hut

Usaha Batik Krakatau Motif Khas Lampung Berdayakan Kaum Ibu

RABU, 8 FEBRUARI 2017

LAMPUNG — Kain-kain bahan untuk kemeja terbungkus rapi dalam plastik dengan warna-warna cerah, seperti merah, hijau, kuning serta warna lainnya, yang merupakan hasil karya kaum ibu di wilayah Kecamatan Katibung, Kabupaten Lampung Selatan, terlihat dipilih oleh pembeli yang tertarik dengan kain batik khas bermotif bunga-bunga dan mahkota khas Lampung, Siger.

Sejumlah ibu-ibu antusias membatik.

Arsyad (38), pembina Gabungan Kelompok Batik (Gapoktik) Krakatau yang juga merupakan Kepala Dusun Campang Kanan, Desa Tanjungan, Kecamatan Katibung, mengungkapkan, Kelompok Batik Krakatau tersebut terbentuk sejak Januari 2016, setelah ada warga bernama Lusiana (30), yang mengajak kaum perempuan di wilayah tersebut untuk membuka usaha di bidang batik. Usulan dari ibu Lusiana yang berasal dari Magelang, Jawa Tengah, itu disambut baik oleh Arsyad, yang kemudian sepakat membentuk kelompok di desa tersebut.

“Awalnya memang kami memikirkan upaya untuk memberdayakan kaum perempuan di desa kami dalam bidang usaha pembuatan batik tulis, khususnya yang sesuai dengan kearifan lokal masyarakat di sini, di antaranya motif siger,” ungkap Arsyad, saat ditemui Cendana News di rumah sekaligus tempat berkumpul kaum perempuan pembuat batik tulis motif batik siger di desa itu, Rabu (8/2/2017).

Arsyad mengatakan, kegiatan mulai dilakukan dengan menyiapkan peralatan seperti kompor, canting, malam tawon, serta kain katun jenis primisima berkualitas untuk batik serta pewarna beberapa jenis yang dibeli dari Magelang, Jawa Tengah, dan Lusiana (33) sebagai tutor sekaligus pemberi kursus bagi kaum perempuan di desa tersebut selama 3 bulan.

Selain mengerjakan kain berukuran lebar 80 centimeter dan panjang 250 centimeter di lokasi workshop, para ibu juga bisa melakukannya di rumah masing-masing di sela pekerjaan rumah tangganya. Dari pekerjaannya membuat batik itu, para ibu memperoleh upah berkisar Rp. 60-100.000. Batik-batik tersebut dikumpulkan di workshop di rumah Arsyad, yang kemudian dijual lagi seharga Rp.250-350.000 per lembar.

Lusiana

Salah-satu pembeli batik Krakatau dari Kalimantan, Agus Rianto (50) dan Diki (40), mengaku membeli kain batik sebagai oleh-oleh untuk istrinya. “Saya kebetulan sedang berkunjung ke Lampung dan untuk keperluan pekerjaan di sini sekaligus membeli oleh-oleh kain batik, karena ada motif yang cukup unik di antaranya motif Siger simbol khas daerah Lampung,” terang Agus.

Sementara itu, Lusiana mengaku sebelum melakukan proses pengerjaan batik tulis bersama  25 perempuan di Desa Tanjungan tersebut, ia memang menempuh pendidikan di Sekolah Menengah Industri Kerajinan (SMIK), yang sekarang menjadi SMK Negeri 5 Bandarlampung, dan mengambil jurusan perbatikan. Setelah lulus dari SMIK, ia tinggal di Magelang, Jawa Tengah, dan secara kebetulan tinggal di dekat Candi Borobudur.

Di wilayah tersebut, Lusiana mengaku membina sebanyak 25 kelompok yang ada di wilayah Kabupaten Magelang dan mendapat dukungan dari UNESCO untuk mengembangkan batik di wilayah tersebut. Berbekal pengalaman melatih kelompok usaha batik tersebut, ia ingin mengembangkan batik di wilayah Lampung.

Sekembalinya ke Lampung sebagai tanah kelahirannya, ia pun mulai mengembangkan batik di tanah kelahirannya dan mengembangkan motif batik khas Lampung, siger. Sementara itu, dalam tahap selanjutnya ia juga membuat motif-motif tapis Lampung di antaranya gajah, gunung, serta motif-motif khas tapis Lampung lainnya.

Lusiana mengaku, salah-satu niatnya setelah kembali ke tanah kelahirannya di Lampung adalah memberdayakan masyarakat, khususnya kaum perempuan di wilayah Ketibung, agar bisa membantu suami dalam memperoleh penghasilan tambahan serta masih bisa merawat anak. Selain itu, ia berencana membuat konsep edukasi bagi anak-anak sekolah berupa outbound batik untuk wisata bagi tamu yang berkunjung ke wilayah Ketibung. “Selain membina kelompok di Dusun Campang Kanan, saya juga memiliki kelompok pembuatan batik tulis di Desa Rejo Agung yang anggotanya mencapai tiga puluhan orang,” ungkapnya.

Salah perempuan ibu rumah tangga yang ikut menekuni usaha batik tulis Krakatau sejak satu tahun terakhir, Diana (45), mengaku sangat terbantu dengan adanya usaha sampingan pembuatan batik tulis yang membuatnya memiliki penghasilan tambahan bagi keluarganya. “Sejak ikut membatik ini, saya memiliki penghasilan tambahan dan sangat didukung oleh suami dan anak-anak,” tambahnya.

Ia mengaku, dalam sepekan bisa membuat batik tulis siap jual sebanyak 3 lembar, dan mampu memperoleh penghasilan ratusan ribu rupiah dari proses pembuatan batik tersebut. Sebelumnya, pemasaran batik tulis yang ada di kelompok batik Krakatau tersebut hanya dilakukan saat ada pameran. Namun, setelah batik tulis semakin dikenal, sebagian dijual dengan dititipkan ke beberapa toko. Saat ini, dengan berbagai motif batik tulis khas Lampung dijual dengan kisaran harga Rp. 250.000 hingga Rp. 1 Juta.

Jurnalis: Henk Widi/ Editor: Koko Triarko/ Foto: Henk Widi

Lihat juga...
error: Terimakasih Sudah Berkunjung !!