Pomia, Pondok Mie Lintas Generasi di Kalianda

443

SABTU, 4 FEBRUARI 2017

LAMPUNG — Mie dengan berbagai kekhasan setiap daerah menjadi kuliner yang disukai berbagai kalangan dan usia. Sajian terbuat dari tepung yang diolah sedemikian rupa dan menghasilkan berbahkan olahan berbeda diantaranya mie ayam, mie rebus, mie goreng atau jenis olahan lain. 

Mie Goreng Pomia buatan Rudi siap disantap setelah disajikan lengkap dengan topping suwiran daging ayam, bakso dan kerupuk serta sayuran

Salah satu warung di kota Kalianda, Lampung Selatan yang cukup dikenal masyarakat sejak lama adalah warung mie Pomia. Warung sederhana ini terletak di Jalan Kusuma Bangsa yang selanjutnya berujung di Jalan Veteran menuju ke pasar bawah Kalianda menuju Dermaga Bom Kalianda Lampung Selatan.

Diapit beberapa bangunan lama dan beberapa bangunan yang dihuni oleh etnis keturunan Tionghioa, warung ini terlihat cukup sederhana dengan spanduk warna hijau bertuliskan putih dengan nama “Pomia” atau Pondok Mie Ayam Kalianda.

Cendana News yang sejak belasan tahun kerap diajak ke pasar dan menikmati berbagai jenis mie berkesempatan menikmati mie di tempat ini untuk kesekian kalinya. Warung yang sederhana, harga yang bersahabat, suasana yang santai, rasa yang sederhana namun tetap nikmat.

Sang pemilik, Rudi (58) bersama sang isteri Mimi (51) menjalankan usaha berjualan berbagai sajian kuliner tersebut sebagai generasi kedua setelah sang ayah telah pensiun dan mewariskan usaha kepadanya.

Meski generasi kedua, kemampuannya tidak kalah, dengan cekatan Rudi langsung menyiapkan bahan bahan untuk pembuatan mie serta racikan bumbu bumbu yang telah disiapkan. Selama proses pembuatan ia bahkan menggunakan dua buah kompor gas satu digunakan untuk perebusan mie serta satu digunakan untuk proses pematangan bumbu sekaligus untuk membuat mie goreng.

Tangan cekatan Rudi mengolah mie yang semula mentah menjadi mie yang direbus selanjutnya digoreng untuk memenuhi permintaan pelanggan. Sebagian pemesan diantaranya telah memesan kwetiau, mie ayam untuk disantap di warung dan sebagian dibungkus.

Rudi menyiapkan sajian mie goreng bagi pelanggan

Kecekatan Rudi melayani beberapa pembeli tersebut bahkan diperlihatkan dengan menyalakan tiga kompor sekaligus untuk pembuatan jenis pesanan berbeda di waktu yang sama diantaranya mie ayam, mie goreng dan kwetiau.

Sembari menyiapkan pesanan, Rudi mengisahkan, awalnya sang ayah berjualan makanan berupa mie dan sejenisnya tepat di depan warung yang ditempatinya sekarang dengan menggunakan gerobak. Warung ini disewa saat generasi kedua. Pomia (pondok mie ayam)” merupakan pondok mie ayam paling lama di kota Kalianda, jauh sebelum usaha usaha kuliner dengan berbagai konsep diantaranya cafe, restoran berkembang di daerah setempat.

Sebagai sebuah warung dengan ciri khas mie, Pomia menyediakan berbagai jenis menu diantaranya mie ayam, mie ayam bakso, bihun ayam, kwetiau ayam, mie goreng istimewa, mie goreng biasa, bihun goreng, kwetiau goreng, bihun ayam serta beberapa menu lainnya seperti nasi goreng, pletekan hingga sate ayam.

Rudi bahkan mengungkapkan Pomia menjadi warung makan dengan menyediakan sajian khas diantaranya Kwetiau, mie ayam, mie goreng, bihun goreng sejak sang ayah masih melakukan aktifitas berjualan sejak tahun 1979 dan menjadi rujukan bagi para pelanggan yang melakukan aktifitas di pasar lama Kalianda.

Rumah yang berada di tempat sang ayah berjualan pada tahun tersebut bahkan hingga kini terlihat sebagai rumah kuno dan bahkan terkesan rumah tua yang masih dipertahankan oleh sang pemilik sebagai saksi bisu sang ayahnya menekuni dunia kuliner yang kini diwariskannya.

