Tiga Jurnalis Bantu Tiga Warga Jawa Tengah Terlantar di Maumere

147

KAMIS, 2 FEBRUARI 2017

MAUMERE –  Tiga warga asal Desa Jebet, Kecamatan Taman, Kabupaten Pemalang, Provinsi Jawa Tengah, masing-masing Mulyadi (46), Budiharjo (50), dan Fajar Suryadi (20), duduk di depan Kantor Syahbandar dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Laurens Say Maumere, sejak pagi sekitar pukul 08.00 WITA hingga sekitar pukul 13.00 WITA. Ketiga warga perantau ini mengaku sedang menunggu Staf  KSOP Laurens Say, yang memintanya menunggu untuk bertemu pimpinan Staf KSOP, agar bisa membantu kesulitannya.

Ketiga warga asal Pemalang, Jawa Tengah saat berada di Dinas Sosial Kabupaten Sikka untuk dipulangkan ke kampung halaman.

“Kami sejak pagi pergi dari rumah teman kami, karena sudah tidak tahan, karena tidak ada pekerjaan dan ingin kembali ke kampung, namun tidak ada biaya,” ujar Mulyadi, Kamis (2/2/2017).

Saat ditanya wartawan dari Harian Victory News, Yunus Atabara, Fokus Nusa Tenggara, John da Gomez, dan Cendana News, Ebed de Rosary, ketiganya mengaku sejak pagi belum makan dan hanya berjalan kaki dari rumah kontrakan teman menuju Pelabuhan Laurens Say Maumere. “Dari pagi kami cuma makan roti sepotong untuk menahan lapar, sebab tidak memiliki uang untuk membeli makanan,” tambah Budiharjo.

Ketiga perantau ini akhirnya dibawa wartawan ke Kantor Dinas Sosial Kabupaten Sikka, agar bisa dicarikan solusinya. Menumpang ojek sepeda motor, ketiganya pun dibawa ke Polres Sikka dan Kantor Dinas Sosial.

Kepala Dinas Sosial, Moni Emi Lusia Laka, SH., dan Kepala Bidang Perlindungan dan Jaminan Sosial, Antonius R da Cinha, yang menemui ketiganya pun menanyakan penyebab mereka terdampar di Maumere.

“Kami bertiga dibawa teman sekampung untuk bekerja mengupas kelapa di Flores dan dijanjikan upah lima belas ribu rupiah untuk seratus buah kelapa yang dikupas,” terang Mulyadi.
Sebelum tiba di Maumere, ketiganya bekerja di Ndori, Kabupaten Ende, selama sebulan dan setelah itu dibawa ke Maumere untuk melakukan pekerjaan yang sama. Namun, ketiganya lebih banyak menganggur, karena kelapa yang dikupas tidak tersedia.

“Setiap hari kami hanya diberi makan nasi dan mi selama dua kali dan hanya dibayar lima ratus ribu rupiah, namun uangnya kami sudah kirim kepada keluarga di kampung,” sebutnya.
Karena tidak tahan, sambung Budiharjo, ketiganya ingin kembali ke kampung, meski tidak mempunyai uang sepeser pun. Sementara, ketiga teman lainnya memilih bertahan menetap di Maumere di rumah kontrakan teman yang membawa mereka.

Tonce, sapaan Kabid Bidang Perlindungan dan Jaminan Sosial Dinas Sosial Kabupaten Sikka, pun meminta wartawan mengantar ketiganya mengurus surat bagi orang terlantar di Kantor Polsek Alok, agar bisa dibiayai Dinas Sosial hingga kembali ke kampung.“Ketiganya akan kami urus untuk kembali ke kampung halaman, dan kami berharap agar warga yang ingin merantau harus benar-benar tahu pasti pekerjaan dan orang yang mempekerjakan mereka,” tuturnya.

Ditambahkan Tonce, bila ketiganya bekerja di perusahaan, maka pihaknya akan meminta tanggung-jawab perusahaan. Namun, ketiganya mengaku bekerja pada perorangan dan tidak mengetahui alamat rumah temannya, sehingga kami akan memulangkannya ke kampung asal.
“Ketiganya pun ingin pulang ke kampung halaman, karena sudah tidak tahan akibat menganggur di Maumere dan tidak memiliki keluarga di sini,” paparnya.

Sementara itu, Yunus Atabara, wartawan Victory News, mengatakan, kasihan setelah mengetahui ketiganya tidak mempunyai uang dan ingin kembali ke Pemalang, sehingga dibawa ke Dinas Sosial dan mengurus surat ke Polsek Alok. “Sejak pagi kami sudah melihat mereka duduk di depan Kantor KSOP Laurens Say, namun kami pikir mereka hendak mengurus surat pelayaran. Namun saat ditanyai dan dikatakan ingin meminta bantuan kami bawa ketiganya ke Dinas Sosial,” pungkasnya.

Jurnalis: Ebed De Rosary/ Editor: Koko Triarko/ Foto: Ebed De Rosary

Baca Juga
Lihat juga...