Politik Menyenangkan Ala Hip-Hop Colony Semarang

281
SELASA 14 FEBRUARI 2017
SEMARANG—Politik tidak harus diwarnai dengan mencela, merendahkan dan meninstakan. Demikian solusi yang ditawarkan  Hip Hop Colony dari Jawa Tengah  memberikan solusi fenomena ini  menjelang pilkada ini. 
Founder Hip-Hop Colony, Henrikus sedang mempertunjukkan keahliannya melakukan Disc Jockey.
Di tangan komunitas hip hop  ini saling menyindir dan mencibir merupakan bentuk ekspresi personal untuk menunjukan kemampuannya. Tema yang diangkat merupakan bagian dari kritik sosial terhadap permasalahan yang terjadi dalam masyarakat. Konstelasi politik, kemiskinan yang menyeruak, lemahnya penegakan hukum, ketimpangan ekonomi bisa diberi ritme yang manis untuk dijadikan lagu.
Menurut  Henrikus Setya, pendiri Hip-Hop Colony  agar tidak terjadi kisruh yang bisa mengganggu Kebhinekaan, pihak-pihak yang saling menista memakai ritme rap beef Hip-Hop, sebuah reaksi ketidaksukaan pada sesuatu yang diungkapkan lewat lagu. 
“Justru karena ritme rap beef yang membuat budaya Hip-Hop bisa menyebar ke seluruh dunia,”kata Henrikus kepada Cendana News beberapa waktu lalu. 
Hip-Hop Colony merupakan sebuah komunitas para mahasiswa pecinta Hip-Hop yang berdiri pada bulan Maret 2010 di Kota Purwokerto, dalam komunitas tersebut berkumpul anak-anak muda yang punya berbagai macam talenta seperti Rap, Disc Jockey, Graffiti dan Break Dance. Selain sebagai founder, Henrikus juga tergabung dalam Last Scientist, bagian dari kelompok Rap Crew Hip-Hop Colony.
Seperti yang terjadi pada Rapper Iwa-K, saat disinggung Young Lex bahwa popularitas yang didapat hanya karena pandai memanfaatkan momentum saja. Pria yang mempopulerkan lagu bebas ini menanggapinya dengan santai, ia ingin menyelesaikan masalah tersebut secara personal, tidak perlu melaporkan ke pihak berwajib. 
Masalah tersebut malah berimbas positif dengan banyaknya rapper-rapper baru bermunculan. Berbeda dengan politik di Indonesia, ketika merasa direndahkan, mereka akan melakukan pengerahan masa untuk menunjukkan kekuatan sampai dengan melapor kepada pihak berwajib dengan tema penistaan hasil pasal karet perundang-undangan.
“Bagi yang ingin legalitas penistaan, sebaiknya masuk dalam dunia Hip-Hop agar tidak terlalu sensitif menanggapi isu antar golongan,” terang pria yang juga aktif di komunitas sekolah rakyat Bhineka Ceria ini.
Lebih lanjut Henrikus menambahkan tradisi Hip-Hop sangat tepat jika diterapkan kepada seseorang yang berwatak ceplas-ceplos seperti Ahok. ketika dianggap melakukan penistaan agama karena salah memepersepsikan makna ayat di kepulauan seribu, Ahok sebaiknya sedikit belajar tentang cara menyusun rima agar tidak salah berucap. Karena penyusunan rima adalah salah satu seni Hip-Hop untuk menyerang tanpa dianggap menistakan pihak lain.
“Hip-Hop juga merupakan bagian dari menanggapi tradisi saling menistakan tetapi tidak se-alay fenomena hari ini,”tambah Henrikus.
Selain pendiri Hip Hop Colony, Henrikus juga tercatat sebagai Founder Guerrilla Republik Indonesia (GRI) yang mulai berdiri tahun 2013. GRI sendiri merupakan bagian dari organisasi Guerrilla Republik International, sebuah komunitas Hip-Hop dunia yang berdiri sejak tahun 1794. Dengan beranggotakan komunitas Hip-Hop dari 23 negara, Guerilla Republik International membawa misi semangat perjuangan revolusioner melawan imperialisme, perjuangan rasial dan perbudakan melalui Hip-Hop sebagai media diplomasi.
Last Scientist juga sering diundang ke berbagai event sosial di berbagai kota, salah satunya adalah konser akbar Papua Untuk Kita pada tahun 2015 di Taman Ismail Marzuki, Jakarta. dalam Konser tersebut para musisi secara serentak menyuarakan suara perdamaian bahwa Papua adalah bagian dari Indonesia. 
Saat ini, Henrikus bersama rapper lainnya se-Indonesia sedang mengerjakan Mix Tape Remix Sylado dan the Drunken Beat, kompilasi album Hip-Hop yang dinyanyikan oleh rapper dari seluruh Indonesia dengan mengangkat tema masalah sosial, untuk proses penggarapan instrumentnya sendiri dipercayakan kepada Senartogok, pendiri Perpustakaan Jalanan Kota Bandung.
Ketika ditanya tentang obsesi Hip-Hop Colony ke depan, Henrikus mengaku tidak terobsesi dengan apapun karena tujuannya bukan untuk menjadi selebriti. Bagi mereka, Musik adalah alat untuk mengasah kepekaan dan refleksi terhadap kondisi sosial yang ada.
      
“Ada yang perlu disuarakan ya suarakan, thats it,”imbuhnya mengakhiri wawancara. 
 Henrikus (duduk kedua dari kiri) dan Senartogok (berdiri kedua dari kanan) saat penggarapan album mix tape.
Jurnalis: Khusnul Imanuddin/Editor: Irvan Sjafari/Foto: Khusnul Imanuddin
                 
Baca Juga
Lihat juga...