani di Desa Sukabaru. Ia mengaku sudah mendatangi pengecer penjual pupuk di desanya, namun belum ada pasokan, sehingga membuatnya belum bisa memupuk tanaman padinya yang kini telah berumur sekitar 100 hari. Ia mengaku saat ini membutuhkan pupuk bersubsidi jenis Urea dan NPK serta SP-36, namun pengecer mengaku belum memiliki stok.

“Saya sudah datang dua kali, namun memang di gudang yang ada di pengecer belum ada barangnya. Jadi, terpaksa saya pulang dan menunggu saja, dan belum ada kepastian kapan akan datang pupuk di pengecer,”ungkap Ahmad, saat ditemui Cendana News, Senin (6/2/2017).

Ahmad pun  mengaku khawatir dengan belum adanya pupuk di saat padi miliknya memasuki masa pemupukan, akan berimbas pada perkembangan padi yang ditanamnya,  terutama pada masa pemupukan kedua. Selama ini, Ahmad juga mengaku membeli pupuk dengan cara bayar panen kepada pengecer, karena tidak bisa membelinya secara  kontan atau tunai. Sistem bayar panen untuk pupuk bersubsidi yang dibelinya sebanyak 400 kilogram, di antaranya Urea, KCL dan SP-36 dihargai sebesar Rp. 1 Juta. Harga yang lebih tinggi dari harga standar itu, karena ia melakukan pembayaran saat masa panen.

Mandok saat menyiapkan pupuk.

Sementara itu, pasokan pupuk yang terlambat tersebut juga diakui oleh anggota Kelompok Tani (Poktan) Panca Usaha Tani di Desa Pasuruan, Kecamatan Penengahan. Salah-satu anggota Poktan tersebut, Edi (35), mengatakan, telah memesan satu pekan sebelum proses pemupukan dan telah membayar kepada pedagang pengecer pupuk, namun hingga kini pupuk jenis Urea, NPK dan SP-36 belum juga bisa diambilnya. Ia mengaku belum mendapat jawaban pasti terkait kelangkaan pupuk yang saat ini sangat dibutuhkan para petani.

“Kalau mengacu kepada kebutuhan dan daftar, kelompok saya hanya mendapat jatah sekitar lima kuintal, dengan harga yang telah ditetapkan. Namun, kalau pupuknya tidak ada, kami juga bingung,” ungkap Edi.

Menurut Edi, Poktan Panca Usaha Tani yang beranggotakan sekitar 32 orang petani padi sawah membutuhkan pupuk sekitar 5 ton, yang dibagi sesuai kebutuhan lahan dan anggota kelompok. Beberapa petani di antaranya ada yang memiliki lahan tidak terlalu luas, sementara petani lain ada yang memiliki lahan cukup luas. Kebutuhan pupuk bagi kelompok tersebut, sebelumnya telah disusun dalam Rencana Definitif Kelompok Tani (RDK) dan Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok Tani (RDKK) yang merupakan persyaratan untuk bisa mendapatkan pupuk bersubsidi.

Sebelumnya, berdasarkan keterangan Kepala Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan Kabupaten Lampung Selatan, Rini Ariasih, pada 2017 ini Kabupaten Lampung Selatan mendapatkan kuota pupuk bersubsidi dari Kementerian Pertanian (Kementan) untuk jenis Urea sebanyak 35.530 ton, SP-36 sebanyak 7.076 ton, ZA 2.340 ton, NPK sebanyak 21.403 ton. Sementara untuk pupuk organik sebanyak 4.167 ton. Kuota pupuk sebanyak itu diharapkan mampu memenuhi kebutuhan pupuk bagi para kelompok tani yang ada di Kabupaten Lampung Selatan.

Jurnalis: Henk Widi/ Editor: Koko Triarko/ Foto: Henk Widi

Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.