banner lebaran

Warga Desa Pasuruan Lampung Selatan Swadaya Perbaiki Gorong-gorong

173
JUMAT 17 FEBRUARI 2017

LAMPUNG—Hujan deras yang kerap melanda sebagian wilayah Lampung Selatan berimbas tersumbatnya aliran air yang mengalir di saluran air dan gorong gorong di Desa Pasuruan Kecamatan Penengahan. Kondisi tersebut berakibat air meluap dan mengakibatkan kerusakan pada gorong gorong yang berada di jalan lingkungan desa setempat. 

Aparat Kecamatan Penengahan dan Desa Pasuruan meninjau lokasi untuk upaya perbaikan segera gorong gorong amblas.

Sekretaris Desa Pasuruan, Harto, mengungkapkan kerusakan pada jalan lingkungan di Dusun Pasuruan atas tersebut sudah dilaporkan ke pihak desa dan juga Unit Pelaksana Tekhis (UPT) Dinas Pekerjaan Umum Kecamatan Penengahan dan sudah dilakukan peninjauan untuk upaya perbaikan.

Menurut Harto, lokasi gorong gorong yang berada tak jauh dari pemukiman warga tersebut merupakan saluran air yang mengalirkan air dari pemukiman warga.  Sementara sebagian besar sampah yang terbawa adalah  yang dibuang sembarangan membuat saluran tersumbat.

Dia mengungkapkan perlu ada kesadaran dari masyarakat untuk tidak membuang sampah sembarangan terutama sampah yang bisa mengakibatkan air meluap ke jalanan. Selain itu ia mengaku kondisi jalan lingkungan yang tak seharusnya dilalui oleh kendaraan dengan tonase berat dilalui kendaraan pengakut material batu dan pasir untuk pembangunan rumah warga.

“Gorong gorong memang berada di jalan lingkungan dan sebagian dikerjakan oleh masyarakat secara swadaya sehingga pemanfaatannya memang untuk masyarakat di wilayah tersebut. Upaya perbaikan akan segera dilakukan dengan swadaya juga dari masyarakat,” ungkap Sekretaris Desa Pasuruan, Harto saat ditemui Cendana New, Jumat (17/2/2017).

Ia berharap dengan amblasnya gorong gorong tersebut dengan sampah yang menyumbat dan berada di sepanjang saluran air bisa menyadarkan masyarakat untuk menjaga kebersihan lingkungan. Sebab tergerusnya saluran air salah satu faktor penyebabnya sebagian sampah dibuang di selokan sehingga saat musim penghujan terbawa arus dan menyumbat gorong gorong.

Asep (34) salah satu warga mengaku gorong gorong untuk saluran air tersebut sudah dibangun sejak tahun 2006 dan belum mendapat perbaikan hingga kini. Da mengungkapkan selain jarang dilintasi pengendara jalan yang merupakan jalan lingkungan tersebut saat ini masih kerap dilintasi oleh para pemilik lahan.

Para pemilik lahan  ini  membangun perumahan dengan mengirim material batu, pasir dengan tonase yang sangat berat. Beban yang rata rata di atas lima ton tersebut bahkan diakui Asep menjadi satu faktor penyebab amblasnya gorong gorong tersebut.

“Selain banyaknya sampah yang menumpuk dan membuat pondasi penopang tergerus kendaraan pengangkut material yang membawa beban berat semakin membuat rusak gorong gorong tersebut,” terang Asep.

Gotong royong membuat talud.

Meski sementara belum bisa dilalui kendaraan namun masyarakat sekitar mulai berencana memperbaiki gorong gorong tersebut secara swadaya. Asep bahkan mengungkapkan beberapa material untuk perbaikan telah disiapkan diantaranya pasir dan batu untuk pondasi talud. Sementara untuk pembelian semen serta keperluan lain saat ini masih dilakukan penggalangan dana serta bantuan dari desa untuk perbaikan yang akan dilakukan saat hari libur, sebab sebagian warga yang tinggal di sekitar lokasi gorong gorong rusak tersebut bisa melakukan aktivitas gotong royong saat masa libur.

Aktivitas swadaya melakukan perbaikan jalan di Kecamatan Penengahan saat hari Jumat juga dilakukan oleh warga Dusun Banyuurip Desa Kuripan Kecamatan Penengahan. Puluhan warga yang mengalami kesulitan saat musim hujan dengan kondisi jalan berlumpur dan menjadi kubangan air saat musim penghujan.

Kondisi ini  membuat warga sepakat melakukan swadaya membuat saluran air dan menimbun jalan yang becek dengan batu. Salah satu warga Dusun Banyuurip, Lamino (34) mengungkapkan selain memperbaiki saluran air, penimbunan beberapa jalan berlubang dilakukan untuk memudahkan kegiatan warga.

“Kami sengaja swadaya membangun jalan sebagian dibantu dengan dana dari desa sebab bertahun tahun jalan yang ada di sini masih kerap tergenang air,”ungkap Lamino.

Akses jalan yang bisa menjadi jalan pintas dari Kecamatan Penengahan menuju Kecamatan Penengahan tersebut diharapkan akan bisa menjadi jalan utama sebab dengan adanya proyek Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS) dipastikan warga harus memutar terlalu jauh. Selama ini warga harus melewati jalan memutar untuk menuju Kecamatan Palas dan kini semakin jauh dengan sudah dibebaskannya sebagian lahan yang akan dipergunakan untuk jalan Tol Trans Sumatera.

Paska amblas material untuk perbaikan secara swadaya disiapkan.

Jurnalis: Henk Widi/Editor: Irvan Sjafari/Foto: Henk Widi
Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.