Rahasia Kelezatan Soto Ayam Ruang Tengah dan Soto Babat Kuah Bening di Lampung

496

SABTU, 18 FEBRUARI 2017

LAMPUNG — Salah satu jenis kuliner yang populer di berbagai daerah di Indonesia, tak terkecuali di Provinsi Lampung adalah soto. Berbagai varian dan suasana dihadirkan oleh para pedagang untuk menarik pembeli. Mulai dari bahan hingga fasilitas yang disediakan. Diantaranya, soto ayam ruang tengah dan Soto Babat Bening.

Sambal pedas, kerupuk emping, soto babat serta segelas jeruk panas siap memanjakan lidah pemburu kuliner soto babat

Warung Soto Ayam Sederhana Berkonsep Saung Buka Hingga Malam Hari

Soto ayam dengan berbagai taburan pelengkap dengan kuah menggugah selera sering dijumpai, salah satunya di warung soto ayam Ruang Tengah Desa Ruang Tengah Kecamatan Penengahan Kabupaten Lampung Selatan. Meski menempati warung sederhana  menggunakan bambu, namun saat Cendana News menyambangi pada malam hari, beberapa saung masih terlihat pelanggan yang berdatangan.

Aida (50) dan sang suami, Zahri (54), pemilik warung menyebutkan, menu yang disediakan pada umumnya hampir sama dengan pedagang lainnya, namun ada beberapa tambahan pelengkap untuk menyesuaikan selera pelanggan.

“Kalau bahan utamanya kita tetap menggunakan ayam serta soun putih yang sudah disiapkan sebelumnya, sehingga bisa segera dihidangkan agar pelanggan tidak terlalu menunggu lama,”ungkap Aida saat ditemui Cendana News pada Jumat malam (17/2/2017).

Aida pemilik soto Ruang Tengah meracik soto untuk pelanggan

Aida menuturkan, beberapa bahan yang dipersiapkan diantaranya ayam yang sudah disuwir suwir kecil, kol, tauge, tomat, soun, bawang goreng, serta bahan bahan pelengkap lain diantaranya telur rebus, dan kerupuk.

“Sementara bumbu yang dipergunakan untuk penyedap rasa pada kuah diantaranya daun jeruk, serai,daun salam, daun bawang, lengkuas, minyak goreng ditambah dengan bumbu bumbu lain yang menambah cita rasa soto ayam racikannya diantaranya kunyit, kemiri, jahe, bawang merah, merica dan garam,”sebut wanita yang memiliki bekal mengolah kuliner dari sang ibu.

Proses pembuatan soto ayam ala warung soto Ruang Tengah terbilang sederhana, dimulai dari penyiapan bumbu. Bumbu  ditumis setelah dihaluskan sehingga tercium aroma yang menggugah selera. Proses selanjutnya daging ayam direbus hingga matang bersamaan dengan bumbu yang yang sudah ditumis dan dicampur dengan lengkuas, daun salam, daun jeruk.

“Kuah yang sudah muncul cita rasa ayamnya dan bumbu bumbu yang tercampur akan menjadi penyedap saat kuah disiramkan pada bahan bahan lain yang disiapkan di mangkuk yang akan dihidangkan kepada pelanggan,”ungkap Aida.

Satu dari dua saung yang disukai pengunjung untuk menyantap soto ayam Ruang Tengah

Setelah bahan bahan tersebut disiapkan sebelumnya sambil menunggu pelanggan, kuah tersebut akan disiapkan di panci khusus yang bisa dipanaskan sewaktu waktu. Saat akan dihidangkan, penyiapan mangkuk dilakukan dengan meracik bahan dasar diantaranya irisan kol, taburan tauge, serta bahan bahan lain. Bagi yang menyukai tomat, irisan telur asin, akan ditambahkan namun bagi yang hanya menyukai suwiran ayam beberapa bahan tidak disertakan menyesuikan selera pelanggan.

“Khusus untuk saat penyajian kita tambahkan setengah irisan jeruk nipis untuk menambah cita rasa kecut, taburan bawang merah goreng, taburan tauge lagi serta telur asin jika ada yang menginginkan ditambahi telur asin,”ungkap Aida.

