Warga Penengahan Bahu Membahu Cegah Longsor, Manfaatkan Lahan Terjal

RABU, 15 FEBRUARI 2017
 

LAMPUNG — Memiliki tanah berada di lereng kaki Gunung Rajabasa yang terjal dan curam membuat tanah yang berada di Desa Banjarmasin, Kecamatan Penengahan, Kabupaten Lampung Selatan ini, tidak dilirik orang. Namun bagi Suwardi (50), tanah yang nyaris tak produktif dan hanya ditumbuhi semak-semak awalnya merupakan sebuah peluang untuk warisan anak-anak dan cucunya. Suwardi mengaku, membeli tanah tersebut dari seorang warga yang memiliki banyak lahan tanah dengan harga Rp 9 juta pada tahun 1999 berupa semak belukar. Tanah yang berada di lereng yang terjal dengan kemiringan di atas 45 derajat dan menghadap ke arah timur sehingga bisa melihat ke perairan Selat Sunda tersebut, bahkan oleh pemilik dibiarkan tidak produktif karena selain susah ditanami juga rawan longsor. Tapi bagi Suwardi yang pernah tinggal di kawasan Wonosari Gunung Kidul dan merantau ke Lampung, peluang memiliki tanah untuk ditanami berbagai jenis pohon dengan luas mencapai satu hektar tersebut sekaligus menjadi lahan investasi.

Suwardi di antara tanaman kayu jabon yang sudah berumur lima tahun miliknya.

Ia mengaku, mula-mula menanam beberapa jenis pohon bambu pada bagian atas lahan yang telah dibelinya tersebut sebagai pagar sekaligus penahan longsor. Sebelumnya, Suwardi mengaku, lahan yang berada di tanah miring tersebut kerap mengalami longsor karena hanya ditumbuhi semak belukar dan bebatuan. Namun dengan ketekunan Suwardi, ia telah melakukan pemanenan beberapa ribu batang pohon bambu, ratusan pohon medang, pohon akasia, pohon mahoni, pohon mindi, pohon sengon dan pohon jati ambon (jabon). Pola penanaman seperti pepohonan di hutan sengaja diterapkan oleh Suwardi karena lahan tersebut tidak memungkinkan untuk ditanami tanaman produktif.

“Kalau pada lahan datar kita bisa menanam tanaman perkebunan seperti kakao, jagung atau pisang. Tapi lahan yang saya beli ini sangat terjal sehingga saya tanami tanaman menahun berupa kayu keras yang panennya minimal empat tahun hingga lima tahun,” terang Suwardi saat ditemui Cendana News di kebun miliknya sembari mencari rerumputan di sela-sela pohon jati ambon untuk pakan ternak kambing miliknya, Rabu (15/2/2017).

Belasan tahun memiliki tanah yang dibelinya tersebut, ia mengaku, setidaknya telah melakukan beberapa kali pemanenan jenis kayu sengon, kayu medang serta jenis kayu bayur yang digunakan untuk anaknya membuat bangunan baru. Pasca rumahnya terkena dampak pembangunan Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS). Memiliki kayu keras tersebut, diakuinya memiliki nilai ekonomis tinggi karena jenis kayu-kayu sengon saat ini memiliki harga sekitar Rp 1,5 juta hingga Rp 2 juta per kubik. Kayu medang mencapai harga Rp 2,5 juta hingga Rp 3 juta per kubik dan kayu bayur mencapai harga Rp 4 juta hingga Rp 5 juta per kubik dan akan lebih mahal jika umur kayu-kayu tersebut semakin lama. Beberapa jenis kayu yang telah ditebang tersebut juga diakuinya kembali diremajakan dengan melakukan penanaman kembali pada bagian lahan yang telah ditebangi.

Selain melakukan penanaman kayu keras, ia mengaku memiliki hutan mini sekaligus kebun tersebut juga ditanami beberapa jenis tanaman yang bisa dipanen buahnya tanpa menebang kayu. Beberapa jenis tanaman yang ditanam di antaranya tanaman kelapa, tanaman nangka, tanaman durian. Meski demikian, saat usianya sudah tidak produktif, beberapa tanaman buah-buahan tersebut selanjutnya ditebang untuk diremajakan. Proses penanaman dengan pola multi purpose trees system (MPTS) yang banyak diterapkan masyarakat Desa Banjarmasin yang berada di lereng kaki Gunung Rajabasa.

