Pokdarwis dan Petani, Turut Menata Lahan Basah di Bakauheni

288

KAMIS, 2 FEBRUARI 2017

LAMPUNG — Penyadaran kepada masyarakat akan pentingnya penataan dan pemanfaatan lahan basah secara berkelanjutan di wilayah Kecamatan Bakauheni, Lampung Selatan, terus dilakukan. Terutama bagi masyarakat yang tinggal di wilayah muara sungai dan pesisir pantai di beberapa dusun nelayan. Beberapa upaya pemanfaatan lahan basah di Bakauheni, bahkan menjadi program jangka panjang.

Rawa-rawa di kawasan pabrik di Bakauheni tetap dipertahankan sebagai lahan persawahan.

Kepala Desa Bakauheni, Sahroni, mengungkapkan, pemanfaatan kawasan lahan basah, terutama kawasan pantai pesisir di Pegantungan yang menghadap Pulau Sindu, meenjadi rencana jangka panjang yang telah dijalankan. Salah-satunya dengan memberi kesadaran kepada masyarakat melalui pembentukan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis), sehingga masyarakat bisa memiliki penghasilan dari jasa wisata tanpa merusak lingkungan.

“Sosialisasi tentang Perdes dan pembentukan Pokdarwis telah dilakukan, dan ini akan menjadi acuan bagi masyarakat agar tidak berniat merusak lingkungan pesisir, melainkan justru menjaga, karena akan menarik wisatawan dan menjadi sumber peningkatan ekonomi,” ungkap Sahroni.

Penataan hutan mangrove telah dilakukan dengan pengeloaan yang baik, dan akan dibuat jembatan-jembatan atau tempat berjalan dari kayu yang bisa dimanfaatkan wisatawan untuk menikmati kawasan tersebut, juga dengan susur sungai menggunakan perahu. Beberapa penataan di Pulau Sindu juga tengah dilakukan untuk menarik wisatawan, agar bisa menjadi salah-satu destinasi wisata menarik, termasuk wisata bawah air dengan menyelam (diving) dan penyelaman permukaan (snorkeling).

Bentang alam yang berbeda tersebut, bahkan juga dimanfaatkan secara berbeda pula oleh masyarakat. Di antaranya, di kawasan sepanjang Dusun Muara Bakau yang masih memiliki lahan rawa-rawa dan kerap banjir pada saat curah hujan tinggi, dimanfaatkan warga untuk bercocok-tanam jenis padi, tanggul-tanggul lebar untuk menanam palawija serta tanaman lain dan sebagian lahan tergenang yang masih memiliki pasokan air saat musim kemarau, pun dimanfaatkan untuk pembuatan keramba serta membuat kolam.
Baca:
Pemanfaatan Lahan Basah di Bakauheni Berdampak Ekonomi Bagi Warga
Salah-satu warga yang memanfaatkan lahan rawa-rawa adalah Yanto (45). Ia mengaku mengelola tanah milik perusahaan besar di wilayah tersebut. Menurutnya, wilayah yang berada di cekungan tepat di bawah perbukitan, namun langsung menghadap ke Selat Sunda itu, memiliki pasokan air yang melimpah, bahkan terkadang berlebih saat musim penghujan, sehingga tanaman padi terendam banjir dan harus dilakukan pemanenan menggunakan perahu terbuat dari batang pisang.

“Sebetulnya sudah cukup lumayan saat ini. Sebelumnya, kawasan ini sama sekali tidak bisa dimanfaatkan untuk menanam padi, karena selalu tergenang air. Tapi, sekarang mulai dibuat tanggul, saluran-saluran air, sehingga jadilah area persawahan yang bisa dimanfaatkan dan menghasilkan,” ungkap Yanto, saat ditemui tengah menanam pisang Raja Nangka di tanggul sawah di rawa-rawa tersebut.

Yanto, petani penggarap lahan di Muara Bakau, bertahan di tengah massifnya perkembanngan pesisir pantai.

Saat kemarau dengan sumber air yang dibangun pada rawa tersebut tanpa harus melakukan pengeboran atau menggali sumur cukup dalam, bahkan hanya sedalam dua meter, Yanto dan keluarganya yang menjadi penggarap sekaligus pengelola lahan sawah tersebut, etap bisa menikmati pasokan air bersih melalui ‘belik’ atau tempat sumber air yang dibangun di sekitar sawah.

Areal persawahan yang terkepung atau berada dekat dengan lokasi industri pembuatan pipa baja, di antaranya PT Siapi, Dermaga Pelabuhan milik PT Bandar Bakau Jaya (BBJ) hingga kini juga tetap dipertahankan. Yanto mengungkapkan, selama masih bisa dimanfaatkan tanpa mendirikan bangunan permanen di wilayah tersebut, beberapa penggarap masih boleh memanfaaatkan lahan rawa-rawa untuk aktivitas menanam sayuran seperti jenis genjer dan kangkung pada tanggul-tanggul tanaman palawija.

Menurut Yanto, luas wilayah lahan basah yang nyaris semula tak dimanfaatkan untuk lahan pertanian tersebut, kini terlihat menghijau, meski sudah terkepung dengan banyaknya pembangunan industri skala besar, dan yang sebagian akan menggusur lahan persawahan karena telah membelinya untuk digunakan sebagai pengembangan pelabuhan dan industri dengan proses reklamasi dan penimbunan. “Harapan kami, kawasan ini tidak ditimbun untuk menjadi kawasan industri. Jika ditimbun akan menyebabkan banjir, karena kawasan ini masih tetap berfungsi sebagai kawasan resapan,” ungkapnya.

Proses penimbunan serta hilangnya drainase di kawasan depan PT BBJ tersebut pernah mendapat peninjauan dari Kepala Desa Bakauheni. Sebab, sebagian kawasan yang mengalami penimbunan dan tidak memiliki daerah resapan berimbas terjadinya banjir. Bahkan, banjir yang terjadi pernah mengakibatkan air sungai meluap ke jalanan dan mengakibatkan kemacetan lalu-lintas. Persoalan tersebut masih terus dicarikan solusi termasuk penggantian saluran air, namun karena lokasi jalan yang merupakan jalan nasional, membuat pihak desa belum bisa berbuat banyak, dan harus menunggu langkah konkrit dari Pemerintah Pusat, terkait penanganan di Jalan Lintas Pantai Timur yang kerap banjir tersebut.

Jurnalis: Henk Widi/ Editor: Koko Triarko/ Foto: Henk Widi

Baca Juga
Lihat juga...