“Kalau pasar lama sudah tidak ada karena sudah pindah ke pasar inpres yang baru tapi beberapa pelanggan setia hingga generasi selanjutnya masih tetap setia membeli makanan di sini, karena mereka mengaku rasanya tetap sama seperti saat ayah saya masih berjualan,”ungkap Rudi yang berbincang dengan Cendana News sembari menyiapkan mie yang akan dibuatnya menjadi mie goreng.

Mie buatan sendiri yang disiapkan di lemari pendingin dan menjadi ciri khas warung Pomia yang menyajikan berbagai jenis mie

Ia mengakui secara konsep kuliner, jenis jenis mie rata rata memiliki bahan yang sama hanya saja memiliki berbagai jenis penyebutan sesuai dengan kearifan lokal daerah masing masing. Ia bahkan mengaku dengan adanya permintaan tambahan beberapa bumbu, topping (taburan atas) pada menu yang sudah dibuat diantaranya pada mie dengan taburan atau campuran bakso, brokoli, udang serta kerang mie yang dibuatnya bisa disebut dengan hidangan mie ala seafood karena menggunakan bahan bahan dari laut. Namun karena kota Kalianda dekat dengan pesisir pantai hidangan Seafood justru kurang diminati karena masyarakat sudah cukup banyak mengkonsumi ikan segar.

Rudi yang sudah sejak usia muda membantu sang ayah berjualan mie tersebut mulai menyajikan mie buatannya dalam piring berwarna hijau. Mie yang dimasak dengan direbus untuk mematangkan mie lalu digoreng tersebut tak lupa menyertakan bumbu, sayuran berupa sawi, baru dihidangkan dengan diberi suwiran daging ayam serta bakso goreng yang telah dipersiapkan sebelumnya dilengkapi dengan sayuran sawi hijau dan kerupuk, sementara sambal serta acar disertakan terpisah di meja menyesuaikan selera pelanggan.

Bagi yang menyukai bagian daging ayam berupa jeroan atau hati taburan tersebut juga disertakan sehingga meski sederhana, tampilan ditabah cita rasa khas yang sederhana membuat pelanggan tetap rindu untuk datang kembali di warung Pomia.

Khusus untuk kuliner mie atau bamkie goreng yang dibuatnya, Rudi mengaku disediakan khusus buatan sendiri yang disiapkan di lemari pendingin. Mie tersebut dibuat dengan penggilingan manual persis sama dengan mie yang juga digunakan untuk pembuatan mie ayam. Penggunaan mie yang dibuat secara khusus tersebut diakui disukai oleh para pelanggan dibanding buatan pabrik.

Ia mengaku mie yang telah dibuat digulung dalam porsi porsi tertentu dan disimpan dalam nampan dengan ditutupi plastik untuk mempertahankan cita rasa. Tutup plastik baru akan dibuka saat mie yang dibutuhkan akan dipergunakan untuk pembuatan mie goreng atau  mie ayam. Tekstur yang kenyal dan memiliki rasa yang gurih menjadi pilihan sehingga ia bersama sang isteri membuat mie tersebut secara manual dengan tepung khusus.

Sajian yang telah dibuatnya akhirnya disantap oleh Cendana News dengan porsi sendiri yang tak terlalu banyak, dengan cita rasa mie goreng ala warung Pomia yang khas mie goreng istimewa dengan campuran bakso dan suwiran ayam goreng.

Bangunan tua saksi bisu kehadiran warung Pomia di Jalan Kusuma Bangsa Kalianda yang sudah lama ada

Meski usaha kuliner menjamur di kota Kalianda, Rudi mengaku tak pernah khawatir akan persaingan dunia kuliner. Bahkan ia mengaku berdasarkan pengalaman dan cerita para pelanggannya yang datang kembali untuk memesan berbagai menu diantaranya kwetiau serta sajian lain, rasa dan racikan bumbu berbagai menu yang dibuat oleh Rudi tak jauh berbeda rasanya dengan sang ayah yang sebelumnya memulai usaha kuliner tersebut. Ia mengaku benar kata pameo “rasa tak bisa dibohongi” sebab bagaimanapun juga setiap orang yang datang pasti pernah merasakan menu yang sama di tempat yang lain dan bisa membandingkan rasa menu sajian kuliner yang dibuatnya.

