banner lebaran

Wapeala Undip Adakan Doa Bersama untuk Korban Diklatsar UII

136
JUMAT 3 FEBRUARI 2017
SEMARANG—Kasus meninggalnya tiga mahasiswa Universitas Islam Indonesia (UII) dalam kegiatan The Great Camping (TGC) Mapala UII di Gunung Lawu sontak mengundang keprihatinan dari berbagai pihak.  salah satunya dari Mahasiswa Pecinta Alam (Wapeala) Universitas Diponegoro. 
Kgeiatan Basic Training Keahlian Khusus Wapeala Undip.
Pjs Ketua Wapeala, Alfian Prakoso Hadi menyayangkan kegiatan diklatsar sampai bisa menimbulkan jatuhnya korban jiwa.  Seharusnya  dalam kegiatan yang diadakan mapala sendiri, kekerasan sudah tidak dibutuhkan lagi, jadi panitia seharusnya sudah bisa meminimalisir kejadian tersebut.
Menurut Alfian, jika memang diperlukan “penggojlokan” dalam diklatsar, orientasinya tidak boleh menjurus kekerasan fisik terhadap calon anggotanya, tetapi harus mempunyai fokus kepada pendidikan pengenalan dengan alam. Tujuannya  agar mahasiswa lebih mudah berbaur dengan lingkungan sekitar dengan metode sikap seorang kakak terhadap adik, yaitu tegas karena perduli dan marah karena sayang. Sehingga peserta diklatsar akan mempunyai semangat lebih untuk meneruskan tongkat organisasi
“Sebagai bentuk keprihatinan kami, Wapeala Undip melaksanakan masa berkabung dan mengadakan doa bersama untuk almarhum yang meninggal,” ujar pria yang juga menempuh studi di D3 teknik perkapalan tersebut.
Alfian juga mengakui bahwa kasus diklatsar maut UII memang belum berimbas kepada kegiatan pecinta alam di Semarang, tetapi Wapeala akan terus aktif menjaga komunikasi baik dengan warga dan orang tua mahasiswa sembari memberi pengertian bahwa kegiatan pecinta alam di Undip tidak seperti yang dibayangkan. hal ini untuk menjaga agar jangan sampai para orang tua ketar-ketir ketika melepas anaknya untuk mengikuti kegiatan outbond.
Wapeala Undip sendiri dikenal sebagai kelompok pecinta alam yang berprestasi di Jateng. Organisasi yang berdiri pada tanggal 17 April 1976 ini telah menorehkan berbagai macam prestasi yang membanggakan. 
Akhir tahun lalu mereka meraih juara 2 putri dalam SRT Competition Mapadoks Unisulla (SCAPULA) tingkat provinsi Jateng-DIY, sebelumnya pada bulan Agustus juga meraih juara 2 dalam lomba Mapalast SRT Competition IV Se-Nasional. 
Atas prestasinya tersebut, pihak Balai Taman Nasional Manusela dan Rektorat mempercayakan kepada mereka kegiatan Diponegoro Moluccas Expedition, yaitu kegiatan pemetaan dan biospeleologi gua-gua yang terletak di kawasan karst Taman Nasional Manusela, Pulau Seram, Maluku Utara. Hasil dari eksplorasi tersebut akan dirujuk untuk diberdayakan sebagai kawasan wisata yang akan dipublikasikan pada seminar nasional pada tanggal 15 Oktober 2016.
Organisasi yang mempunyai anggota empat puluh orang ini juga aktif mengadakan kegiatan lain seperti yaitu mountaineering, rock climbing, caving, rafting dan diving yang berhubungan dengan konservasi dan kesosialan. semua kegiatan tersebut dikoordinasikan dalam lima bidang divisi kepetualangan.
“Untuk kegiatan sosial di perkotaan, kami juga sering mengadakan aksi masal menghapus coretan vandalisme di tembok-tembok umum,” kata Alfian.
Jurnalis: Khusnul Imanuddin/Editor: Irvan Sjafari/Foto; Khusul Imanuddin/Dokumen Wapeala Undip
Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.