Telaga Ngebel Terkontaminasi Belerang, Petani Tambak Rugi Puluhan Juta

116
SELASA 14 FEBRUARI 2017

PONOROGO—Telaga Ngebel yang digunakan oleh warga sekitar sebagai lahan tambak, kini terkontaminasi belerang. Puluhan petani tambak mengaku rugi puluhan juta. Bagaimana tidak, puluhan ribu ikan siap panen maupun indukan dan anakan berada di satu lahan yang sama dan terlihat banyak mengambang di atas permukaan air telaga sejak Sabtu (12/2/2017) pagi lalu.
Ikan yang diobral warga.
Alhasil, para petani pun langsung bergegas mengambil ikan-ikan tersebut dan menjualnya kepada para wisatawan yang ada di kawasan wisata Telaga Ngebel. Cara menjualnya unik, tidak menggunakan satuan kilogram tetapi berdasarkan satu tali rafia dengan rentengan ikan.
Salah satu petani tambak, Harsadi Sunarto menjelaskan akibat kejadian ini ia harus merugi hingga puluhan juta. Sekitar 20 ribu ikan jenis Nila dan Tombro peliharaannya mati.
“Ini fenomena alam, dalam setahun setiap bulan Januari, Februari dan Agustus selalu seperti ini, ada perubahan warna air telaga akibat belerang,” jelasnya kepada Cendana News, Selasa (14/2/2017).
Menurutnya, meski begitu setiap petani tidak bisa menebak kapan kejadian ini terjadi. Biasanya diawali dengan mengambangnya udang dan ikan kecil diatas permukaan air telaga Ngebel. Guna mengurangi kerugian yang terlampau banyak, para pemilik tambak menjual ikannya dengan cara rentengan seharga Rp20 ribu.
“Kalau dijual per kilogram tidak laku, kalau dijual seperti ini laku, istilahnya diobral,” terangnya.
Harsadi menambahkan beruntung untuk ikan yang masih berusia dibawah satu tahun bisa diselamatkan. Karena biasanya ikan-ikan kecil ini berenang di permukaan guna mencari oksigen.
“Ikan yang teler dan mengambang, langsung saya ambil dan pindah ke kolam supaya lebih aman,” cakapnya.
Camat Ngebel, Suseno menerangkan fenomena ini biasanya sudah diprediksi para penambak, namun dugaan sementara tahun ini para penambak kecolongan sehingga banyak yang merugi. Diduga belerang keluar dari dasar telaga, sehingga ikan-ikan yang ada di telaga tidak bisa langsung diselamatkan.
“Akibat fenomena ini yang biasanya ikan dijual Rp30 ribu per kilogram, kini hanya Rp20 ribu itu pun menggunakan rentengan, istilahnya obral bahkan ada yang gratis,” tandasnya.
Mengingat setiap tahun kejadian ini selalu berulang, jumlah petani tambak pun berkurang setiap tahun. Kini hanya ada 15 – 20 petani saja yang tersisa. Fenomena ini pun langsung dilaporkan ke Dinas Pertanian Ponorogo.
“Saya juga menghimbau kepada pemilik perahu wisata untuk berlayar dekat dengan keramba milik warga, khawatir akan memperparah keadaan,” tukasnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Ponorogo, drg. Rahayu Kusdarini menambahkan ikan yang sudah terpapar kontaminasi belerang dalam jangka waktu lama dan ikan mati bisa menimbulkan keracunan. “Sebaiknya jangan mengkonsumsi ikan yang terpapar belerang,” tuturnya.
Namun jika kadar belerang masih rendah dan ikan yang dikonsumsi belum mati serta air telaga belum bau belerang yang menyengat, bisa dipastikan ikan masih aman. “Kalau sudah dikonsumsi dan tidak apa-apa berarti kadar belerangnya masih rendah dan aman untuk dikonsumsi,” pungkasnya. 
Jurnalis: Charolin Pebrianti/Editor: Irvan Sjafari/Foto: Charolin Pebrianti
Baca Juga
Lihat juga...