Bulog Kalsel Targetkan 600 Outlet Rumah Pangan

157

JUMAT, 19 MEI 2017

BANJARMASIN — Perum Bulog Divisi Regional Kalimantan Selatan menargetkan pembukaan 600 outlet Rumah Pangan Kita (RPK) se-Kalimantan Selatan pada 2017 sebagai kepanjangan tangan dalam menyediakan berbagai kebutuhan pokok dengan harga kompetitif. Untuk saat ini sudah berdiri sebanyak 267 outlet di provinsi tersebut.

Kadivre Bulog Kalimantan Selatan, Deddy Supriadi

“Kalau sudah ada RPK di setiap desa kedepannya, tentunya Bulog tak perlu lagi harus melakukan operasi pasar di daerah tersebut. Cukup melalui RPK saja untuk menjualnya. Ini penting direalisasikan,” ujar Kepala Divre Bulog Kalimantan Selatan, Deddy Supriadi di Banjarmasin, Jumat (19/5/2017).

Karena itulah, pihaknya kini gencar melakukan sosialisasi di lapangan agar makin banyak masyarakat yang tertarik membuka RPK bekerjasama dengan Bulog. Adapun syaratnya cukup mudah, dengan membawa keterangan domisili dari Rukun Tetangga (RT) setempat, Kartu Tanda Penduduk (KTP), dan Kartu Keluarga (KK). Ia berharap kemudahan syarat ini membuat masyarakat dapt menjadi mitra Bulog.

“Kalau untuk koperasi atau minimarket juga dapat bekerjasama membuka RPK Bulog, syaratnya hanya cukup membawa legalitas usaha ataupun koperasi,” sebutnya.

Kebutuhan pokok yang bisa dibeli oleh RPK di Bulog seperti beras, gula, dan minyak goreng. Sementara produk lainnya yang dapat dibeli seperti daging sapi dan bawang mesti menyesuaikan kebutuhan pasar.

“Untuk nominal pembeliannya tak ada batas minimal, pembelian di bawah Rp1 Juta pun kami layani. Namun memang kita tak bisa mengantarnya langsung ke tempat karena keterbatasan SDM,” ujar pria asli Jawa Barat itu.

Ketua Harian DPP Perhimpunan Anak Transmigran Republik Indonesia (PATRI), Abdussani, menargetkan berdirinya 500 outlet Rumah Pangan Kita (RPK) yang tersebar di setiap desa transmigran se-Kalimantan pada 2017. Menurutnya, target tersebut berdasarkan asumsi setiap Provinsi di Pulau Kalimantan sanggup mencetak 100 outlet RPK.

Pihaknya memanfaatkan keberadaan Himpunan Wirausahawan Transmigran (HAWITRAN) untuk menggencarkan konsep RPK ke pelosok desa transmigran. Ia menargetkan, minimal 1 Outlet RPK berdiri di setiap Desa Transmigran dan sekitarnya.

“Mulai tahun 2017 dibangun untuk mengimbangi ritel-ritel modern, jadi masyarakat desa bisa dapat harga sembako murah dan stabil,” ujarnya.

PATRI menggandeng Perum Bulog, Bank BNI, Kementerian Koperasi dan UKM, dan Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi untuk merealisasikan RPK se-Kalimantan. Ia mengklaim, PATRI baru pertama kali ini mencoba membangun konsep RPK yang berfokus di area transmigrasi.

“Ini kesempatan masyarakat untuk bisa mendapatkan penghasilan tambahan dengan membuka RPK, di antaranya gratis pendaftaran, modal ringan, gratis ongkos kirim pemesanan perdana, dan jaminan barang dengan kualitas dan harga terbaik,” ungkapnya.

Menurut dia, RPK menyediakan produk murah demi mewujudkan akses pangan pokok. RPK bisa juga menstabilkan harga pangan dengan modal awal mendirikan Outlet RPK cukup ringan Rp5 Juta.

“Adapun pengeluaran rutin Rp. 10.250.000 per bulan, yang digunakan untuk pasokan barang sebanyak Rp10 Juta dan biaya operasional Rp250.000. Dengan simulasi ini, laba setiap bulan sekitar Rp550.000, atau balik modal dalam 9 bulan,” jelas Abdussani.

Jurnalis : Diananta P Sumedi / Redaktur : ME. Bijo Dirajo / Foto : Diananta P Sumedi

Source: CendanaNews

Komentar