Titiek Soeharto Ingatkan Generasi Muda, Jaga Proses Demokrasi agar Tak Kebablasan

109
JUMAT, 17 FEBRUARI 2017

YOGYAKARTA — Tokoh nasional yang juga anggota DPR RI, Siti Hediati Soeharto, SE atau yang juga dikenal dengan nama Titiek Soeharto mengingatkan agar seluruh elemen bangsa khususnya generasi muda Indonesia dapat menjaga proses demokrasi yang sedang berjalan saat ini. Yakni agar demokrasi senantiasa berjalan berdasarkan Pancasila yang mengutamakan musyawarah untuk mufakat. Jangan sampai proses demokrasi berjalan tanpa arah dan cenderung kebablasan sebagaimana terjadi saat ini. 
Siti Hediati Soeharto, SE, saat memberikan sertifikat pada salah seorang pembicara, Ahmad Izudin, M.Si.

“Demokrasi telah berjalan sejak Indonesia berdiri. Bukan hanya baru ada sejak zaman sekarang ini atau sejak era reformasi saja. Di zaman Pak Karno ada demokrasi terpimpin. Di zaman Pak Harto ada demokrasi Pancasila. Namun sekarang ini demokrasi sudah berjalan kebablasan. Generasi muda harus bisa menjaga demokrasi Indonesia yang berdasarkan Pancasila. Bukan demokrasi yang sekadar bisa menyampaikan pendapat dengan demo-demo dan teriak-teriak saja. Karena itu bukan ciri khas bangsa kita, bukan ciri khas demokrasi Pancasila,” katanya, saat menjadi  Keynote Speaker dalam acara Sosialisasi 4 Pilar MPR RI yang bertema “Internalisasi Pancasila untuk Merawat Negara Indonesia”,  bertempat di Universitas Proklamasi 45, Yogyakarta, Jumat (17/02/2017).

Salah seorang pembicara acara tersebut, Dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Ahmad Izudin, M.Si, mengungkapkan hal senada. Ia menilai, pemuda Indonesia tidak boleh tergerus dengan kondisi dan situasi saat ini. Banyak persoalan dan tantangan yang dihadapai baik secara internal maupun eksternal.

Izudin mengatakan, 4 pilar kebangsaan, yakni Pancasila, UUD 45, NKRI dan Bhinneka Tunggal Ika, pertama kali dicetuskan oleh para pemuda-pemudi yang tergabung dalam gerakan Budi Utomo pada 1908. Namun, menurutnya, jauh sebelum itu, pilar kebangsaan  telah mulai didengungkan sejak zaman kerajaan Sriwijaya dan Majapahit.

“Kini setelah melewati tiga masa, yakni orde lama, orde baru, reformasi, dan kini memasuki orde kerakyatan, banyak persoalan yang muncul. Baik faktor internal maupun eksternal,” katanya.

Izudin menyebut sejumlah faktor internal seperti misalnya adalah menguatnya rasa kesukuan masyarakat yang seakan bangga dengan daerahnya masing-masing, hingga munculnya sekte-sekte keagamaan yang radikal, turut menjadi salah satu faktor yang berpotensi menimbulkan perpecahan. Termasuk juga semakin pudarnya semangat gotong-royong di tengah masyarakat, serta sikap oportunistik pemimpin, yang seolah saling mementingkan golongannya sendiri.

“Sedangkan faktor eksternal banyak disebabkan karena pengaruh globalisasi, kapitalisme dan liberalisme, yang telah masuk ke semua aspek lini kehidupan berbangsa dan bernegara. Mulai dari banyaknya perusahaan negara yang dikuasai asing hingga regulasi kebijakan yang lebih memihak asing. Hal semacam ini sangat berbahaya karena akan menjadikan masyarakat kita sekadar menjadi penonton di negeri sendiri,” katanya.

Suasana acara Sosialisasi 4 Pilar MPR RI yang bertema “Internalisasi Pancasila untuk Merawat Negara Indonesia”,  bertempat di Universitas Proklamasi 45, Yogyakarta.

Empat pilar bangsa, yakni Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika, dinilai Izudin sebenarnya dapat menjadi benteng ampuh untuk mengatasi semua persoalan tersebut. Khususnya bagi kalangan prmuda yang saat ini seolah semakin terlena dengan situasi dan kondisi sebagaimana disebut di atas.

Jurnalis: Jatmika H Kusmargana / Editor: Satmoko / Foto: Jatmika H Kusmargana

Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.