Generasi Milenial, Dituntut Mampu Ciptakan Lapangan Kerja

74

KAMIS, 18 MEI 2017

SEMARANG — Memasuki generasi milenial, mahasiswa diharapkan mampu menciptakan ekonomi kreatif sebagai lapangan pekerjaan baru. Hal ini dikarenakan sesuai data yang dimiliki Kementerian Perdagangan RI, presentasi kontribusi Ekonomi Kreatif sudah mencapai 11 persen di atas industri pengolahan 9 persen, konstruksi 6 persen, pengangkutan dan komunikasi 4 persen dan pertambangan 1 persen.

Pemateri Seminar Nasional Yoyok Riyo Sudibyo (paling kiri) dan Ferry Firmawan (tengah)

Menurut Ketua Bidang Koperasi, UKM dan Pengembangan Start-Up Himpunan Pengusaha Muda (HIPMI) Jawa Tengah, Ferry Firmawan, sesuai dengan komitmen Presiden Joko Widodo dalam acara Temu Kreatif Nasional di International Convention Exhibition pada 2015, Ekonomi kreatif dijadikan sebagai salah satu tulang punggung perekonomian bangsa. Karena itu, mahasiswa dengan bermodal ilmu pengetahuan yang dimiliki selama perkuliahan bisa membuka lapangan pekerjaan sendiri setelah lulus nanti, terutama bisnis start up.

Bisnis start up saat ini dipandang sebagai peluang usaha yang paling menjanjikan. Ini dibuktikan dari lima orang terkaya di dunia, tiga orang di antaranya berbisnis start up, yaitu Bill Gates dengan Microsoft, Jeff Bezos berbisnis amazon.com dan Mark Zuckenberg dengan Facebook.

Menurut Wakil Ketua Bidang CSR dan Persaingan Usaha Kamar Dagang Industri (Kadin) Jawa Tengah, itu, ada tiga pilar yang diperlukan untuk memulai bisnis start up. Pertama adalah ide yang sederhana, kedua, networking kuat, dan ketiga, pangsa pasar yang teridentifikasi. Jika mahasiswa sudah bisa melaksanakan tiga tahap tersebut, bisa dipastikan untuk menjalani bisnis start up bukan hal yang mustahil.

“Jumlah wirausahawan di Indonesia masih sangat minim, hanya mencapai satu persen di bawah Malaysia yang tiga persen dan Singapura, tujuh persen,” tukas Ketua Bidang Kaderisasi dan Pengembangan SDI ICMI Jawa Tengah, tersebut, saat acara Seminar Nasional di Universitas Dian Nuswantoro, Kamis (18/5/2017).

Ferry berharap, mahasiswa bisa berpikir out of the box, artinya setelah lulus tidak hanya berpikir tentang mencari kerja, tetapi sudah merencanakan membuka lapangan kerja.

Peserta Seminar tampak antusian mengikuti jalannya acara

Sementara itu, CEO PT. Smile Papua, Yoyok Riyo Sudibyo, berpendapat, bahwa untuk berwirausaha dibutuhkan passion khusus, karena itu sejak kuliah mahasiswa harus sudah menentukan karier yang akan ditempuh, jangan hanya menjadikan wirausaha sebagai pelarian saja. Selain itu, ketika sudah memutuskan berwirausaha juga harus fokus untuk menjalaninya, jangan mencoba hal lain ketika melakukan bisnis, karena hal tersebut akan membuat bisnis menjadi tidak terurus.

“Pebisnis harus fokus kepada bisnis yang dijalani, jangan pernah menaruh kaki di dua kapal yang berbeda,” tambah mantan Bupati Batang, itu.

Yoyok berharap, ketika memasuki bonus demografi, generasi muda harus mampu menciptakan lapangan kerja sendiri, jangan hanya bergantung kepada orang lain. “Jika itu terjadi, yang akan berkuasa adalah bangsa asing dan kita hanya menjadi penonton di negeri sendiri. Saya masih belum percaya akan bonus demografi, jika generasi muda masih menjadi konsumen orang lain,” katanya.

Seminar Nasional Teknik Industri Enterpreneur diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Teknik Industri, di Gedung E, tersebut, mengambil tema ‘Generasi Muda Berwirausaha, Menciptakan Ide dan Peluang Bisnis Kreatif Inovatif Menuju Indonesia Mandiri’, dihadiri oleh 250 peserta.

Jurnalis: Khusnul Imanuddin/ Editor: Koko Triarko/ Foto: Khusnul Imanuddin

Source: CendanaNews

Komentar