Tradisi Rewang Tempatkan Perempuan sebagai Penentu Kesuksesan Hajatan

834

RABU, 8 MARET 2017

LAMPUNG — Keluarga Mujiono (45) dan Suryati (44) warga Desa Gandri, Kecamatan Penengahan, melangsungkan resepsi pernikahan anaknya dengan tradisi adat Jawa. Meski tinggal di wilayah Lampung namun tradisi gotong royong untuk melakukan acara pernikahan masih kental dilakukan di wilayah pedesaaan untuk terselenggaranya acara yang akan digelar selama dua hari berturut-turut. Menurut Mujiono,satu bulan sebelum acara dimulai, ia mendatangi sejumlah kerabat, handai taulan terdekat untuk “menjawab” atau mengundang sejumlah kerabat terlibat membantu dalam kegiatan resepsi tersebut. Kesediaan untuk “dijawab” oleh keluarga yang dimintai tolong untuk bisa membantu pemilik acara demi terselenggaranya acara tersebut dengan lancar.

Para pager ayu, anak-anak gadis yang menyambut tamu saat resepsi.

Proses pembentukan kepanitiaan dimulai dari kegiatan menyiapkan hantaran atau “punjungan” berupa makanan lengkap dengan lauk-pauk yang merupakan undangan resmi ke pihak keluarga yang dihantar. Kepanitiaan hari resepsi hingga proses berakhirnya acara disusun dengan rapi sesuai musyawarah. Selain itu, gotong royong menyiapkan berbagai sarana dan prasarana mulai dari tempat hingga persiapan lain dilakukan juga secara gotong royong dan dikerjakan menurut bagian masing-masing tanpa kecuali kaum perempuan. Kaum perempuan cukup memiliki peranan penting dalam menyiapkan segala kebutuhan konsumsi para tamu undangan, panitia, hingga hal-hal kecil dalam penyiapan piring, gelas, serta untuk acara resmi resepsi pernikahan.

Tradisi bergotong royong di pedesaan tak hanya saat acara pernikahan melainkan juga acara khitanan dan acara kelahiran. Tradisi gotong royong tersebut di wilayah Lampung Selatan terutama warga asal Pulau Jawa dikenal dengan tradisi rewangan. Rewangan yang masih dijalankan oleh masyarakat pedesaan tersebut menurut salah satu tetua masyarakat di Desa Gandri, Mbah Suroso (60), merupakan tradisi yang masih dilestarikan hingga kini. Meski telah dijalankan selama puluhan tahun silam. Tradisi gotong royong tersebut dikerjakan oleh kaum laki-laki dan juga kaum perempuan yang menopang suksesnya acara tuan rumah.

Membersihkan piring secara bersama-sama.

“Kaum perempuan memiliki peranan penting dalam terselenggaranya acara karena meski perempuan dianggap sebagai konco wingking atau mengerjakan hal-hal yang di belakang namun terselenggaranya acara tergantung dari kerja keras kaum perempuan,” terang Mbah Suroso, saat ditemui di sela-sela kegiatan resepsi pernikahan di Kecamatan Penengahan, Rabu (8/3/2017).

Ia menegaskan, peranan perempuan dalam acara-acara tradisional di pedesaan menempatkan perempuan dan laki-laki dalam tugas yang sama untuk kesuksesan suatu acara. Ia bahkan menyebut kolaborasi antara panitia yang dipegang oleh laki-laki yang sebagian mengurusi hal-hal bagian depan dan panitia bagian belakang yang dilakukan kaum perempuan sangat diperlukan. Sebab selama kegiatan resepsi, tuan rumah atau saiful hajat akan menyerahkan sepenuhnya segala urusan terselenggaranya acara kepada panitia.

Kaum perempuan, ungkap Suroso, akan bekerja sejak Subuh mulai pukul 04:00 WIB, menyiapkan berbagai keperluan konsumsi di dapur. Sementara, kaum laki-laki mulai bekerja mengerjakan tugas masing-masing dalam kepanitiaan. Mulai dari membuat tarub, mengirimkan punjungan, kaum perempuan juga memiliki peranan untuk menyiapkan bahan punjungan agar bisa dihantar dengan cepat. Beberapa perempuan ditugaskan sebagai “penunggu warung” atau bahan-bahan keperluan selama hajatan di antaranya bahan mentah berupa beras, mie kering, bumbu-bumbu serta kebutuhan lain untuk diolah di dapur.

Kesibukan menyiapkan bumbu dan memasak di dapur yang akan digunakan untuk pesta.

Sementara kaum perempuan yang lain memasak di dapur dan menyiapkan bumbu, sebagian memasak dan sebagian membungkus hantaran yang akan dihantar ke kerabat dan kenalan. Sebagian perempuan yang memiliki tugas lain bertugas mencuci piring dan juga mengerjakan tugas-tugas lain yang berhubungan dengan kebutuhan selama penyelenggaraan acara berlangsung.

