Ragam Kuliner Pangsit Mie dan Mie Ayam di Malang

1.116

MINGGU, 5 FEBRUARI 2017

MALANG — Berbicara mengenai kuliner, tidak salah jika Malang dijadikan sebagai salah satu pusat kuliner di Jawa Timur. Karena di daerah yang dikenal dengan udaranya yang sejuk ini memiliki aneka macam panganan yang siap menggoyang lidah para penikmatnya. Kali ini, Cendana News akan mengulas salah satu kuliner berbahan dasar tepung yang cukup mudah di temui di berbagai tempat di Malang yakni Pangsit mie dan Mie ayam.

Pangsit Mie Tan

Pangsit Mie “Tan”

Meskipun sudah banyak menjamur penjual pangsit mie didaerah Malang, namun ada salah satu pangsit mie yang cukup terkenal dan memiliki banyak penggemar karena cita rasanya yang khas.

Berlokasi di jalan Jaksa Agung Suprapto II terdapat sebuah warung berukuran tidak terlalu besar dengan papan nama bertuliskan Pangsit Mie “Tan” di depannya. Jika dilihat dari kondisi warungnya bisa dibilang sangat sederhana jika dibandingkan dengan warung pangsit mie  pada umumnya.

Di dalam warung pangsit mie Tan hanya disediakan lima meja kecil dan delapan kursi plastik serta sebuah etalase atau gerobak berbahan alumunium tempat sang penjual meracik pangsit mienya. Untuk peracikan tidak butuh waktu lama, satu mangkok pangsit mie Tan langsung datang dan tersaji bersamaan dengan acar timun serta semangkok kuah.

Sebelum mencoba pangsit mienya, terlebih dulu disarankan mencicipi semangkok kuah yang di dalamnya terdapat sayap atau tetelan tulang ayam disertai taburan daun bawang berwarna hijau di atasnya.

Saat sesendok kuah sampai di lidah, seketika itu juga rasa gurih khas rebusan dari kaldu ayam langsung menyeruak di seluruh bagian lidah. Ditambah lagi hadirnya potongan sayap ayam di dalamnya semakin menambah kenikmatan dari kuah pangsit tersebut. Namun itu baru kenikmatan yang didapat dari kuahnya saja, belum mencoba pangsit mienya.

Dengan taburan bawang goreng dan juga daun bawang serta tambahan kripik pangsit diatasnya sudah cukup membangkitkan selera untuk segera menyantap pangsit mie Tan. Saat mulai mengunyah panganan berbahan dasar tepung tersebut, kelembutan mie Tan benar-benar bisa langsung dirasakan.

Komposi perpaduan bumbum yang tepat dari resep keluarga Tan mampu menghadirkan rasa khas yang tidak dimiliki pangsi mie di tempat lainnya. Apalagi setelah dicampur dengan gurihnya kuah kaldu ayam, seakan menambah cita rasa dari pangsit mie Tan.

Tidak hanya itu, acar timun yang disajikan bersamaan dengan pangsit mie tidak hanya sebagai pelengkap tetapi juga dapat memberikan sensasi rasa segar sehingga tidak salah jika banyak yang memfaforitkannya. Untuk bisa menikmati semangkok kelezatan  Pangsit mie Tan pembeli cukup merogoh kocek Rp.14.000,- per porsi.

Diantoro sedang meracik pangsit mie Tan

Pantauan Cendana News, tangan si pemilik warung nampak tidak pernah berhenti mencampurkan berbagai bumbu kedalam racikan mienya untuk memenuhi permintaan pembeli. Si pemilik warung terus-menerus meracik dan membungkus pangsit mienya dengan menggunakan kertas bungkus berwarna coklat.

Tidak berselang lama, datang seorang pembeli yang menanyakan “apa pesanan lima bungkus pangsit mie saya sudah selesai?”, sang penjualpun menjawab dengan sabar “iya sebentar lagi selesai”.

Usai melayani pesanan orang tersebut, tangan si penjual tetap saja terus meracik pangsit mienya, dan tidak lama kemudian datang pembeli lainnya yang juga menanyakan pesanan mienya. Hal tersebut terus berulang dengan jumlah pesanan mie yang bervariasi.

Penasaran dengan hal tersebut, akhirnya Cendana News langsung menanyakannya kepada Diantoro (51) sang pemilik warung pangsit mie Tan. Menurutnya selain pembeli yang datang dan langsung makan di warungnya tersebut jumlahnya memang sedikit.

“Kebanyakan pembeli memesan pangsit lewat telepon untuk kemudian dibawa pulang,” jelasnya.

Diantoro menceritakan, usaha pangsit mie Tan merupakan usaha keluarga milik mertuanya bernama Tan Ay Niang yang sudah berjalan kurang lebih 40 tahun. Namun saat ini usaha tersebut hanya dijalankan oleh generasi kedua yakni Diantoro sebagai menantu bersama istrinya yang tidak lain adalah anak dari Tan Ay Niang.

