Jelang Ramadhan, Banjarmasin Antisipasi Kisruh Sosial dan Politik

122

JUMAT, 19 MEI 2017

BANJARMASIN — Pemerintah Kota Banjarmasin mulai mengantisipasi potensi kisruh sosial dan politik menjelang bulan suci Ramadhan. Pemko Banjarmasin mengumpulkan para pemangku kepentingan seperti Badan Intelijen Daerah Kalimantan Selatan, FKUB, Forum Komunikasi Deteksi Dini, dan unsur intelijen lainnya di Kota Banjarmasin.

Walikota Banjarmasin, Ibnu Sina.

Walikota Banjarmasin, Ibnu Sina, mengatakan koordinasi diperlukan untuk deteksi dini terhadap situasi di Kalimantan Selatan, khususnya di Kota Banjarmasin. “Menjelang puasa perlu ada situasi kondusif. Banyak isu-isu dari pusat seperti HTI dan seribu lilin. Isu-isu ini memicu kerawanan, termasuk di Banjarmasin,” ujar Ibnu, usai menghadiri rakor terpadu, Jumat (19/5/2017).

Selain itu, Ibnu mengatakan para tokoh masyarakat sepakat menggencarkan razia obat-obatan terlarang dan mengantisipasi gerakan radikal. Lewat upaya konsolidasi, Ibnu berharap Kota Banjarmasin tetap kondusif di tengah isu disintegrasi bangsa. “Penyakit masyarakat perlu diberantas. Termasuk masuknya generasi-generasi dari luar Banjarmasin yang bisa memperkeruh Banjarmasin,” ujarnya.

Pihaknya sepakat menghidupkan kembali pos ronda dan saling responsif terhadap pendatang baru di perkampungan. Ibnu pun menginstruksikan penutupan tempat hiburan malam, ketika bulan Ramadhan. Sebab, maraknya hiburan malam di tengah bulan suci berpotensi menyulut kerusuhan. “Karena kalau sudah masuk isu agama, ini sangat sensitif. Termasuk gepeng, Satpol PP harus mengambil sikap sebagai bentuk deteksi dini,” kata Ibnu.

Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Kota Banjarmasin, Muhammad Kasman, mengatakan pertemuan ini merespons isu-isu aktual dan ancaman. Menurutnya, pertukaran informasi antar pemangku kepentingan diperlukan demi menciptakan keamanan di Banjarmasin. Kasman mengklaim, secara umum situasi Kota Banjarmasin cukup kondusif. “Sekarang cukup kondusif,” ujar Kasman.

Catatan Cendana News, setidaknya ada tiga peristiwa di Kota Banjarmasin yang berpotensi menyulut konflik terbuka. Pertama, pembubaran aksi Hisbut Tahrir Indonesia di Taman Bekantan. Kedua, penolakan warga terhadap pendirian bangunan gereja di Komplek DPR, Kelurahan Belitung Selatan. Adapun ancaman ketiga, yakni demonstrasi ormas radikal yang menuntut hukuman maksimal terhadap bekas Gubenur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama.

Ditemui selepas acara, perwakilan BIN Kalimantan Selatan, mengunci mulut perihal potensi ancaman di Kota Banjarmasin. “Jangan saya,” kata dia, seraya berlalu meninggalkan kerumunan wartawan.

Jurnalis: Diananta P. Sumedi/ Editor: Koko Triarko/ Foto: Diananta P. Sumedi

Source: CendanaNews

Komentar