Soto Lamongan Rajai Kuliner Asal Jawa di Kota Jayapura

SABTU, 18 FEBRUARI 2017

JAYAPURA — Inilah Soto Lamongan pertama dan terlama di Bumi Cenderawasih, tepatnya di Kota Jayapura. Bagaimana tidak, Soto Lamongan ini sudah 21 tahun melayani penikmat soto di ibukota Provinsi Papua.

Soto Lamongan milik Pakde Adli

Soto Lamongan, siapa yang tak kenal dengan kuliner yang dibawa dari tanah Jawa. Awalnya soto lamongan ini masuk ke Kota Jayapura pada tahun 1996 lalu dengan harga satu mangkok seribu lima ratus rupiah, kini harganya telah mencapai 23 ribu rupiah setiap mangkoknya.

Perintis soto pertama kali kala itu bernama Sumantri asal Lamongan pada tahun 1990-an, entah mengapa Sumantri pada tahun 1996 kembali ke kampung halamannya di Lamongan, Jawa Timur. Nah, melihat peluang inilah Adli, saudara Sumantri meneruskan usaha soto, namun dengan modal sendiri tanpa bantuan orang lain.

Adli yang kini berusia 54 tahun dan telah 21 tahun merantau di Kota Jayapura menjelaskan dirinya saat menjual soto saat itu menambah rasa pada soto menggunakan koya yang dibuat dari kelapa dan bawah putih digoreng kering dan langsung ditumpuk agar halus.

“Dari tahun 1996-2007, soto lamongan saya gunakan koya kelapa, setelah itu saya mengubah resep koya dari kerupuk udang dicampur bawang putih,” kata pria kelahiran Lamongan, 26 Mei 1963.

akde Adli, pedagang Soto Lamongan 1996 hingga saat ini di Kota Jayapura

Suami dari Ainur Kholiha (39) ini menceritakan, sejak merantau di ibukota provinsi Papua hingga saat ini tak pernah membuat soto gunakan bumbu siap saji yang dijual di supermarket.

“Saya tidak pernah gunakan bumbu yang sudah jadi, saya mau soto lamongan ini bumbu hasil racikan tangan saya sendiri,” ujarnya.

Awalnya, ia menjual soto lamongan gunakan gerobak dorong dan berkeliling di seputar kota, keluar mengais rejeki dari jam tujuh pagi dan kembali ke rumah jam delapan malam.

“Pertama saya jualan arum manis dua bulan, setelah dapat untung saya buat gerobak dan jual soto lamongan, karena itu sudah tekad saya menjual soto,” kata Adli asal kampung Laren, Lamongan itu.

Istri Pakde Adli saat meracik soto di ruko

Selama kurang lebih sebelas tahun jualan gerobak, tahap demi tahap dirinya mulai jual soto menetap pada beberapa tempat, dan lambat laun sekitar tahun 2015 dirinya dapat menyewa sebuah ruko dari tabungan yang selama ini dikumpulkan.

“Alhamdulillah, saya mulai tahun 2013 lalu selain buka warung soto, juga mulai banyak berdatangan pesan catering rantangan soto untuk sebuah acara. Dari situlah saya bisa sewa ruko,” ujar Adli yang biasa dipanggil Pakde Soto.

Dalam menjajakan kuliner soto, dirinya sangat mengutamakan rasa. Kepada media inilah dia membocorkan larisnya soto lamongan yang selama ini menjadi ksaukaan warga Kota Jayapura. Yang paling utama menjual soto, katanya harus membuat kuah soto yang rasanya pas untuk lidah orang di Papua khususnya di Kota Jayapura.

“Kedua, nasi yang berkualitas dan empuk serta terakhir adalah koya untuk mengentalkan kuah soto. Saya itu utamakan rasa dulu, agar pembeli puas setelah menikmatinya,” dijelaskan Bapak dari Muhammad Wildan Mubarok (13 tahun) dan Bagus Adity (8 tahun).

Menurutnya dulu tahun 90-an penjual soto hanya satu, sekarang penjual soto tak terhitung lagi.

“Sangat banyak sekali penjual soto sekarang. Saya malah suka, karena jadi banyak teman. Memang bersaing, tapi kan rejeki dari Allah,” katanya sambil tersenyum.

Dua orang ibu menikmati soto lamongan milik Pakde Adli

Soto Lamongan Pakde Adli dapat anda cicipi tepatnya di pusat Kota Jayapura di deretan ruko persis disamping Taman Imbi atau tugu pahlawan Yos Sudarso dan bersebelahan kantor Dewan Perwakilan Rakyat Papua (DPRP).

Jurnalis : Indrayadi T Hatta / Redaktur : ME. Bijo Dirajo / Foto : Indrayadi T Hatta

Komentar