Pengusaha Prihatin Angka Kemiskinan Jateng Lebih Tinggi dari Nasional

115

SABTU, 6 MEI 2017

SEMARANG — Angka kemiskinan di Jateng yang mencapai 13,19 persen di atas kemiskinan nasional 11,13 % ternyata menjadi keprihatinan pengusaha. Sebagai salah satu provinsi di pulau Jawa seharusnya kemiskinan di Jateng harus lebih rendah daripada nasional karena pemerintah pusat juga “menanggung” angka kemiskinan di daerah tertinggal. 

Pembicara Workshop “Penguatan Jejaring Usaha Alumni Undip”.

Hal itu disampaikan oleh President PT. Satria Ganareksa Wisnu Suhardono dalam acara Workshop “Penguatan Jejaring Usaha Alumni Undip” di Gedung ICT Undip Tembalang (05/06/2017)

Menurut Wisnu, angka kemiskinan di Jateng harus menjadi perhatian semua pihak untuk mengatasinya, karena itu diperlukan sinergi Pemerintah, Rakyat dan Pengusaha untuk bisa memajukan daerahnya.

Pemerintah bisa membuka kemudahan untuk akses investasi dengan membuka pelayanan satu pintu. Sementara rakyat juga bisa mendukung kebijakan pemerintah dengan tidak mudah terpancing dengan isu orang yang tidak bertanggung jawab.

Misalnya isu bahwa pembangunan akan merusak lingkungan, karena pada dasarnya investasi juga akan memperhitungkan tentang dampak lingkungan jika mendirikan perusahaan

“Masyarakat jangan mau diolah-olah oleh LSM tidak jelas jika berbicara investasi, karena investasi pengusaha juga mempertimbangkan faktor lingkungan,” kata Ketua Umum DPD I Golkar Jateng tersebut saat ditemui Cendana News.

Jika kedua aspek tersebut sudah bisa bersinergi, maka pengusaha akan tenang untuk menanamkan investasinya karena dukungan pemerintah dan partisipasi masyarakat terjamin.

Dirinya juga mengingatkan bahwa iklim pemerintahan bisa mempengaruhi kemauan pengusaha untuk berinvestasi. Jika pemerintah bebas korupsi akan membuat pengusaha merasa tenang jika menanamkan modalnya, karena pada dasarnya mereka butuh kepastian berinvestasi.

Sementara itu Ketua Bidang Ekonomi dan CSR HIPMI Jateng Ferry Firmawan menambahkan bahwa perkembangan teknologi membawa dampak pada perubahan kebudayaan di masyarakat, adanya internet membawa perubahan pada struktur pasar dalam penjualan komoditas untuk melakukan promosi dan branding produk.

Karena itulah saat ini perekonomian dunia terus berkembang seiring dengan munculnya potensi ekonomi baru yang mampu menopang kehidupan perekonomian masyarakat dunia yang pada aealnya berbasis sumber daya alam menjadi sumber daya industri dan teknologi komunikasi menjadi dasar ekonomi kreatif.

Menurut data Deputi Riset, Edukasi dan Pengembangan Badan Ekonomi Kreatif (BEKRAF) Industri kreatif tahun 2016 telah menyumbang 642 trilliun atau 7,05 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) dengan kontribusi terbesar dari bidang kuliner 32,4 persen, mode 27,9 persen dan kerajinan 14,8 persen.

“Industri kreatif juga menyumbang penyerapan tenaga kerja sebesar 10,7 persen atau 11,8 juta jiwa,” tukas anggota komisi B DPRD Jateng tersebut.

Dalam acara Workshop “Penguatan Jejaring Usaha Alumni Undip” dihadiri oleh 100 orang peserta yang terdiri dari 60 orang wirausahawan alumni Undip dan 40 orang mahasiswa Undip yang saat ini menjalani bisnis.

Menurut Wakil Rektor I Undip Muhammad Zainuri acara ini diadakan untuk membuat simpul antara jejaring mahasiswa dengan alumni Undip untuk saling bersinergi, karena itu di momentum Hari Ulang Tahun ke 60 pihak civitas akademika Undip akan mengajak para alumni untuk membangun kemandirian ekonomi di Indonesia.

Jurnalis: Khusnul Imanuddin/Redaktur: Irvan Sjafari/Foto: Khusnul Imanuddin
Source: CendanaNews

Komentar