Beberapa tambahan penyemarak untuk menggoyangkan lidah dan menambah rasa hangat di badan disediakan juga di setiap meja -pelanggan diantaranya saos tomat, kecap manis serta sambal. Tambahan kerupuk udang biasanya sudah ditaburkan di atas sajian soto ayam yang dihidangkan kepada pelanggan yang bisa dinikmati sembari menyeruput teh panas, es teh maupun es jeruk sambil duduk lesehan di saung saung yang telah disiapkan.

Sementara itu, Zahri, suami Aida menjelaskan,waktu paling tepat untuk menikmati suasana alam di warung soto tersebut diantaranya saat siang hari menjelang sore,  karena dapat memandang areal persawahan yang menghijau dan memandang Gunung Rajabasa.

“Tapi bukan berarti saat malam hari tidak ada pengunjung, justru saat malam hari banyak pelanggan yang datang ke sini untuk menikmati suasana kesunyian sambil melihat ke arah jalan lintas Sumatera dengan lampu kendaraan yang menyala dan bersantai bersama sahabat maupun rekan kerja, ” ungkap Zahri.

Zahri menerangkan, dengan tingginya antusias pembeli, direncanakan penambahan beberapa saung yang lebih besar karena bisa menjadi lokasi pertemuan bagi beberapa sales (kanvaser) yang kerap bertugas mengantarkan produk barang dagangan ke sejumlah warung dan menyempatkan mampir di warung soto milik Zahri dan Aida.

Anji baju kotak kotak dan Fahri baju merah menikmati sajian soto ayam Ruang Tengah sembari bersantai

Selain para kanvaser, beberapa penikmat soto ayam Ruang Tengah diantaranya para guru guru,anak sekolah, karyawan hingga dokter di Puskesmas Penengahan. Beberapa pelanggan tetap bahkan biasanya telah menelpon kepadanya untuk menanyakan ketersediaan saung yang ada di warung tersebut.

Kedatangan pelanggan penikmat soto ayam Ruang Tengah tersebut hingga malam diakui oleh salah satu pelanggan tetap, Anji (22) dan Fahrudin (21). Anji mengaku kerap menikmati soto ayam Ruang Tengah saat pagi hari dan malam hari bersama kawan kawannya sembari menikmati suasana santai di warung soto yang terasa nyaman tersebut bahkan bisa digunakan untuk istirahat .

“Selain lokasinya dekat rasa yang ditawarkan di soto ayam Ruang Tengah juga cukup nikmat apalagi dinikmati saat malam hari dengan hawa udara yang dingin, kuah soto yang hangat jadi sajian yang pas di malam hari,”ungkap Anji.

Pelanggan lain yang tak pernah ketinggalan adalah Riski Novita Putri (21) yang saat libur kuliah selalu menyempatkan merasakan soto ayam buatan Aida. Gadis yang kerap dipanggil Putri dan tengah menempuh kuliah di salah satu perguruan negeri di Lampung tersebut menyukai rasa soto ayam yang disajikan. Hampir setiap libur kuliah pada akhir pekan, dirinya tak pernah lupa menikmati sajian kuliner soto ayam tersebut dan menikmati langsung di warung tersebut.

Zahri dan Aida selaku pemilik warung soto ayam Ruang Tengah yang memiliki konsep memberi kenyamanan kepada pelanggan dengan rasa soto yang khas mengaku resep kelezatan soto ayam miliknya terletak pada ayam yang dihidangkan. Harga satu porsi hanya Rp10.000. Kepuasan pelanggan merupakan rahasia untuk memberi pelayanan maksimal kepada pelanggan tak hanya melulu mencari keuntungan atau bisnis.

Tak mau menyebut omzet yang diterimanya setiap hari dengan menghabiskan beberapa bahan, Zahri dan Aida mengaku selain melestarikan makanan tradisional yang hampir ada di seluruh wilayah Indonesia.  Konsep saung di sekitar sawah menjadi daya tarik sendiri menambah pelanggan baru.

Soto Babat Bening Ala Saung Pontren Kelezatan Soto di Ujung Sumatera

Mencicipi kelezatan kuliner soto babat di Lampung kiranya tak perlu harus jauh jauh mencarinya ke daerah asalnya seperti di Lamongan, Madura atau ke wilayah Pulau Jawa karena di ujung Sumatera pun sajian soto babat masih bisa menggoyang lidah.

