banner lebaran

Titiek Soeharto Ingatkan Generasi Muda Tak Lupakan Empat Pilar Bangsa

47

JUMAT, 17 FEBRUARI 2017

YOGYAKARTA — Anggota DPR/MPR RI dari Fraksi Partai Golkar, Siti Hediati Soeharto, SE atau akrab juga dikenal dengan nama Titiek Soeharto mengingatkan pada segenap elemen bangsa agar tidak melupakan hal-hal mendasar yakni Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika dalam menjalankan kehidupan berbangsa dan bernegara.

Titiek Soeharto.

Ia menyebutkan, Pancasila sebagai dasar dan ideologi negara, UUD 45 sebagai konstitusi negara, NKRI sebagai bentuk negara dan Bhinneka Tunggal Ika sebagai semboyan bangsa, harus senantiasa ditanamkan dalam jiwa setiap elemen bangsa sejak dini, khususnya pada generasi muda. Hal itu diperlukan agar bangsa dan negara Indonesia tetap kokoh dengan segala ancaman.

Hal itu diungkapkan Titiek saat menjadi Keynote Speaker dalam acara Sosialisasi 4 Pilar MPR RI bertema “Internalisasi Pancasila untuk Merawat Negara Indonesia” bertempat di Universitas Proklamasi, Yogyakarta, Jumat (17/02/2017). Acara ini digelar sebagai upaya untuk meningkatkan pemahaman sekaligus mengingatkan kembali 4 pilar bangsa, yakni Pancasila, UUD 1945, NKRI dan Bhinneka Tuggal Ika.

“MPR telah melakukan perubahan sebanyak 4 kali terhadap UUD 45 sehingga mengantarkan sejarah baru bagi kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia, ” katanya.

Dalam melakukan perubahan itu, MPR dikatakan juga membuat kesepakatan dasar untuk menetapkan arah dan batas di antaranya tidak mengubah pembukaan UUD 45, mempertahankan NKRI, memperkuat sistem presidensial, melakukan penjabaran UUD 45 yang normatif dalam pasal, hingga melakukan perubahan dengan adendum.

“Sesuai dengan yang diamanatkan dalam Undang-undang, kami menjalankan tugas untuk memasyarakatkan Pancasila, UUD 45, NKRI dan Bhinneka Tunggal Ika. Dengan sosialisasi ini, diharapkan dapat meningkatkan nilai-nilai kehidupan berbangsa dan bernegara,” paparnya.

Dalam kesempatan itu, Titiek juga mengaku, menaruh harapan besar pada generasi muda khususnya mahasiswa. Ia menilai generasi muda seperti mahasiswa harus senantiasa mengetahui, memahami sekaligus mempraktikkan nilai-nilai Pancasila dalam menjalankan kehidupan sehari-hari. Terlebih melihat kondisi saat ini, banyak pengaruh luar yang muncul lewat teknologi berbasis internet.

“Karena itulah nilai Pancasila harus tertanam betul dalam jiwa generasi muda termasuk mahasiswa. Ini diperlukan agar generasi muda tidak terpengaruh dan tergoda sehingga lupa pada jati diri bangsa Indonesia,” katanya.

Sementara itu, Rektor Universitas Proklamasi 45, Prof. Dr. M. Dawam Rahardjo dalam sambutannya mengatakan, 4 pilar bangsa Indonesia, yakni Pancasila, UUD 45, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika tidak dibentuk atau didirikan begitu saja, namun melalui proses panjang. Bahkan pada masa awal pembentukannya ia menyebut, banyak pihak menyangsikan ideologi Indonesia.

“Memang perlu proses pematangan. Yakni dengan konsensus-konsensus. Baik Pancasila, UUD 45, Bhinneka Tunggal Ika, dan NKRI. Meski awalnya sempat dipertanyakan, namun pada akhirnya justru yang mengakui adalah orang luar, yakni Jurgen Habermas dari Jerman,” katanya.

Menurut Jurgen Habermas, sebagaimana disampaikan Dawam, ideologi yang dianut Indonesia adalah ideeologi heterodoks atau ideologi yang tidak mengikuti ideologi sebelumnya. Baik kapitalisme maupun komunis.

Titiek Soeharto menyerahkan cinderamata kepada Rektor Universitas Proklamasi 45, Prof. Dr. M. Dawam Rahardjo.

“Demokrasi yang ada di Indonesia adalah demokrasi deleberatif, yang terjemahannya adalah demokrasi musyawarah. Bukan demokrasi yang lain. Intinya musyawarah. Bukan voting. Jadi, dasarnya silaturahmi atau tabayun. Segala sesuatu diputuskan secara musyawarah mufakat. Itu esensi demokrasi kita,” katanya.

Jurnalis: Jatmika H Kusmargana / Editor: Satmoko / Foto: Jatmika H Kusmargana

Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.