Lolos Seleksi Tahap I Komnas HAM, Tokoh FPI Jateng Tuai Kecaman

66

RABU, 17 MEI 2017
SEMARANG — Lolosnya tokoh Front Pembela Islam (FPI) Jateng saat mengikuti seleksi tahap pertama calon komisioner Komnas HAM, Zainal Abidin, menuai kecaman dari Lembaga Studi Sosial dan Agama (Elsa). Panitia seleksi dinilai hanya berpatokan pada data administrasi tetapi kurang jeli melihat kondisi riil di lapangan.

Direktur Elsa Semarang, Yayan Royani.

Menurut Direktur Elsa Yayan Royani, track record Zaenal Abidin selama berkiprah di Jateng dinilai cukup membahayakan apabila nanti terpilih menjadi komisioner. Zaenal yang saat ini menjadi komisioner Komisi Informasi Publik (KIP) Jateng mempunyai catatan sering melakukan pelanggaran yang berkaitan dengan intoleransi sehingga Elsa merekomendasikan ketidaklayakan Zaenal untuk menjadi Komisioner Komnas HAM.

Elsa mencatat ada 12 kasus intoleransi yang pernah dilakukan oleh Zaenal Abidin selama menjadi pengurus FPI, di antaranya adalah ikut menolak kedatangan Sinta Nuriyah Wahid saat hendak buka puasa bersama di Gereja Yakobus, Pudak Payung, serta menggeruduk peringatan Asyuro di kompleks PRPP.

“Secara kelembagaan kami meminta pansel untuk kembali mempertimbangan rekam jejak Zainal Abidin saat di Jateng,” tegasnya saat ditemui Cendana News (17/5/2017).

Sebagai bahan pertimbangan pansel, Yayan mengaku, sudah mengirim surat pernyataan ke Pansel Komnas HAM. Dalam surat tersebut juga dijelaskan tentang perilaku Zaenal sebagai salah satu tokoh intoleransi di Jateng, selain itu dirinya juga mengimbau kepada masyarakat untuk ikut menyuarakan keberatan dan penolakan juga.

Hal yang sama juga disuarakan oleh Setyawan Budy dari Persaudaraan Lintas Agama (Pelita). Dirinya akan menyerukan semua elemen yang tergabung dalam organisasi lintas agama tersebut, baik itu secara individu maupun komunitas untuk melayangkan surat keberatan terhadap pansel atas lolosnya Zaenal Abidin. Berbagai kasus intoleransi yang dilakukan Zaenal bisa menjadi bukti bahwa dirinya tidak layak apabila diloloskan sebagai salah satu Komisioner di Komnas HAM.

“Kami dari Pelita beberapa kali berhadapan dengan Zaenal Abidin di lapangan, yang terakhir adalah peringatan Festival Lontong Cap Go Meh 2017 saat dia menjadi kuasa hukum ormas yang justru menjadi aktor pelanggar HAM,” tegas Budy.

Dirinya juga berharap agar pansel lebih jeli dalam menentukan calon komisioner, karena bagaimanapun juga Komnas HAM adalah lembaga independen yang bertugas untuk menegakkan HAM di Indonesia sehingga siapa pun yang terpilih nantinya mempunyai komitmen dan integritas untuk menegakkan keadilan di negara ini.

Ketika dikonfirmasi, Zaenal Abidin menyatakan, bahwa sampai saat ini belum ada Pansel yang menanyakan tentang permasalahan ini kepadanya. Dirinya memprediksi, pada saat seleksi selanjutnya yaitu dialog publik baru persoalan ini kemungkinan akan ditanyakan. Walaupun demikian, Zaenal mengaku siap untuk menjawab segala pertanyaan dari tim Pansel.

“Sampai detik ini belum ada, kemungkinan besok saat dialog publik kemungkinan ditanyakan,” jawab pria yang akrab dipanggil Zaenal Petir tersebut.

Lebih lanjut dirinya menambahkan, persoalan ini tidak dijadikan beban, sebab apa yang dilakukan oleh dirinya dengan mendaftar sebagai komisioner sudah sesuai dengan UU Nomor 39 tahun 1999 yang menyebutkan bahwa setiap warga negara berhak untuk menjadi pejabat publik. Setelah persoalan ini mencuat, juga belum ada pertemuan dengan pihak yang merasa keberatan dengan pendaftaran dirinya karena sikap perbedaan pendapat adalah bagian yang wajar

Zaenal Abidin (kedua dari kiri) saat deklarasi FPI Semarang.

“Apa yang saya lakukan sudah sesuai dengan peraturan perundangan dan menjadi hak setiap warga negara untuk menjadi pejabat publik,” tambahnya.

Terkait dengan beberapa lembaga yang mengajukan surat keberatan terhadap panitia, Zaenal juga menganggap itu bagian dari hak mereka. Sama dengan yang dilakukannya saat ini ketika mendaftar. Jadi, tidak ada permasalahan karena nanti yang akan menilai semuanya adalah Pansel.

Jurnalis: Khusnul Imanuddin / Editor: Satmoko / Foto: Khusnul Imanuddin

Source: CendanaNews

Komentar