Soti babat siap dihidangkan bersama dengan minuman jeruk panas

Salah satu tempat kuliner penyedia soto babat khas Rangkasbitung atau soto babat ala Sunda diantaranya disajikan oleh Saung Pontren yang terletak di Jalan Lintas Sumatera (Jalinsum) KM 66 tepatnya di Desa Belambangan Kecamatan Penengahan Lampung Selatan hanya berjarak beberapa kilometer dari Pelabuhan Bakauheni.

Lokasi yang berada di salah satu titik di ujung Selatan Pulau Sumatera tersebut membuat Saung Pontren mudah dikenali. Cendana News berkesempatan mencicipi kuliner khas Rangkasbitung yang dikelola, Hj. Nina (50) dan sang suami H. Sukarma (55).

Soto babat “Ala Sunda” disematkan karena sang pemilik berasal dari daerah Rangkasbitung Provinsi Banten yang mendapatkan ilmu saat membantu ibunya saat berjualan. Sejak hijrah ke Lampung, wanita yang akrab disapa bu hajjah ini mulai menekuni usahanya.

Disebutkan, babat sendiri merupakan daging pada lambung hewan yang biasanya diambil dari daging sapi, lembu atau kambing. Sementara untuk soto babat di Saung Pontren Hj.Nina mengungkapkan babat yang digunakan merupakan babat sapi.

“Kalau babatnya kita mendapat kiriman dari penjual daging di pasar Kalianda sesuai jumlah yang kita minta,”terang Hj.Nina saat berbincang dengan Cendana News sembari mengiris babat, daun bawang serta merebus air untuk memasak babat yang akan dihidangkan di Saung Pontren Jalinsum KM 66, Sabtu (18/2/2017).

Hj.Nina yang didampingi sang suami, H.Sukarma mengungkapan cita rasa soto babat ala Sunda diakuinya sangat kental terasa menyesuaikan dengan sang pengelola sekaligus juru masak saung pontren tersebut. Khusus untuk soto babat buatannya dikenal dengan soto babat kuah bening karena pembuatan tidak menggunakan santan kelapa dan tidak menggunakan kunyit. Kekhasan buatannya membuat warungnya tetap bertahan sejak beberapa tahun lalu didirikan dan selalu menjadi rujukan untuk bersantap.

Sebelum proses pembuatan soto babat, disiapkan sekitar 10 hingga15 kilogram babat siap saji yang disimpan di kulkas dan diiris saat akan dibersihkan. Babat yang dibeli perlu dibersihkan hingga beberapa kali dengan proses pengerikan serta pembersihan sehingga bau amis khas daging sapi bisa dihilangkan.

Selanjutnya khusus untuk bumbu, Hj.Nina menyiapkan bumbu praktis yang disimpan agar bisa cepat disajikan. Bahan bahan yang disiapkan diantaranya jahe secukupnya, merica secukupnya, delapan siung bawang merah, tiga siung bawang putih, garam secukupnya. Bahan bumbu tersebut akan dicampurkan pada kuah yang telah disiapkan pada panci untuk mendidihkan air.

Setelah bahan bahan tersebut siap,, langkah selanjutnya ia mulai merebus daging babat yang telah diiris pada talenan kayu. Setelah pengirisan babat dan direbus, proses selanjutnya dimasukkan serai dan daun salam hingga babat tersebut empuk dan diangkat untuk dimasukkan dalam mangkuk atau ditiriskan. Setelah itu ,proses penumisan bumbu halus yang telah disiapkan bersama serai dan daun jeruk sehingga mengeluarkan aroma yang khas rempah, selanjutnya daun bawang iris dimasukkan bersama bahan bahan lain tersebut.

Setelah bumbu bumbu siap, proses pemasakan babat dilakukan dengan merebus air dan memasukkan babat dengan bahan bumbu yang telah ditumis hingga mendidih hingga bumbu meresap ke dalam daging babat. Setelah cukup matang proses penyajian dalam mangkuk berikut nasi, sambal, kecap manis dan saos ikut dihidangkan.

