Penangkapan Ikan Berformalin di Lampung, Penjualan Ikan, Turun

195
Ilustrasi - Pedagang di Pasar Ikan Higienis

JUMAT, 19 MEI 2017

LAMPUNG — Pengungkapan kasus ikan mengandung zat pengawet formalin sebanyak 5 ton, beberapa hari lalu, oleh Direktorat Reserse Kriminal Khusus Kepolisian Daerah Lampung, membuat resah sejumlah konsumen.

Rohmat, pedagang ikan laut di pasar ikan higienis Kalianda

Ikan laut asal Cina yang didistribusikan melalui Jakarta dan dikirim ke wilayah Kotabumi Lampung Utara, tersebut, diamankan dari sebuah kendaraan berpendingin di pintu keluar Pelabuhan Bakauheni. Kini, kasus itu tengah diselidiki oleh POLDA Lampung dengan tersangka ED.

Dampak dari kasus tersebut membuat sejumlah pedagang ikan laut yang menjual ikan di sepanjang Jalan Lama Desa Rawi, Kecamatan Penengahan, mengaku sepi pembeli. Salah satu pedagang ikan di pasar ikan higienis Kalianda, Rohmat, mengatakan, hal tersebut memberi dampak penurunan penjualan selama beberapa hari terakhir.

Puluhan pedagang ikan laut di wilayah tersebut juga menyebut, permintaan ikan saat ini menurun, meski harga sejumlah ikan laut mulai menurun. Rohmat tidak menampik, pengaruh adanya penemuan ikan berformalin ikut menyumbang menurunnya permintaan, namun faktor sebagian orang menahan untuk membeli ikan sebelum mendekati bulan suci Ramadhan juga menjadi pemicu sepinya permintaan.

“Kita optimis saja, bahwa permintaan ikan laut memang sedang sepi, karena konsumen masih menabung uangnya untuk persiapan Ramadhan, dan meski demikian masih tetap ada yang membeli ikan di lapak ikan saya,” terang Rohmat, saat ditemui di pasar ikan higienis Dermaga Bom Kalianda Lampung Selatan, Jumat (19/5/2017).

Sebagai upaya menyiasati sepinya minat konsumen, Rohmat mengaku membeli ikan hasil pelelangan ikan di Tempat Pendaratan Ikan (TPI) Dermaga Bom Kalianda. Selain masih segar, ikan hasil tangkapan nelayan setempat rata-rata merupakan ikan yang ditangkap hari itu juga dan langsung dijual sehingga dipastikan tidak menggunakan zat pengawet berbahaya. Selain itu, sebagian besar pedagang lebih sering menggunakan pengawet ikan dengan es balok yang dipasok dari pabrik es di wilayah Kalianda.

Cara lain yang digunakan para pedagang ikan mengatasi sepinya permintaan ikan laut juga dengan menjual ikan air tawar yang dijual dalam bak air, sehingga masih dalam keadaan segar. Rohmat menyebut, sebagian ikan yang dijual oleh para pedagang ikan, di antaranya jenis cumi-cumi, tongkol, selar, ikan layur, simba, baronang serta berbagai ikan jenis lain.

Ikan dari hasil tangkapan nelayan yang dijual terlebih dahulu di TPI Dermaga Bom, selanjutnya dibeli para pengecer ikan dengan harga jual ke konsumen dari harga Rp10-55 ribu per kilogram, sesuai jenis ikan. Khusus untuk jenis cumi-cumi yang biasanya dijual seharga Rp30.000, kini mulai turun menjadi Rp25.000 per kilogram. Tenggiri seharga Rp35.000 per kilogram, kakap Rp40.000 per kilogram dan jenis ikan lain masih tetap stabil belum mengalami kenaikan.

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Lamsel, Dwi Jatmiko

Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan (DKP) Kabupaten Lampung Selatan, Dwi Jatmiko, saat dikonfirmasi memastikan wilayah Lampung Selatan aman dari ikan berformalin. Selain memiliki banyak tempat pendaratan ikan mulai dari pantai di wilayah Katibung, Sidomulyo, Kalianda, Rajabasa, Bakauheni hingga Ketapang, sebagian ikan masih bisa dipasok dari nelayan lokal.

Jatmiko mengungkapkan, ikan berformalin yang diamankan POLDA Lampung diindikasi dikirimkan ke sejumlah wilayah Lampung yang jauh dari laut dan menyasar konsumen masyarakat yang jarang membeli ikan dalam keadaan hidup dari laut. Sementara di Lampung Selatan dengan kondisi perairan laut yang cukup banyak, masyarakat cenderung membeli ikan langsung di tempat pelelangan ikan dari para pelele (pedagang ikan) serta nelayan yang baru turun melaut.

“Pengawet alami yang banyak digunakan pedagang dan nelayan Lampung Selatan sesuai imbauan dinas kelautan dan perikanan menggunakan es balok dan kami larang menggunakan pengawet kimia berbahaya,” terang Jatmiko.

DKP Lampung Selatan juga mengimbau kepada masyarakat, dengan kekhawatiran indikasi adanya ikan berformalin, alternatif konsumsi ikan air tawar bisa menjadi pilihan. Beberapa wilayah Lampung Selatan yang saat ini menjadi sentra budidaya ikan air tawar dan air payau, di antaranya Kecamatan Palas dan Sragi, masih bisa memasok ikan segar tanpa melalui proses pengawetan.

Konsumen bisa menghindari atau mengantisipasi mengkonsumsi ikan terindikasi berpengawet dan berformalin dengan membeli ikan segar tersebut atau mendatangi sejumlah kolam ikan milik pembudiaya. Pilihan ikan air tawar juga cukup variatif, di antaranya ikan nila, gurame, patin, lele, mujahir serta udang vaname dan udang windu tambak.

Salah satu pedagang ikan sekaligus pemilik kolam ikan di Desa Klaten, Wagimin, saat ditemui Cendana News, juga menyebut mendengar pemberitaan tentang adanya ikan berformalin. Ia menyebut dengan adanya kasus tersebut tingkat konsumsi serta permintaan ikan air tawar yang dijualnya masih cukup stabil dan diprediksi akan meningkat pertengahan bulan suci Ramadhan.

Pembudidaya ikan dengan sistem keramba jaring di kolam tersebut mengaku memelihara puluhan ribu ikan jenis gurame, patin dan lele. Permintaan yang saat ini cukup banyak diakuinya pada jenis ikan gurame, lele dan patin dengan rata-rata permintaan mencapai 5 kuintal per pekan. “Pelanggan tetap kami dari pedagang pecel lele atau rumah makan, tapi konsumen rumah tangga juga cukup banyak meski belum banyak permintaan,” terang Wagimin.

Harga ikan air tawar yang sedikit lebih mahal dibanding ikan laut yang diawetkan dengan es tak mengurangi jumlah permintaan konsumen. Wagimin menjual ikan lele dengan isi 10 ekor per kilogram dengan harga Rp22.000, ikan patin Rp20.000 per kilogram isi 4 ekor serta gurame seharga Rp45.000 per kilogram. Jumlah permintaan diakuinya seperti pada tahun sebelumnya akan terjadi pada pertengahan bulan suci Ramadhan dan satu keunggulan membeli ikan air tawar diantaranya pembeli masih bisa memelihara ikan tersebut sebelum diolah dengan menempatkan ikan pada bak khusus, berbeda dengan ikan laut yang terlebih dahulu harus dimasukkan dalam kulkas.

Jurnalis: Henk Widi/ Editor: Koko Triarko/ Foto: Henk Widi

Source: CendanaNews

Komentar