Populasi Hewan Endemik Anoa Sulit Ditemukan di Sulut

276

JUMAT, 10 FEBRUARI 2017

MANADO — Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sulawesi Utara (Sulut), meyebutkan, hewan endemik anoa Sulawesi kini habitatnya sudah terancam punah sehingga sangat sulit ditemukan lagi di Sulut.

 Tim ABC BP2LHK-BKSDA, Tim Tasikoki, dan Tim PT Cargil Indonesia Sulut.

Kepala BKSDA Sulut, Agustinus Rantelembang, mengungkapkan, populasi hewan anoa Sulawesi kini diperkirakan tinggal mencapai 2500-5000 ekor. Namun untuk akurasinya hal itu masih harus dilakukan penelitian dan survei kembali di lapangan, terutama di kawasan konservasi yang ada di wilayah Sulawesi.

Rantelembang mengatakan, untuk di Sulut saja, anoa Sulawesi sudah jarang dijumpai oleh petugas di lapangan terutama pada kawasan konservasi. Kalaupun ada itu berasal dari masyarakat.

“Anoa Sulawesi yang ada di Balai Penelitian dan Pengembangan Lingkungan Hidup dan Kehutanan (BP2LHK), semuanya berasal dari sumbangan masyarakat yang diserahkan kepada BKSDA. Itu pun saat ini tinggal 8 ekor, termasuk anak anoa yang baru lahir. Oleh karena itu, hewan endemik ini harus kita jaga populasinya dan dikembangbiakkan agar tetap terjaga dengan baik,” tegasnya.

Menurut Rantelembang, pihaknya bersyukur di BP2LHK sudah ada tim dari Anoa Breeding Center (ABC) yang dibentuk sehingga bisa merawat dan melestarikan hewan anoa ini agar anoa Sulawesi tetap bisa dipertahankan hidup di alam.

“Kalau di kawasan konservasi sudah terdegradasi, maka satwa yang ada di situ juga akan terancam. Namun jika di kawasan konservasi itu terjaga dengan baik, maka di situ akan banyak ditemukan satwa endemik yang harus dijaga populasinya”, kata Rantelembang, Jumat (10/2/2017).

  Anoa di lokasi ABC BP2LHK Manado.

Rantelembang menambahkan, kalau ada masyarakat yang memelihara anoa agar segera diserahkan kepada petugas karena kalau dipelihara apalagi dikonsumsi akan melanggar undang-undang sehingga bisa dipidanakan. Tapi, kalau Anoa itu diserahkan dengan baik, maka masyarakat bisa terhindar dari ancaman hukum.

Jurnalis: Ishak Kusrant / Editor: Satmoko / Foto: Ishak Kusrant

Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.