Setahun Dikukuhkan Damandiri, Posbindu Bacang Sukses Kawal Kesehatan 167 Lansia

194

SABTU, 11 FEBRUARI 2017

JAKARTA — Jejak Pemberdayaan Yayasan Damandiri — Menurut data yang berhasil dihimpun pengurus Posdaya Bacang, RW02, Srengseng Sawah, ada 668 orang warga lansia serta 500 orang balita di tiga belas RT terdaftar sebagai anggota lingkungan. Mengacu pada data tersebut, warga RW02 Srengseng Sawah dipastikan butuh pelayanan kesehatan berkelanjutan. 

Penimbangan berat badan lansia

Warga Lansia dan balita adalah mereka yang berada di usia krusial dimana butuh perhatian khusus dalam kesehatan. Balita harus dipantau pertumbuhannya, sedangkan lansia butuh pelayanan kesehatan untuk menjaga kebugaran tubuh. Penanganan kesehatan balita diserahkan kepada Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu), sedangkan bagi usia 15 tahun keatas (sampai lansia) diserahkan penanganannya kepada Pos Pembinaan Terpadu atau disebut juga Posbindu.

Dengan tujuan untuk menggagas pelayanan kesehatan berkelanjutan bagi warga lansia Srengseng Sawah, Posdaya Bacang RW02, Srengseng Sawah binaan Yayasan Damandiri, mengutus beberapa kader mengikuti pelatihan menjadi petugas Posbindu terkoordinasi sebagai sinergi antara Universitas Indonesia, Dinas Kesehatan Puskesmas Kecamatan Jagakarsa, Kelurahan Srengseng Sawah dan Kodya Jakarta Selatan. Setelah mengikuti pelatihan maraton selama dua hari di Jakarta, para kader Posdaya kembali ke masyarakat dengan sebuah komitmen besar, yakni mendirikan Posbindu di RW02 Srengseng Sawah.

Mengambil moment peringatan Hari Kanker sedunia pada 4 Februari 2016, didirikanlah Posbindu PTM (Pos Pembinaan Terpadu Penyakit Tidak Menular) Bacang di RW02, Srengseng Sawah, dengan Ketua Rumiyanti, seorang kader pengurus Posdaya Bacang.

Turut pula dibentuk jajaran operasional Posbindu Bacang dengan Lies Priyanthi sebagai petugas KMS (Kartu Monitoring Sehat) dan Konseling, Ina Mariana sebagai petugas pantau-ukur Tinggi dan Berat Badan, Sulastri Widiawati sebagai petugas ukur tensi darah serta Budi Lestari, bendahara Posdaya Bacang sebagai petugas administrasi Posbindu Bacang.

Tepat 4 Februari 2017, Posbindu Bacang berusia satu tahun dan sudah melakukan pelayanan sosial kesehatan kepada masyarakat Srengseng Sawah dengan baik. Tapi masih terasa bagaimana jatuh-bangun merintis Posbindu sejak awal pendirian.

“ Merintis itu ibarat merintih, saya katakan demikian karena proses perjalanan awal Posbindu Bacang memang demikian,” sebut Ketua Posbindu, Rumiyanti.

Posbindu harus melewati tantangan dana penyediaan peralatan pendukung seperti alat ukur gula darah, asam urat dan kolesterol. Ditambah lagi alat tensi dan timbangan badan juga menjadi pekerjaan rumah bagi mereka di awal perjalanan Posbindu. Kebutuhan peralatan maupun perlengkapan coba dipenuhi dengan memanfaatkan semua sumber daya yang tersedia.

Alat timbang yang digunakan adalah peninggalan para mahasiswa Universitas Indonesia (UI) di Srengseng Sawah, alat tensi darah menggunakan milik pribadi Ketua Posdaya Bacang dan alat ukur kolesterol, asam urat, gula darah masih meminjam milik para mahasiswa UI. Ditambah alat ukur tinggi badan juga menggunakan alat seadanya.

Tantangan lain yang harus dihadapi adalah cara pandang sebagian warga akan pentingnya deteksi awal gangguan kesehatan masih terbilang buruk. Banyak diantara mereka kurang suka jika dianggap sakit dan merasa kegiatan Posbindu kurang efektif karena tidak menyediakan obat-obatan. Dengan sabar dan ulet, para pejuang kesehatan Posbindu Bacang melakukan edukasi menyeluruh dengan mengunjungi warga setempat dari rumah ke rumah. Seiring proses edukasi serta kegiatan rutin pelayanan kesehatan yang dilakukan, kelengkapan peralatan pendukung Posbindu juga mulai terpenuhi.

Melalui biaya cek kesehatan yang dikenakan kepada masyarakat, dana kas pengurus Posbindu, ditambah seorang warga yang sukarela menyumbang dana operasional, Posbindu Bacang akhirnya bisa membeli sendiri mulai dari alat ukur kolesterol, gula darah dan asam urat. Menyusul alat ukur tinggi badan, alat timbang berat badan sampai alat tensi darah berhasil terpenuhi kepemilikannya.

“ Yang paling sulit adalah ketika kami harus mengedukasi guna membangkitkan kesadaran masyarakat akan pentingnya pemeriksaan kesehatan sebagai deteksi awal pada penyakit. Kami mengorbankan waktu, tenaga dengan penuh kesabaran mengunjungi mereka dari pintu. Tapi tepat satu tahun perjalanan panjang, kami berhasil memenangkan mereka,” imbuh Rumiyanti.

Memenangkan warga dengan memberdayakan mereka untuk datang memeriksa kesehatan, hal itu menjadi pintu masuk untuk memantau, mendeteksi sekaligus menjaga kesehatan warga Srengseng Sawah, khususnya RW02. Tagline Posbindu Bacang ‘melayani dengan hati’ menjadi acuan untuk terus melayani kesehatan masyarakat tanpa pamrih.

Pengukuran lingkar pinggang lansia

Hingga satu tahun berdirinya Posbindu Bacang, mereka berhasil mengawal kesehatan 25 persen (167 orang) dari 668 jiwa warga lansia RW02, Srengseng sawah. Mendeteksi gangguan kesehatan dalam konteks penyakit tidak menular, menjaga pola makan, mengedukasi pola hidup sehat, sampai mengaktifkan kegiatan senam pagi adalah cara yang dilakukan selama ini.

“ Perbedaan dalam menangani lansia dan balita adalah, berat badan balita pasti dipantau agar bertambah setiap minggunya. Sedangkan bagi lansia, berat badan mereka harus dijaga tetap stabil. Jika tidak, otomatis penyakit seperti kolesterol, asam urat, hipertensi dan turunan penyakit tidak menular lainnya akan dialami oleh lansia,” pungkas Rumiyanti.

Jurnalis : Miechell Koagouw / Redaktur : ME. Bijo Dirajo / Foto : Miechell Koagouw

Baca Juga
Lihat juga...