“Hingga saat ini tradisi rewangan masih dijalankan masyarakat dan semua warga dilibatkan baik laki-laki maupun perempuan sama-sama membantu tuan rumah. Hal yang sama bergantian dilakukan saat warga lain menyelenggarakan kegiatan hajatan,” terang Suroso.

Tradisi kemasyarakatan yang masih memegang nilai-nilai tradisional tersebut bahkan belum mengenal istilah menyelenggarakan resepsi di gedung pertemuan, menyewa tenda dan kursi serta menggunakan jasa penyediaan konsumsi (katering). Sebab dari mulai tenda menggunakan bambu, penyediaan konsumsi serta tempat hingga acara berlangsung dilakukan oleh panitia secara bergotong royong. Tua, muda bahkan masih anak-anak terlibat secara aktif hingga selesainya acara.

Meski Tradisional Rewangan Belum Tergerus Zaman Modern
Salah satu warga lain, Suminah (45) mengungkapkan, di pedesaan, peranan perempuan dalam kegiatan acara tradisional masih sangat penting. Perempuan bahkan tak hanya dilibatkan untuk urusan belakang atau konco wingking, melainkan untuk hal-hal penting lain di bagian depan saat pelaksanaan acara di antaranya berperan sebagai pagar ayu (penerima tamu), menunggu bagian konsumsi dan bahkan ikut menyiapkan dekorasi atau hiasan untuk tempat pengantin yang sebagian dilakukan kaum perempuan muda. Sementara untuk perempuan yang sudah tua diberi pekerjaan yang lebih ringan dengan hanya menjaga warung atau tempat stok kebutuhan selama acara.

“Kaum perempuan dalam acara tradisional bahkan akan lebih banyak dilibatkan karena kehadiran kerabat perempuan cukup membantu mulai dari menyiapkan bumbu dapur hingga memasak dan berbagai keperluan yang dibutuhkan tuan rumah untuk suksesnya acara,” ungkap Suminah.

Suminah mengaku, tradisi masyarakat Jawa yang masih dipertahankan di pedesaan di Lampung tersebut masih menempatkan perempuan  memiliki peranan penting dalam suatu acara. Ia bahkan mengakui, hingga saat ini puluhan tahun berjalan di wilayah pedesaan di Lampung Selatan justru masih belum umum menyelenggarakan resepsi pernikahan dengan sistem sewa tempat termasuk menggunakan jasa katering. Selain tradisi rewangan masih menjadi kearifan lokal masyarakat bersuku Jawa, nilai-nilai kekerabatan,kegotongroyongan masih kental terasa bahkan tak tergerus zaman.

Suroso, tetua kampung memberikan wejangan kepada pengantin.

Sebagian perempuan bahkan menjadi “wakil” bagi setiap keluarga karena saat mendatangi tuan rumah untuk mengikuti rewang atau membantu, kaum perempuan masih membawa “gendongan”. Gendongan yang dimaksud di antaranya berupa 50 kilogram beras, 20 kilogram gula pasir, 5 liter minyak goreng serta barang- barang lain yang dibawa ke pemilik acara. Hal yang sama akan terjadi saat kaum perempuan yang datang tersebut juga memiliki acara karena imbal balik masih tetap dijalankan dengan tujuan meringankan beban pemilik acara.

Suminah bahkan menegaskan, rewangan sekaligus menjadi cara kaum perempuan di pedesaan untuk mempererat persaudaraan dengan mengerjakan hal-hal yang mudah dan sulit secara bersama-sama. Sebagian perempuan bahkan tak pernah memandang status pekerjaan, status sosial terutama saat berkumpul menjadi satu di dapur dan mengerjakan pengolahan makanan, menyiapkan bahan-bahan makanan untuk dimasak secara bersama-sama. Selain itu dengan bertemu dalam acara khusus beberapa kerabat yang jauh bisa bertemu dan bisa saling mengenal.

“Bagi masyarakat pedesaan, kemajuan zaman tetap belum bisa menggeser peranan kaum perempuan dalam bergotong royong untuk acara tradisional bahkan kaum perempuan masih dipandang sebagai penentu kesuksesan suatu acara,” terang Suminah.

Ia mengungkapkan, meski zaman telah modern namun nilai-nilai kebersamaan, kegotongroyongan yang ditunjukkan kaum perempuan di pedesaan masih menjadi perekat untuk nilai-nilai persaudaraan. Sebagian perempuan yang diundang untuk mengikuti rewang bahkan memiliki tugas yang sama penting, mulai dari penerima tamu hingga hanya sebagai pencuci piring untuk berlangsungnya acara tuan rumah seperti resepsi pernikahan atau kegiatan lain yang masih dilakukan masyarakat desa.

Jurnalis: Henk Widi / Editor: Satmoko / Foto: Henk Widi

Baca Juga
Lihat juga...