Warga Kampung Nendali, Panen Perdana Ikan Mujair

RABU 8 FEBRUARI 2017
JAYAPURA—Kelompok keramba Kampung Nendali, Distrik Sentani Timur, Kabupaten Jayapura memanen perdana ikan mujair, hasil bantuan dari program Corporate Social Responsibility (CSR) Pertamina Marketing Operation Region (MOR) VIII Maluku-Papua beberapa bulan lalu.
Panen ikan mujaer.
“Kami mengharapkan ke depan masyarakat lebih baik, perekonomiannya meningkat. Kami harapkan juga ini merupakan pembalajaran, khususnya masyarakat pesisir Danau Sentani,” kata Manager CSR PKBL Pertamina MOR VIII La Ode Syarifudin Mursalim, Rabu (08/02/2017) usai bersama-sama masyarakat memanen ikan tersebut di keramba pesisir Danau Sentani, Kabupaten Jayapura.
Ia berharap dari program ini dapat mendorong perekonomian masyarakat Kampung Nendali lebih maju dari sebelumnya dengan memanfaatkan sumber daya alam yang ada, terlebih dapat mandiri menunjang perekonomian keluarga mereka.
Pertamina sendiri dalam program ini, dijelaskannya bekerjasama dengan Fakultas ilmu Sosial dan Politik (Fisip) Universitas Cenderawasih (Uncen) agar dari sisi produksi, juga manajerial keuangan dapat berjalan dengan baik.
“Bibit ikan yang dari awalnya 7 cm sekarang sudah naik sampai satu kilonya bisa tiga ekor bahkan ada yang dua ekor,” tuturnya.
Ditempat yang sama, Ketua Program Studi Ilmu Kesejahteraan Sosial Uncen, Lalimudin menyatakan program tersebut harus berhasil karena warga Nendali yang dibina adalah para janda, duda dan masyarakat ekonomi lemah.
“Kami bisa nyatakan kalau mereka ini tak berdaya dan dengan CSR ini mereka diberdayakan untuk memperkuat ekonominya. Bantuan CSR Pertamina ini sebagai dasar supaya mereka bisa mandiri, panen ini akan dikordinir oleh kelompok dan didampingi Fisip Uncen,” kata Lalimudin.
Sekedar diketahui, Senin (07/11/2016) lalu PT. Pertamina (Persero) MOR VIII Maluku Papua serahkan bantuan puluhan keramba, ribuan bibit ikan dan pakan ikan kepada puluhan kepala keluarga, janda dan duda di Kampung Nendali, Distrik Sentani Timur, Kabupaten Jayapura dengan total nilai Rp350 juta. 
Jurnalis: Indrayadi T Hatta/Editor: Irvan Sjafari/Foto: indrayadi T Hatta

Komentar