Sebelum menempati rumah yang berada di jalan Jaksa Agung Suprapto II, usaha pangsit mie Tan sempat berpindah-pindah tempat di antaranya di daerah Bandulan, kemudian pindah ke Jalan Ngantang dan terakhir yakni di alamatnya yang ditempati sekarang.

Selain menjual pangsit mie yang sudah matang, di warung tersebut juga menjual pangsit mie yang masih mentah bersama dengan bumbu racikan Diantoro. Dan ternyata pangsit yang masih mentah inilah yang justru paling banyak dipesan oleh pelanggan setianya. Mereka yang membeli mie mentah biasanya untuk dibawa keluar kota atau bahkan keluar negeri.

Mie Ayam Pak Doel

Bowo meracik mie ayam pak Doel

Sama halnya seperti pangsit mie Tan, mia ayam pak Doel kini dipegang oleh generasi kedua yakni Bowo (42) bersama dengan istri. Berawal dari hanya berjualan keliling dari satu tempat ke tempat yang lain, mie ayam pak Doel kini justru memilik dua tempat berjualan, di Jalan Semanggi dan di Rumah toko (Ruko) Jalan Dewandaru, Kota Malang.

“Nama Doel sebenarnya adalah hanya nama panggilan dari ayah saya yang memiliki nama asli Karsidi,” jelas Bowo saat di temui Cendana News di ruko jalan Dewandaru.

Menurut Bowo, usaha mie ayam sudah mulai dirintis oleh ayahnya sejak delapan tahun yang lalu dengan cara berkeliling dari satu tempat ke tempat yang lain. Selain  berjualan keliling, pak Doel juga sering makngkal di depan-depan ruko. Dari situlah kemudian ada orang menawarkan tempat di daerah Semanggi yang kemudian ia sewa.

“Sejak menempati tempat di Semanggi itu, usaha mie ayam ini mulai saya pegang. Setelah beberapa tahun berjalan dan usaha mie ayam pak Doel ternyata berkembang, akhirnya saya beli tempat lagi untuk berjualan yakni di Ruko di jalan Dewandaru,” kisahnya. Dan saat ini pak Doel sendiri sudah pensiun tidak berjualan lagi dan tinggal di tempat asalnya di Solo.

Lokasinya yang strategis dan berada tidak jauh dari dua kampus ternama di Malang yakni Universitas Brawijaya dan Politeknik Negeri Malang, membuat peminat mie ayam pak Doel di dominasi oleh mahasiswa dan anak sekolah.

“Kalau bukan waktu libur mahasiswa, dalam sehari bisa menjual hingga 400-500 porsi. Itu hanya yang di Ruko Dewandaru saja, belum termasuk yang di jalan Semanggi. Tapi kalau sepi ya hanya 200 porsi,” terangnya.

Diakui Bowo, bahwa konsumennya memang  di dominasi oleh mahasiswa dan anak sekolah. Selain karena letaknya yang tidak jauh dari kampus, harga yang ditawarkan juga terbilang murah meriah hanya Rp. 6.500,- per porsi mie ayam biasa dan Rp.10.500,- untuk mie ayam bakso.

Usai sejenak bercengkrama dengan pak Bowo, tak sabar ingin segera menikmati kelezatan miae ayam pak Doel, Cendana News pun akhirnya memesan satu porsi mie ayam. Tak butuh waktu lama, dalam sekejap mie ayam pak Doel sudah tersaji di meja.

Sesuai dengan namanya, diatas mie sudah terlihat tumpukan daging ayam berwarna coklat yang di potong kecil-kecil bersamaan taburan bawang goreng. Saat mulai mencicipi satu sendok mie ayam, rasa gurih bercampur manis yang berasal dari taburan potongan ayam kecap langsung terasa hingga membuat lidah terus bergoyang. Ditambah lagi tekstur kenyal mie ayam khas Solo mampu membikin mulut ini tidak henti-hentinya mengunyah.

Suasana warung mie ayam pak Doel

Selain rasanya yang memang nikmat, menu pelengkap yang disediakan di warung mie ayam pak Doel menjadi pembeda dengan warung mie ayam pada umumnya. Menu pelengkap tersebut diantaranya kepala, sayap, telur, dan ceker (kaki) ayam yang di bandrol mulai harga Rp.500-2.000,- per potongnya.

“Kalau mie ayam di tempat lain tidak ada menu pelengkapnya, kalaupun ada mungkin hanya tambahan ceker. Tapi kalau di mie ayam pak Doel menu pelengkapnya memang benar-benar lengkap, ada kepala, sayap, telur dan ceker. Selain itu harganya memang murah sesuai dengan kantong mahasiswa,” ujar Nikmah, salah satu pembeli

Warung mie ayam pak Doel buka setiap hari mulai pukul 09.00 WIB hingga pukul 21.00 WIB.

Jurnalis : Agus Nurchaliq / Redaktur : ME. Bijo Dirajo / Foto : Agus Nurchaliq

Baca Juga
Lihat juga...