banner lebaran

Rekapitulasi Suara di Umbulharjo Diwarnai Walk Out Saksi

61

KAMIS, 16 FEBRUARI 2017
YOGYAKARTA — Sejumlah saksi dari pasangan calon nomor urut 1 Pilihan Walikota Kota Yogyakarta melakukan aksi walk out dan tidak mau menandatangani catatan hasil penghitungan perolehan suara di TPS atau C1 plano, saat proses rekapitulasi hasil penghitungan suara tingkat kecamatan di Umbulharjo Yogyakarta, Kamis (16/02/2017), hari ini.

Ketua PPK Umbulharjo, Suwendro.

Mereka melakukan aksi tersebut setelah meminta pengecekan ulang penghitungan suara tidak sah. Namun ditolak oleh pihak Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK) Umbulharjo. Saksi dari pasangan Imam Priyono dan Achmad Fadli itu menduga adanya hal-hal yang tidak semestinya di tingkat TPS sehingga menimbulkan banyaknya suara tidak sah.

Sementara itu, Ketua PPK Umbulharjo, Suwendro, menolak permintaan saksi pasangan calon nomor urut 1 tersebut dengan alasan proses penghitungan suara termasuk surat suara sah dan tidak sah sudah dilakukan di tingkat TPS dengan dihadiri saksi kedua belah pihak sehingga tidak perlu diulang lagi saat proses rekapitulasi di tingkat kecamatan.

“Saat melakukan perekapan dan pencatatan C1 plano, saksi dari paslon nomor urut satu, meminta pengecekan ulang suara tidak sah di semua TPS. Itu di luar ketentuan. Karena sudah dilakukan di tingkat TPS dengan disetujui semua saksi. Kalau mereka mempertanyakan benar atau tidaknya surat suara tidak sah itu kan bisa dilakukan pada saksi mereka sendiri di TPS,” katanya.

Lebih lanjut Suwendro menjelaskan, meski saksi dari paslon nomor urut 1 melakukan walk out namun proses rekapitulasi di tiap keluruhan sendiri tetap dilanjutkan. Aksi penolakan saksi untuk menandatangani C1 plano juga dikatakan tidak mempengaruhi keabsahan proses rekapitulasi, karena sesuai ketentuan, hal itu diperbolehkan.

Pihak tim pemenangan paslon nomor urut satu, Imam Priyono dan Achmad Fadli, sebelumnya memang meminta pembukaan ulang semua surat suara tidak sah di semua proses rekapitulasi hasil penghitungan suara tingkat kecamatan yang ada di Yogyakarta. Hal itu mereka lakukan setelah melihat banyaknya surat suara yang tidak sah hingga mencapai 10 ribu lebih.

Mereka menduga hal itu terjadi karena ada hal yang tidak semestinya terjadi saat proses penghitungan suara di tingkat TPS. Sejumlah saksi paslon nomor urut satu itu menemukan kasus terdapat sejumlah surat suara yang dicoblos dobel di dalam kotak gambar paslon yang semestinya sah, namun justru dianggap tidak sah. Terlebih kasus itu juga ditemukan di wilayah Umbulharjo.

Jurnalis: Jatmika H Kusmargana / Editor: Satmoko / Foto:  Jatmika H Kusmargana

Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.