Titiek Soeharto: Peran Ulama Penting Redakan Isu SARA

173

SABTU, 18 FEBRUARI 2017

SLEMAN  — Anggota Komisi IV DPR RI, Siti Hediati Hariyadi, SE atau yang akrab disapa Titiek Soeharto mengingatkan pada semua pihak agar tidak mudah terpancing dengan isu yang menyinggung Suku, Ras, Agama dan Antar golongan (SARA) yang sering sekali muncul beberapa waktu belakangan ini. 

Titiek Soeharto disambut dengan kesenian tradisional kelompok panji langit nahrowi sshurur Ponpes QASHRUL ARIFIN

Hal tersebut disampaikannya dalam Rapat Dengar Pendapat Masyarakat di Ponpes QASHRUL ‘ARIFIN, Ploso Kuning III, Desa Minomartani, Ngaglik Sleman, Sabtu (18/02/2017).

Disebutkan, peran aktif ulama dan tokoh masyarakat sangat penting dalam meredakan ketegangan dan menanamkan persatuan dan kebhinekaan antar semua unsur golongan masyarakat. Pasalnya keberagaman dan kebhinekaan merupakan sesuatu yang tidak bisa dielakkan dalam kehidupan berbangsa yang multi etnis.

Dijelaskan, banyaknya perpecahan yang sering terjadi saat ini, disebabkan karena lunturnya sikap keberagaman dan kegotongroyongan, memudarnya nilai Pancasila, termasuk juga upaya-upaya untuk memecah belah dan membenturkan Islam dengan kebinekaan.

“Padahal Islam sendiri sebenarnya sangat menghargai dan menghormati keberagaman serta kebhinekaan. Bahkan kebhinekaan ada di dalam ajaran Islam itu sendiri,” katanya.

Dalam kesempatan itu, Titiek juga menegaskan bahwa ulama dan santri memiliki peran penting bagi kehidupan berbangsa dan bernegara secara nyata sejak lama. Baik sejak masa perjuangan kemerdekaan hingga perumusan dasar-dasar negara. Ulama dan santri memiliki peran besar dalam menyatukan seluruh elemen bangsa. Melalui peran para ulama itulah, bangsa dan negara Indonesia bisa ada sampai saat ini.

“Para ulama dan santri merupakan unsur penting dalan kehidupan berbangsa dan negara. Karena itu kualitas santri dan umat Islam pada umumnya harus ditingkatkan agar semakin baik. Saya mengajak semua elemen masyarakat serius dalam menerapan nilai-nilai Pancasila, baik nilai ketuhanan, nilai kemanusiaan, nilai persatuan, nilai musyawarah mufakat dan keadilan sosial dalam kehidupan sehari-hari,”terang anak keempat Presiden kedua RI, HM Soeharto.

Furaidi Hasan

Sementara itu mewakili pihak Pondok Pesantren Qasrul Arifin,  Furaidi Hasan menilai Islam dan nasionalisme atau kebangsaan tidak bisa dipisahkan. Pasalnya Islam sendiri selalu mengajarkan pada setiap umatnya untuk memiliki rasa nasionalisme kebangsaan pada negaranya.

“Islam dan kebangsaan tidak bisa dipisahkan. Karena rasul sendiri mengajarkan pada umat Islam untuk selalu cinta negaranya. Sehingga rasa cinta pada bangsa dan negara memang sudah menjadi salah satu bagian dari keimanan umat Islam,” katanya.

Karena itu, disampaikan Arifin, acara sosialisasi empat pilar bangsa yakni Pancasila, UUD 1945, NKRI dan Bhineka Tunggal Ika menjadi sangat penting dilakukan saat ini. Yakni untuk menjaga Islam di NKRI. Terlebih melihat situasi dan kondisi bangsa akhir-akhir ini dimana banyak terjadi gejala perpecahan di semua unsur masyarakat.

“Memang peneguhan kembali empat pilar bangsa sangat urgen. Apalagi sekarang ini banyak pihak yang berusaha memecah belah. Banyak yang memiliki kepentingan atas NKRI,”sebutnya.

Titiek Soeharto dan Pimpinan Pondok Pesantren QASHRUL Arifin menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Membacakan Pancasila

Ia mengharapkan, kegitan tersebut dapat meningkatkan kesadaran masyarakat untuk senantiasa menjaga bangsa dan negara.

“Karena kemerdekaan bangsa ini diraih berkat perjuangan para pejuang termasuk para ulama dan umat Islam,” katanya.

Jurnalis : Jatmika H Kusmargana / Redaktur : ME. Bijo Dirajo / Foto : Jatmika H Kusmargana

Baca Juga
Lihat juga...