“Pelanggan saya kan tidak hanya dari kota Kalianda bahkan dari Kecamatan Bakauheni, Kecamatan Penengahan hingga beberapa kecamatan dan sebagian besar mengaku kembali ke sini karena sejak dahulu makan di sini,”ungkap Rudi.

Ia bahkan menemukan beberapa pelannggan merupakan generasi kedua persis seperti dirinya yang mewariskan keahlian kuliner dari sang ayah. Generasi kedua yang dimaksud Rudi diantaranya saat pelanggan datang kesekian kalinya merupakan pelanggan yang masa kecilnya kerap diajak orantuanya makan mie ayam serta sajian lain di warung Pomia dan kini mengajak serta anak anaknya. Sebagai bentuk promosi diakuinya rasa yang dicecap lidah pelanggan akan disampaikan kepada kawan kawannya untuk menikmati sajian kuliner yang ada di warung sederhana miliknya.

Soal tipikal rasa yang tak pernah berubah selama dua generasi tersebut juga dibenarkan oleh salah satu pelanggan warung Pomia. Lelaki yang terlihat sudah cukup berumur yang mengajak sang rekan untuk reuni sekaligus mengenang masa muda diantaranya Doni (60) dan Ahmad (59) mengaku keduanya merupakan warga Jalan Veteran Kalianda yang sejak masih bujang kerap makan di warung Pomia. Doni mengaku mengenang kerap makan di warung pomia sejak dirinya masih bujang pada tahun 1979 sebab ia mengaku sering mengajak sang isteri yang kala itu masih menjadi pacarnya makan di warung makan yang dikelola oleh pemilik sebelumnya yang merupakan ayah Rudi.

“Saya kala itu masih bujang kerap mengajak pacar yang sampai sekarang menjadi isteri saya makan di warung tenda saat itu masih ayah pak Rudi yang berdagang di seberang jalan ini belum memiliki warung menetap seperti sekarang,”kenang Doni yang bersama kawan menyantap mie ayam.

Ia mengaku berbeda dengan sang isteri, sejak bujang ia mengaku menyukai mie ayam bahkan hingga kini memiliki anak anak dan cucu. Sementara itu saat sudah menikah pada tahun 1980 hingga kini sang isteri yang memiliki selera yang berbeda dengan menu mie goreng dan kwetiau kerap minta dibungkuskan untuk dimakan di rumah. Hingga Doni bekerja di Teluk Betung yang memaksanya meninggalkan Kalianda untuk bekerja, ia mengaku salah satu tujuan kuliner yang menjadi jujukannya justru warung Pomia meski di Kalianda sudah menjamur tempat makan.

“Kalau saya punya prinsip makan itu menikmati makanan bukan suasana, kalau suasana atau tempatnya bagus tapi rasanya biasa buat saya itu tidak istimewa, tapi di Pomia biarpun saya kerja jauh tapi setiap pulang selalu makan di sini, kangen dengan mie ayamnya,”ungkap Doni.

Doni pelanggan setia yang sejak bujang berlangganan mie ayam di warung Pomia Kalianda

Doni yang sesekali menyantap mie goreng bersama isterinya di warung Pomia maengaku mie yang dibuat oleh sang pemilik warung membuat cita rasa yang dihidangkan lebih terasa di lidah ditambah dengan sajian pelezat lain dan taburan suiran ayam kampung, potongan bakso dan juga taburan bawang merah goreng. Sementara itu khusus untuk mie ayam ia mengaku dengan disediakannya bubuk lada menjadi penambah cita rasa pedas menggantikan cabai ditambah sayuran sawi yang selalu menyertai.

Memanjakan lidah dengan kegurihan rasa mie ayam atau mie goreng yang ditawarkan warung Pomia pun tak perlu merogoh kocek terlalu dalam bagi para pelanggan. Sebab dengan harga mulai dari Rp12.000,- untuk satu porsi mie ayam, kwetiau ayam, serta beberapa menu lain seperti bihun goreng, mie goreng spesial ditawarkan dengan harga bersahabat maksimal hingga Rp15.000,- perporsinya. Harga yang cukup bersahabat sesuai dengan rasa yang mampu menggoyangkan lidah dan merindu pelanggannya untuk kembali ke warung pomia, sendiri, bersama sahabat atau keluarga di akhir pekan saat warung Pomia buka dari jam 09:00 WIB hingga pukul 23:00 WIB setiap harinya.

Jurnalis : Henk Widi / Redaktur : ME. Bijo Dirajo / Foto : Henk Widi

Baca Juga
Lihat juga...