Indonesia Berada di Tengah Medan Perang Generasi ke-4

144

SENIN, 15 MEI 2017

YOGYAKARTA — Di era kemajuan teknologi informasi seperti saat ini, Indonesia dinilai sedang berada di tengah medan perang generasi ke-4 yang mengedepankan konsep mengalahkan tanpa harus bertempur. Strategi perang generasi ke-4 atau perang proksi (proxy war), dilakukan dengan cara merusak mental dan budaya masyarakat sebuah bangsa atau negara.

Sri Sultan saat membuka acara Forum Badan Koordinasi Hubungan Masyarakat (Bakohumas) Lembaga Sandi Negara (Lemsaneg), di Yogyakarta 

“Perang proksi adalah perang generasi ke-4 yang dilakukan secara terselubung menggunakan pihak ketiga. Perang ini tidak memakai senjata militer canggih. Namun, dengan penghancuran budaya, ekonomi, serta moral dan mental generasi mudanya,” ujar Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X saat menjadi pembicara dalam Forum Badan Koordinasi Hubungan Masyarakat (Bakohumas) Lembaga Sandi Negara (Lemsaneg), Senin (15/5/2017).

Menurut Sultan, perang proksi sudah terjadi di Indonesia sejak awal 2000, saat Indonesia mulai melibatkan pihak asing dalam menyusun Undang-Undang termasuk mengamandemen UUD 1945. Indonesia dengan segala kekayaan alam yang dimiliki dianggap sebagai sebuah sasaran empuk bagi negara lain untuk diserang dan dikuasai. “Perang generasi pertama adalah perang yang disepakati kedua belah pihak, seperti perang Baratayudha. Perang generasi kedua adalah perang kota. Perang generasi ketiga adalah perang dengan pengerahan pasukan dan senjata modern seperti perang dunia,” katanya.

LGBT (Lesby, Guy, Biseksual dan Transgender), dikatakan Sultan merupakan salah satu contoh strategi perang generasi ke-4 untuk menghancurkan budaya asli dengan budaya asing yang dapat menghancurkan budaya sebuah bangsa dari dalam. Perang proksi ini dikatakan memakan waktu lebih lama, karena harus mengubah mainset dan mental masyarakatnya.

“Misalkan, Amerika menyatakan perang terhadap Indonesia, maka yang dipilih adalah perang proksi dengan memanfaatkan pihak ketiga seperti Singapura, Malaysia atau Australia. Atau juga dengan NGO, gerakan masa, elit politik atau kelompok mujahidin, yang mereka biayai. Hingga berujung bentrok, perpecahan, pengusaan tambang emas, kelapa sawit, dan sebagainya,” katanya.

Contoh nyata perang proksi, di Indonesia yang telah terjadi, dikatakan Sultan adalah lepasnya Timor Timur dari Indonesia. Di mana Australia membentuk gerakan separatis untuk memberontak. Sementara pada saat yang bersamaan dicuatkan isu pelanggaran HAM, yang memaksa keluarnya resolusi dewan PBB untuk turut campur, hingga akhirnya membuat Timor Timur menjadi sebuah negara baru.

Jurnalis: Jatmika H Kusmargana/ Editor: Koko Triarko/ Foto: Jatmika H Kusmargana

Source: CendanaNews

Komentar