“Kalau kerupuk kita gunakan kerupuk emping yang merupakan produksi lokal kaum perempuan di wilayah kaki Gunung Rajabasa sementara bagi yang tak suka emping atau tambahan tomat biasanya pemesan sudah memberitahu saat kita memproses pembuatan soto babat di dapur,”ungkap Hj.Nina.

Kelezatan soto babat serta makanan lain yang dihidangkan di saung pontren tersebut ungkap Hj.Nina membuat pontren yang terletak strategis di sisi Jalan Lintas Sumatera menjadi lokasi perhentian para pengendara yang lewat maupun masyarakat yang “kangen” dengan soto babat. Penjual soto babat di wilayah tersebut terbilang masih langka membuat warung yang buka sejak pukul 06:00 pagi hingga pukul 23:00 malam selalu ramai dikunjungi.

Rasa kuah bening yang ada dalam soto babat cukup gurih, terutama saat Cendana News menambahkan sambal cabai yang langsung membuat berkeringat. Hj.Nina membuka sedikit rahasianya, sambal pelengkap tersebut merupakan sambal asli cabai merah tanpa campuran apapun sehingga bisa membuat megap megap dan kepedasan penyantapnya.

Tambahan kerupuk emping yang disiapkan serta segelas jeruk panas menjadi penghangat saat pagi hari maupun jam jam makan siang atau malam hari. Penyajian yang sangat menarik layaknya di sebuah restoran mewah bahkan menghilangkan kesan sedang makan di pinggir jalan dan menikmati suasana saung yang semilir dengan pepohonan.

Salah satu penikmat soto babat, Ismi (17) mengaku sajian khas soto babat yang dipesan olehnya biasanya disantap saat pagi hari dengan aroma yang menggugah selera dan juga rasa yang khas dan bisa digunakan untuk penghangat badan di pagi hari.

“Kalau kondisi musim hujan seperti saat ini, kuah soto babat yang ditambah dengan sambal cabai merah sangat pas dan juga bumbu rempah rempah bisa ikut menjaga vitalitas badan terutama cuaca yang tidak menentu sering hujan badan bisa gampang sakit dan menu soto babat yang memiliki bumbu rempah ini kan bagus untuk badan,”ungkap Ismi.

Para pembeli menunggu pesanan

Senada dengan penikmat kuliner di Saung Pontren, Hadi (23) kepraktisan untuk mendapatkan kuliner yang cepat saat pagi membuatnya memilih saung pontren untuk menikmati sarapan pagi. Sebelum berangkat melakukan aktifitas dirinya mengaku kerap memesan menu soto babat serta terkadang soto Lamongan di saung pontren sebab selain berada searah dengan tempatnya bekerja, menu yang disajikannya pas dengan lidahnya. Sebagai pekerja di salah satu sub kontraktor pembangunan jalan tol trans Sumatera, dirinya yang berasal dari Banten kesulitan mencari menu kuliner khas Sunda dan tempat terdekat yang bisa dijumpainya Saung Pontren yang ada di dekat kantornya.

Bukan saja menjadi tempat perhentian dan tempat untuk menyantap hidangan soto babat kuah bening serta menu lain oleh para penumpang kendaraan yang melintas. Beberapa tempat istirahat yang disediakan di lokasi tersebut dan berada di dekat areal persawahan membuat saung pontren menjadi tempat menikmati sajian kuliner khususnya warga yang kangen dengan soto babat bening ala Sunda buatan Hj.Nina.

Berbagai sajian lain menemani menu soto babat di Saung Pontren tersebut sekaligus membayar kerinduan akan soto babat dan merasakan sensasi pedasnya sambal dan menghangatkan badan dengan kuah bumbu rempah yang khas. Harga seporsi soto babat sebesar Rp20.000 dan juga berbagai minuman dari kisaran Rp5.000 hingga Rp10.000 sudah cukup sebanding dengan rasa yang menggoyang lidah dan membuat badan hangat dan berkeringat setelah sambal dicecap di lidah.

Jurnalis : Henk Widi / Redaktur : ME. Bijo Dirajo / Foto : Henk Widi

Baca Juga
Lihat juga...