Ratusan Sopir Angkot dan Taksi Tuntut Penutupan Transportasi Online di Malang

95
SENIN 20 FEBRUARI 2017
MALANG—Ratusan sopir angkutan kota bersama dengan supir taksi yang ada di kota Malang hari ini melakukan aksi mogok kerja sekaligus menggelar aksi unjuk rasa di depan kantor Balai Kota Malang. Aksi tersebut dilakukan sebagai bentuk protes atas keberadaan transportasi online seperti Gojek serta Grab dan Uber Car di Kota Malang.
Puluhan angkot di parkir di depan Balai Kota.
“Kami menuntut agar transportasi berbasis online segera di tutup, termasuk kantornya juga harus ditutup sehingga transportasi online ini tidak beroperasi lagi di Malang,” jelas Mukid, sebagai perwakilan supir dan ketua jalur, Senin (20/2/2107).
Menurutnya, dengan semakin banyaknya transportasi online di Kota Malang mengakibatkan jumlah penumpang angkot dan taksi menurun drastis yang secara otomatis juga mengurangi pendapatan mereka.
“Contohnya saja angkutan jurusan Arjosari Landungsari (AL) yang kebanyakan penumpangnya adalah mahasiswa. Sekarang jumlah penumpangnya menurun drastis karena mahasiswa banyak beralih naik Gojek ,” ujarnya.
Lebih lanjut Mukid juga mengakui bahwa masih ada beberapa oknum sopir nakal yang sengaja menaikkan tarif di luar tarif normal. Namun demikian dari paguyuban supir sendiri telah memiliki sanksi tersendiri bagi sopir nakal.
“Sanksinya yaitu kami keluarkan dari keanggotaan paguyuban. Selain itu saat ini angkot juga sudah mulai memperbaiki diri dengan membenahi mobilnya agar lebih layak,” terangnya.
Sementara itu Wali Kota Malang, Mochammad Anton usai melakukan pertemuan dengan Organisasi Angkutan Darat (ORGANDA), Dinas Perhubungan dan kepolisian menegaskan bahwa saat ini transportasi yang resmi beroperasi di Malang adalah yang berbadan hukum.
“Kami tegaskan saat ini transportasi yang diakui di Malang yait yang telah berbadan hukum yakni angkutan kota atau mikrolet dan taksi konvensional. Oleh karena itu melalui media cetak, online maupun elektronik kami berharap agar masyarakat tau bahwa transportasi yang di akui di Malang hanya yang berbadan hukum, itu yang kita sepakati saat ini,” tegasnya.
Walik Kota Malang, Mochammad Anton (baju cokelat).
Jurnalis: Agus Nurchaliq/Editor: Irvan Sjafari/Foto: Agus Nurchaliq
Baca Juga
Lihat juga...