Pilkada 2017 di Flotim, Kaum Difabel Serukan Hapus Diskriminasi

104

KAMIS, 16 FEBRUARI 2017

LARANTUKA — Dalam pesta demokrasi pemilihan Kepala Daerah Serentak 2017 di Flores Timur, kaum difabel begitu antusias hadir memberikan suaranya di Tempat Pemungutan Suara (TPS). Kehadiran kaum difabel dalam pesta demokrasi itu membawa pesan harapan, agar Pemerintah dalam hal ini Bupati Flores Timur terpilih jangan lagi melakukan diskriminasi kepada para penyandang difabel.

Astin saat menanti namanya dipanggil mencoblos di TPS 01 Lamawalang saat Pilkada Flotim 2017.

Demikian kata Maria Katharian Kean Odjan, kerap disapa Astin, saat berbincang dengan Cendana News di sela waktu menunggu namanya dibacakan untuk mencoblos di TPS 01 Lamawalang, Rabu (15/2/2017), kemarin. (Baca: Ini Harapan Kaum Difabel pada Kepala Daerah Terpilih di Flotim)Astin berkisah, ia pernah meminta Pemerintah memberikan bantuan dana pendidikan bagi dirinya yang sedang menempuh kuliah di Universitas Terbuka di Larantuka, namun permintaan tersebut bertepuk sebelah tangan. “Saya selalu minta bantuan biaya pendidikan, tapi Pemerintah Kabupaten Flores Timur tidak pernah merespon permohonan saya,” ujarnya.

Suami dari Yohanes Bo Kerans, sesama kaum difabel ini membeberkan, dalam membiayai kebutuhan sehari-hari pun, keluarga dengan seorang anak perempuan berumur 7 tahun ini hanya mengandalkan pendapatan suaminya sebagai seorang fotografer lepas. “Suami saya hanya seorang fotografer dan penghasilan tetapnya tidak ada, sementara saya juga hanya guru honor di PAUD Lamawalang, dan kami hanya meminta bantuan modal usaha saja,” ungkapnya.

Astin merasa, masih ada diskriminasi, sebab warga masyarakat yang normal pun selalu mendapatkan berbagai fasilitas bantuan dari Pemerintah Pusat dan Pemda Flotim. Ini yang membuatnya dan kaum difabel lainnya sangat berharap, agar diskriminasi itu dihilangkan. “Kami butuh perhatian Pemerintah, mohon perhatian Pemerintah untuk teman-teman semua kaum difabel, sebab suara kami pasti dibutuhkan, tapi jangan hanya saat pemilihan umum saja,” tuturnya.

Masyarakat sendiri, pun sambung ibu dari Yuliana Sineta Manggota Odjan ini, sepertinya juga tidak melibatkan kaum difabel dalam berbagai kegiatan publik. Masyarakat menganggap kaum difabel tidak mampu, padahal sebenarnya kaum difabel juga ingin sesekali dilibatkan dalam berbagai kegiatan publik. “Tetapi, masyarakat masih melihat kami tidak bisa melakukan kerja selayaknya orang normal,” sesalnya.

Perempuan yang sehari-hari mengajar di PAUD Soritobi Lamawalang ini mengaku, gajinya dibiayai dari Dana Desa Lamawaang. Dan, Astin serta sesama kaum difabel lainnya di Flotim, tegas menyerukan agar diskriminasi bisa dihapuskan.

Jurnalis: Ebed De Rosary/ Editor: Koko Triarko/ Foto: Ebed De Rosary

Baca Juga
Lihat juga...