Khusus untuk tanaman bambu, dengan memiliki hutan bambu yang dekat dengan jalan, ia mengaku memiliki penghasilan tambahan dengan banyaknya kebutuhan bambu untuk proses pengecoran rumah dengan sistem dak. Tanaman bambu jenis bambu hitam yang kini banyak dipesan dijual dengan harga Rp 1.000 per batang sehingga dari beberapa rumpun bambu yang dipanen dan dibeli para pemesan ia bisa memperolah uang sekitar Rp 500 ribu hingga Rp 1juta sekali panen. Tergantung banyaknya bambu yang dipesan. Selain dijual sebagian bambu yang ditanamnya juga digunakan untuk proses pembangunan rumah anaknya sehingga mengurangi biaya operasional. Sementara di sela-sela pepohonan tersebut, ia masih bisa mencari berbagai jenis rumput untuk pakan ternak kambing yang juga dipeliharanya.

“Saat ini sedang musim bangun rumah baru sehingga harga bahan-bahan bangunan termasuk material kayu naik, beruntung sebagian besar bahan bangunan dari kayu bisa diperoleh dari kebun sehingga mengurangi biaya,” ungkap Suwardi.

Berhasil mengembangkan kebun dengan pola penanaman seperti hutan, membuat Suwardi juga menjadi petani untuk percontohan kelompok tani kawasan hutan di bawah Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK). Beberapa bibit tanaman yang diperoleh dari Kementerian Kehutanan melalui pusat pembibitan permanen yang saat ini tengah dikembangkan di antaranya jenis tanaman kemiri, tanaman pinang serta berbagai tanaman keras lainnya yang bisa dimanfaatkan bagian buahnya tanpa harus menebang pohon.

Selain pemanfaatan kayu dan hasil kayu tersebut, Suwardi menuturkan, keberadaan mata air bersih di salah satu titik di kebun miliknya juga dimanfaatkan oleh sebagian warga untuk kebutuhan air bersih dan keperluan lainnya. Di wilayah lereng kaki Gunung Rajabasa hampir sepanjang tahun semenjak gencarnya masyarakat melakukan reboisasi dan penanaman kembali pada tahun 2000 membuat wilayah tersebut tidak pernah kekurangan air. Sementara, sebelum tahun 2000 dengan banyaknya masyarakat yang merombak tanaman berbagai jenis dengan tanaman seragam jenis cengkeh dan kakao, wilayah tersebut kerap mengalami kesulitan air.

“Kita pernah mengalami kesulitan air selama beberapa tahun, namun akhirnya masyarakat sadar dan kembali menanami lahan di beberapa lahan yang gundul dengan tanaman kayu keras dan mata air kembali muncul,” ungkap Suwardi.

Sebagian masyarakat bahkan tidak memiliki sumur dan hanya memiliki bak-bak penampungan di setiap rumahnya masing-masing karena melimpahnya sumber mata air termasuk di lahan yang dimiliki Suwardi. Suwardi mengaku, beberapa tanaman yang ditanam pada lahan yang sebelumnya tidak produktif dengan tumbuhan semak-semak dan ilalang bahkan pernah mengalami kebakaran. Namun, setelah dilakukan penanaman kayu-kayu keras lahan yang semula tidak produktif tersebut, diolah menjadi lahan produktif yang bisa bermanfaat secara ekonomis bagi dirinya dan bagi masyarakat setempat.

Salah satu warga Desa Rawi, Komarudin (44) yang juga memiliki lahan pembibitan berbagai jenis tanaman kayu produktif saat dikonfirmasi mengungkapkan, ikut mendampingi masyarakat di kawasan hutan Gunung Rajabasa. Ia mengaku dengan menyiapkan bibit berbagai jenis tanaman sebagian dibagikan dengan gratis ikut mengubah pola masyarakat yang semula bekerja dengan merusak sebagian kawasan hutan dan memilih untuk menanam kayu di lahan yang dimilikinya. Selain mencegah kerusakan hutan dan mencegah longsor, masyarakat yang menanam kayu bisa menabung untuk masa depan dengan harga kayu yang memiliki nilai ekonomis tinggi.

“Tanaman bambu yang awalnya hanya semak-semak dan jarang dimanfaatkan orang kini mulai bernilai tinggi dan ini yang harus disosialisasikan,” ungkap Komarudin yang juga menjadi pendamping kelompok kehutanan tersebut.

Komarudin pemilik ragam bibit tanaman yang dibagikan gratis kepada masyarakat, sebagian juga dijual.

Ia juga berharap masyarakat yang memiliki lahan tidak produktif dan sulit digarap untuk tanaman produktif sebaiknya dihutankan kembali dengan berbagai jenis tanaman. Ia bahkan mengaku, menyediakan tanaman secara gratis dan membantu petani yang kesulitan memperoleh bibit tanaman kayu untuk ditanam di lahan- lahan kritis sehingga lahan kritis yang selama ini tidak berguna bisa lebih memberi manfaat bagi masyarakat dengan hasil kayu yang bisa dijual dan digunakan sendiri untuk bahan bangunan.

Jurnalis: Henk Widi / Editor: Satmoko / Foto: Henk Widi

Komentar