Menikmati Berbagai Olahan Kuliner Bubur di Kota Malang

125

SABTU, 20 MEI 2017

MALANG — Kuliner bubur sudah sejak lama dikenal dan banyak diminati oleh sebagian masyarakat Indonesia bahkan terkadang ada yang menjadikannya sebagai menu sarapan. Berbagai jenis olahan bubur dari berbagai macam bahan dan rasa mulai dari yang memiliki cita rasa gurih hingga manis membuat kuliner yang satu ini tidak pernah kehilangan penggemar. Berikut rekomendasi Cendana News  beberapa jenis bubur yang bisa dinikmati ketika berkunjung ke kota Malang.

Bubur Ayam Agus.

Bubur Ayam Agus

Berlokasi di daerah Simpang Wilis Indah, terdapat sebuah bangunan ruko dua lantai yang menawarkan kuliner bubur Ayam sebagai menu andalannya. Sesuai dengan nama pemiliknya yakni Agus Sucipto (63), kuliner berbahan utama beras tersebut diberi nama ‘Bubur Ayam Agus”.

Menurut Agus, usaha bubur ayamnya tersebut dimulainya pada tahun 2002. Usahanya tersebut diawalinya sebagai pedagang kaki lima di depan teras sebuah ruko di jalan Sukarno Hatta. Pada tahun 2003 kemudian ia menyewa sebuah ruko di jalan Wilis selama dua tahun. Kemudian di tahun 2005, barulah Agus menempati rukonya yang sekarang ia tempati.

“Saya mengawali usaha ini dengan menyediakan tiga menu yakni nasi tim, ronde dan bubur.
Namun setelah punya ruko sendiri kemudian jumlah menu terus bertambah sampai sekarang ada 30 menu, tapi tidak semuanya berupa bubur,” jelasnya kepada Cendana News.

Untuk menu buburnya sendiri, Agus mengaku memiliki tiga varian bubur yaitu bubur biasa, spesial dan bubur Jakarta.

“Bubur biasa saya kasih harga Rp12.500,-, spesial Rp14.000,- dan Rp15.000,- untuk bubur Jakarta karena harus menggunakan kuning telur ayam kampung,” terangnya.

Agus Sucipto.

Harga tersebut terbilang sangat sesuai dengan ukuran porsinya yang cukup besar. Begitu juga dengan penataan aneka toping atau taburan diatas bubur yang terdiri dari suwiran daging ayam, cakwe, telur, daun brambang, bawang goreng dan emping mlinjo semakin membuat bubur ayam Agus terasa sangat istimewa.

Teksturnya yang lembut dan rasa gurih yang berasal dari perpaduan berbagai racikan bumbu yang pas dan tambahan kaldu ayam, semakin memantabkan cita rasa dari bubur Ayam Agus. Dengan kelezatan rasa yang ditawarkan tersebut, tidak heran jika setiap harinya Agus bisa menjual hingga tiga panci bubur ayam.

Disebutkan, konsumen bubur ayam Agus tidak hanya berasal dari Malang saja tetapi juga dari luar kota.

“Untuk konsumennya sendiri ada yang dari Ujung Pandang, Bali, Jakarta dan Bandung. Umumnya yang membawa mereka datang kesini adalah anak-anak mereka yang bersekolah di Malang,” akunya.

Untuk konsumen, persentase anak-anak muda mulai dari yang masih sekolah hingga mahasiswa lebih banyak dibandingkan dengan konsumen orang tua, tandasnya.

Sementara itu, Amira salah satu pembeli mengaku cukup sering membeli bubur ayam Agus. Menurutnya rasa yang ditawakan bubur ayam Agus sesuai dengan selera lidahnya.

“Kadang saya pesan untuk di bawa pulang, tapi lebih sering langsung di makan ditempat dengan teman-teman,” ujarnya.

Bubur ayam Agus buka setiap hari dan sampai saat ini tidak membuka cabang. Selain bubur ayam, di tempat ini juga menyediakan menu mie goren, mie pangsit, mie bihun dan nasi goreng.

Bubur Mundu Agus

Meskipun nama pemiliknya sama-sama Agus dan sama-sama menyediakan menu kuliner bubur, namun bahan utama dari bubur yang dihadirkan oleh Agus Wahyudi ini bukan terbuat dari beras, melainkan dari kacang hijau dan ketan hitam. Begitu juga dengan cita rasa yang di tawarkan yakni lebih dominan manis bercampur gurih.

Agus Wahyudi dan Bubur Mundunya.

Kuliner bubur yang lebih dikenal dengan Bubur Mundu ini sebenarnya adalah bubur kacang hijau dan ketan hitam. Nama Mundu itu sendiri di ambil dari nama jalan d imana saat ini Agus Wahyudi berjualan bubur yakni Jalan Mundu.

Agus mulai merintis kuliner buburnya tersebut sejak 2006 dan mulai menjualnya kepada masyarakat umum pada 2007. Sebelum menempati lokasinya sekarang berjualan, Agus sempat berpindah-pindah tempat untuk menjajakan buburnya tersebut.

“Meskipun tergolong kuliner jaman dulu (jadul) tapi menurut saya bubur kacang hijau dan ketan hitam masih banyak peminatnya sehingga saya memutuskan untuk berjualan bubur tersebut,” jelasnya kepada Cendana News. Walaupun sekarang banyak bermunculan jenis kuliner baru, tapi saya yakin pada akhirnya masyarakat juga kembali ke kuliner jadul, imbuhnya.

Untuk satu porsi bubur, Agus mematok harga Rp10.000,-. Konsumen juga bisa memilih hanya membeli bubur kacang hijau saja, ketan hitam saja atau bubur campuran dari kedua bahan tersebut.

Bubur Mundu Agus memiliki cita rasa Manis dan gurih yang dihasilkan dari perpaduan gula kemudian siraman santan. Teksturnya juga begitu lembut di lidah. Porsi yang ditawarkan juga terbilang jumbo karena porsinya lebih banyak daripada penjual bubur kacang hijau dan ketan hitam lainnya.

“Bubur saya ini lebih kental dan rasanya lebih mantap. Tapi  kembali lagi ke selera konsumennya masing-masing. Kalau cocok dengan bubur saya pasti kembali lagi, kalau tidak cocok tidak beli lagi,” ujarnya.

Bubur Mundu Agus buka setiap hari mulai pukul 15.00 WIB sampai habis atau paling malam sampai pukul 19.00 WIB. Setiap harinya Agus mampu menjual hingga 80 porsi bubur.

Mulai awal ia berjualan bubur sampai dengan sekarang, Agus selalu menggunakan sepedah motornya untuk berjualan. Meskipun tidak memiliki tempat atau warung sendiri, nyatanya pelanggan tetap bubur Mundu Agus sudah cukup banyak salah satunya yaitu Daniel.

Daniel mengaku sudah cukup lama menjadi pelanggan setia bubur Mundu Agus. Menurutnya, rasa bubur yang ditawarkan berbeda dan lebih mantap dibandingkan penjual bubur yang lainnya.

“Kalau mama suka bubur kacang hijau, kalau saya sendiri suka bubur campur kacang hijau dan ketan hitam,” akunya sambil memesan tiga porsi bubur untuk dibawa pulang.

Jurnalis: Agus Nuchaliq/Redaktur: Irvan Sjafari/Foto: Agus Nucrhaliq

Source: CendanaNews

Komentar