Selain Berjiwa Sosial Tinggi, Emmy, Kader Damandiri Ini Juga Pelaku Usaha Percetakan yang Berhasil

88

SELASA, 7 FEBRUARI 2017

JAKARTA — Jejak Pemberdayaan Yayasan Damandiri — Bisnis percetakan buku, majalah, cover, foto copy dan sejenisnya terus berkembang setiap tahunnya. Dari cetak digital hingga offset, menjanjikan peluang mendapatkan laba yang cukup menguntungkan. Peluang ini yang dilirik Emmy Aznulleily, Ketua Posdaya Kenanga Simprug, bersama suaminya sejak awal pernikahan mereka pada 1980.

Emmy Aznulleily

“Bisnis saya dan suami di rumah sejak awal memang hanya percetakan saja. Saya katakan kepada suami, walaupun hanya punya satu jenis usaha, tapi jika fokus menjalankannya, pasti akan membawa hasil yang memuaskan,” kata Emmy, mengenang pertama kali mereka memulai bisnis percetakan.

Bermodal komputer untuk membuat desain buku, cover buku, kalender dan berbagai materi lainnya, Emmy bersama sang suami terus melangkah maju bersama usaha kecil mereka. Tanpa terasa, anak-anak mereka juga semakin besar, dan semua biaya hidup berhasil dipenuhi lewat usahanya tersebut. Tidak tanggung-tanggung, 3 anak berhasil disekolahkan bahkan hingga menikah.

Apa yang dilakukan dan diperoleh Emmy selama ini, memang sesuai kenyataan, bahwa bisnis percetakan, walaupun kecil-kecilan, tetap menguntungkan serta bisa menjadi sandaran hidup. Sebagai contoh kecil, mencetak kalender dinding. Dengan jenis kertas art paper 120 gsm, lengkap permainan warna dan menggunakan jilid klem dari bahan seng, satu lembar berkisar Rp. 2.200. Keuntungan per satu lembarnya Rp. 700. Untuk mendapatkan keuntungan lebih besar, harus mengandalkan order dalam jumlah besar pula.

“Dari satu lembar kalender dengan art paper, keuntungan bisa separuh dari harga jual untuk pemesanan dalam jumlah besar. Jika menggunakan bahan karton, kuantitas tidak menentukan berapa banyak keuntungan, maksudnya pemesanan banyak atau sedikit, keuntungannya sama. Dengan kata lain, menggunakan art paper itu semakin banyak kuantitasnya, semakin enak mengatur margin keuntungannya,” terang Emmy.

Cetak offset, itulah yang dijalankan Emmy dan suaminya. Cukup beralasan, jika mereka harus mengambil proyek pemesanan dalam jumlah besar, karena semakin besar jumlah pemesanan, seperti keterangan Emmy, semakin mudah mengatur berapa keuntungan yang akan diperoleh. Itulah tantangan para pengusaha percetakan offset. Berbeda dengan pengusaha cetak digital yang melayani pemesanan satuan, namun tidak mempengaruhi keuntungan yang mereka terima.

Mengukur keuntungan Emmy, dari 1 lembar kalender eksklusif periode 1 tahun berbahan karton, mereka biasa menjual seharga Rp. 20-25.000. Keuntungan yang diperoleh maksimal Rp. 15.000. Dari pemesanan 100 lembar, Emmy meraup keuntungan mencapai Rp. 1,5 Juta. Sepertinya, membuka usaha percetakan offset kecil-kecilan di rumah cukup menguntungkan bagi siapapun yang ingin mencobanya.

“Menjadi pengusaha, baik itu besar maupun kecil, sebenarnya jangan melirik keuntungan saja, namun juga harus siap untuk rugi. Namun, jika usaha dijalankan sebaik-baiknya dengan perhitungan yang tepat, kerugian tidak akan terjadi,” pungkasnya.

Pilihan usaha Emmy untuk menjalankan percetakan offset di rumah telah dilakoninya bersama sang suami selama kurang lebih 20 tahun. Hingga kini, pasaran untuk bisnis percetakan masih menjadi pilihan, karena kebutuhan percetakan masyarakat tidak akan mati.

Tantangan dari pengusaha percetakan offset yang mengejar kuantitas hasil cetak untuk meraup laba adalah bersaing dengan percetakan digital yang tidak memerlukan pemesanan dalam jumlah besar untuk meraup keuntungan.
Baca Juga:
Emmy Aznulleily, Kader Damandiri Berjiwa Sosial Tinggi

Jurnalis: Miechell Koagouw/ Editor: Koko Triarko/ Foto: Miechell Koagouw

Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.