Usaha Kupas Kerang Perempuan Pesisir Lampung

RABU 15 FEBRUARI 2017
LAMPUNG—Potensi sektor perikanan di wilayah pesisir pantai Timur Lampung dimanfaatkan oleh masyarakat di wilayah Kecamatan Ketapang Kabupaten Lampung Selatan untuk berbagai usaha. Kegiatan usaha itu mulai dari jual beli ikan,pengolahan hasil ikan dengan pangsa penjualan di pasar lokal hingga ekspor. 
Sebagian perempuan yang menyelesaikan pengupasan kerang.
Salah satu warga yang melakukan usaha kecil di sektor perikanan di antaranya Masnawiyah (45) dan Budi Kuntarjo (49) yang menekuni usaha pengupasan kerang,rajungan serta usaha jual beli ikan di wilayah pesisir Kecamatan Ketapang bahkan hingga ke wilayah Kuala Penet, Labuhan Maringgai Kabupaten Lampung Timur.
Masnawiyah dan Budi Kuntarjo mengungkapkan dalam musim tangkap jenis kerang bulu di wilayah perairan pantai Timur Lampung memperoleh pasokan kerang bulu dari wilayah Bunut dan Pelabuhan Gading Mas dengan jumlah rata rata mencapai 2 kuintal hingga 2 ton tergantung musim. Kerang jenis bulu yang dikupas oleh tenaga kerja di lokasi pengupasan merupakan usaha rumahan dengan sebagian besar pekerja sebanyak 90 persen perempuan dan sisanya kaum laki laki. 
Setiap hari proses pengupasan kerang yang bergantung dari pasokan para nelayan pencari kerang dikerjakan sejak pagi hingga siang hari oleh kaum perempuan di Desa Ketapang Laut Kecamatan Ketapang dengan menggunakan alat pencungkil untuk memisahkan daging kerang dengan cangkang yang akan dijual untuk sejumlah rumah makan serta pedagang ikan (pelele) keliling dan pelele di pasar ikan.
Usaha yang ditekuni sejak tahun 2011 tersebut diakui Masnawiyah dan sang suami bekerja di  perusahaan swasta di sebuah perusahaan swasta di bidang perikanan diantaranya melakukan pengepulan ikan jenis tertentu untuk pangsa ekspor diantaranya ikan teri nasi, ubur ubur, serta lobster di wilayah Kabupaten Tanggamus,Kabupaten Lampung Timur hingga Kabupaten Lampung Selatan. Beberapa tahun kemudian berkurangnya jumlah pasokan dan kuota ekspor yang tidak terpenuhi berimbas perusahaan swasta tempatnya bekerja menarik investasi yang telah ditanam dan berpindah ke wilayah lain.
“Suami sepakat berhenti bekerja meski perusahaannya masih beroperasi di tempat lain namun kami akhirnya membuka usaha dibidang yang sama dalam bidang perikanan dan melakukan jual beli hasil perikanan dan mencoba memasuki pasar ekspor ,”ungkap Masnawiyah saat ditemui Cendana News sambil memberi upah kepada kaum perempuan yang selesai mengupas dan menimbang kerang bulu di lokasi pengupasan Desa Ketapang Laut Kecamatan Ketapang,Rabu (15/2/2017)
Faktor cuaca berangin dan gelombang tinggi yang terjadi di wilayah perairan pantai Timur Lampung diakui oleh Asnawiyah membuat kebutuhan akan bahan baku khususnya jenis kerang bulu yang menjadi sumber penghasilan bagi masyarakat di wilayah Kecamatan Ketapang sedikit berkurang. Ia bahkan mengungkapkan setiap hari jenis kerang bulu yang dikupasnya dibeli sebanyak 200 kilogram hingga 500 kilogram perhari dalam kondisi masih memiliki  cangkang dengan harga sekitar Rp2000 perkilogram.
Kerang bercangkang yang dikirim dari wilayah Bunut dan dari wilayah Lampung Timur selanjutnya direbus dan selanjutnya dilakukan proses pengupasan untuk diambil dagingnya dan dikumpulkan oleh puluhan perempuan yang bekerja sejak pagi hingga siang.
Saat jumlah pasokan kerang sedikit hanya berkisar 500 kilogram hingga 800 kilogram dibutuhkan pekerja sebanyak 10-15 tenaga kerja yang didominasi kaum perempuan. Namun saat jumlah pasokan kerang bulu mencapai 1000 kilogram hingga 2000 kilogram jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan mencapai 30-40 kilogram.
Proses pengupasan paska kerang bulu direbus para tenaga kerja yang sebagian merupakan kaum perempuan isteri para nelayan di wilayah pesisir pantai Ketapang memperoleh  upah sekitar Rp2.000 perkilogram. Beberapa perempuan dalam sehari pengupasan hingga selesai di antaranya bahkan berhasil mengupas rata rata 20-30 kilogram dengan penghasilan Rp40 ribu hingga Rp60 ribu.
Bagi kaum perempuan yang rata rata isteri nelayan tersebut ungkap Masnawiyah bekerja sebagai pengupas kerang merupakan sumber penghasilan yang menjadi pilihan mata pencaharian bagi para ibu rumah tangga (IRT) disela sela pekerjaan harian. Pekerjaan mengupas kerang bagi para perempuan tersebut bahkan saat musim angin kencang dan para suami yang bekerja sebagai nelayan tidak bisa melaut merupakan pekerjaan yang memberi penghasilan untuk kebutuhan sehari hari.
