banner lebaran

Seniman Reog Ponorogo Gelar Pertunjukkan NKRI Harga Mati

167

SABTU, 18 FEBRUARI 2017

PONOROGO — Puluhan seniman reog ponorogo berkumpul di Jalan Puspowarno, Kecamatan Tambakbayan menggelar pertunjukkan bertemakan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) Harga Mati. Berbagai atribut yang dipakai oleh warok, bujang ganong, jathil, barongan, klono sewandono, maupun dadak merak berwarna merah putih.

Pertunjukkan reog NKRI Harga Mati oleh seniman Ponorogo

Pertunjukkan reog ini berbeda dari biasanya. Sebelum memulai pertunjukkan para tokoh melakukan kegiatan baris–berbaris sambil membawa bendera Merah Putih dan Garuda Pancasila. Salah satu tokoh ditunjuk membacakan butir–butir Pancasila. Sesampainya di lahan yang digunakan untuk pertunjukkan, ritual sebelum pertunjukkan dengan membakar kemenyan dimulai sambil mengitari dadak merak.

Penyelenggara, Hari Purnomo sekaligus pemilik salah satu sanggar reog mengatakan, kegiatan ini untuk menunjukkan rasa keprihatinan para seniman terhadap toleransi yang mulai pudar.

“Kami ingin mengajak para seniman lain untuk ikut andil dalam menjaga persatuan dan kesatuan Republik Indonesia melalui kesenian, salah satunya melalui pertunjukkan reog ini,” jelasnya saat ditemui Cendana News di lokasi, Sabtu (18/2/2017).

Musik yang digunakan saat mengiringi pertunjukkan reog biasanya karawitan, diganti dengan lagu – lagu perjuangan. Masyarakat sekitar pun langsung berkumpul dan melihat pertunjukkan reog unik ini.

“Kami berharap persatuan dan kesatuan dari segala suku yang ada di Indonesia tidak terpecah belah, kita harus satu Merah Putih, satu Pancasila dan satu Indonesia,” tegasnya.

Hadi menambahkan pihaknya juga ingin mengajak warga yang melihat serta para tokoh dalam pertunjukkan reog bisa mengamalkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari–hari. Jati diri sebagai warga Indonesia tidak boleh luntur sedikit pun.

Pertunjukkan reog NKRI Harga Mati oleh seniman Ponorogo

Salah seorang warga, Partimah mengaku heran dan kagum ada pertunjukkan reog bertemakan NKRI Harga Mati. Karena menurutnya, selama ini pertunjukkan reog hanya untuk hiburan dan salah satu warisan kesenian dari zaman nenek moyang.

“Ini unik dan menarik, makanya saya rela datang kesini jauh-jauh demi melihat reog yang katanya mengusung tema NKRI Harga Mati,” pungkasnya.

Jurnalis : Charolin Pebrianti / Redaktur : ME. Bijo Dirajo / Foto : Charolin Pebrianti

Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.