“Saat sang suami yang bekerja sebagai nelayan tidak melaut otomatis mereka tak memiliki penghasilan dan kaum perempuan bekerja menjadi pengupas kerang dan rajungan,”terang Masnawiyah.
Beri Tambahan Penghasilan dan Tabungan Buruh Perempuan
Salah satu isteri nelayan bernama Rodiah (37) yang telah bekerja sebagai pengupas kerang bahkan kini memiliki tabungan berupa upah tenaga kerja yang terakumulasi selama beberapa hari dan belum diambil hingga mencapai Rp600 ribu. Uang sebanyak itu ungkapnya merupakan jumlah upah selama beberapa hari dikalikan jumlah kerang yang berhasil dikupas dan uangnya sengaja disimpan kepada sang bos untuk diambil pada saat dirinya membutuhkan uang tersebut.
Masnawiyah yang disebut sebagai bos usaha pengupasan kerang bulu,rajungan dan kerang susu.
Rodiah yang bekerja sebagai buruh upahan pengupas kerang dengan upah hanya Rp2.000 per kilogram mengaku uang yang sengaja belum diambil ditabung untuk kebutuhan sang anak sekolah yang sebentar lagi membutuhkan biaya untuk kenaikan kelas. Sementara untuk kebutuhan sehari hari dirinya masih bisa dicukupi oleh sang suami dari hasil melaut sebagai nelayan jaring payang.
“Uang yang saya peroleh sementara ditabung dan target saya kalau sudah mencapai satu juta baru saya ambil untuk persiapan anak sekolah masuk SMP”terang Rodiah.
Selain menjadi sarana pemberdayaan perempuan dikala tidak ada pekerjaan sampingan, usaha rumahan di sektor kelautan dengan pengupasan kerang jenis kerang bulu tersebut juga memberi penghasilan bagi para pedagang ikan keliling atau dikenal dengan pelele (pedagang ikan). Kepada para pelele kerang bulu yang telaj dikupas dijual dengan harga sekitar Rp2.700 hingga Rp 2.800 perkilogram dan oleh para pelele yang juga berjualan ikan dijual dengan harga Rp5.000 perkilogram.
Sebagian kaum perempuan dan para pelele menurut Budi Kuntarjo sang suami Masnawiyah selama ini ikut terbantu dengan keberadaan usaha rumahan pengupasan kerang tersebut. Peluang yang ada tersebut membuat Budi Kuntarjo yang pernah menekuni ekspor kerang jenis kerang susu (kepah) atau dikenal dengan kerang putih mulai merambah ke bisnis kepah dan rajungan.
Proses pengepakan dan penyortiran rajungan dan kepah dilakukan di rumah miliknya terutama saat pasokan dari wilayah Lampung Timur berlimpah. Ia bahkan mengaku pasokan dua kuintal hingga empat kuintal rajungan dikirim ke Surabaya untuk diekspor ke Jepang.
“Proses ekspor kami melakukan kerjasama dengan pengusaha lain dan saat ini pasokan masih minim sehingga masih fokus di pengupasan kerang bulu sementara kerang putih dan rajungan menunggu musim membaik”terang Budi Kuntarjo.
Jenis kerang susu atau kepah putih dengan kualitas ekspor ke Jepang dan China diakui Budi memerlukan penanganan khusus karena penerima memberikan patokan kualitas diantaranya bersih,tidak berpasir dan memiliki ukuran minimal. Sebagai langkah untuk menembus pasar ekspor saat ini Budi mengaku telah mengirimkan sebanyak 50 kilogram contoh untuk diuji laboratorium.
Patokan standar kualitas selain tidak berpasir diakuinya jenis kerang susu yang dihargai Rp2.500 per kilogram tersebut harus memiliki kualitas ukuran (Size) dari minimal 40 sentimeter yang diekspor ke Jepang. Sementara untuk dibawah ukuran tersebut dijual untuk pangsa pasar lokal sebagai bahan kuliner laut (seafoof) dan cara untuk membesarkan Budi Kuntarjo harus melakukan proses memelihara sementara waktu dengan metode dikerambakan dulu sebelum dipanen dan mencapai ukuran minimal.
“Contoh yang kami kirim semoga diterima untuk standar kualitas ekspor dan jika diterima kami berencana akan mengirim dalam jumlah besar minimal lima ton sekali pengiriman,” ungkap Budi Kuntarjo.
Usaha yang diharapkan menembus pangsa ekspor tersebut diakui Budi dan Masnawiyah sang isteri akan memberi dampak positif bagi kaum perempuan di wilayah pesisir Pantai Timur Lampung. Selain memberi penghasilan bagi para pencari dan pembudidaya kerang, buruh kupas kerang yang didominasi kaum perempuan juga memperoleh penghasilan harian.
Budi dan isterinya yang memperoleh modal dari pengajuan pinjaman di bank swasta tersebut mengaku saat ini belum mendapat bantuan permodalan maupun perhatian dari dinas atau instansi terkait. Ia bahkan mengaku proses pengajuan izin yang berbelit belit untuk usaha rumahan tersebut bahkan pernah dipersulit meskipun usaha miliknya masih berupa usaha rumahan dan sangat membantu peningkatan perekonomian kaum perempuan isteri para nelayan.
Proses penyimpanan daging kerang di boks pendingin.
Jurnalis: Henk Widi/Editor: Irvan Sjafari/Foto: Henk Widi

Komentar