Produksi Ikan di Kulonprogo Surplus, Jaringan Pasar Diperluas

99

JUMAT, 5 MEI 2017

YOGYAKARTA — Potensi besar budidaya di Kabupaten Kulonprogo, menjadi penyangga kebutuhan ikan di DI Yogyakarta. Pada 2016, produksi mencapai lebih dari 13.000 ton, sedangkan kebutuhan di kabupaten tersebut hanya sekitar 6.000 ton per tahunnya.

Titiek Soeharto, didampingi Kabid Pembudidayaan Ikan Dinas Perikanan dan Kelautan Kulonprogo, Leo Handaka (baju merah)

Kepala Bidang Pembudidayaan Ikan Dinas Perikanan Kelautan Kabupaten Kulonprogo, Ir. Leo Handaka mengatakan, surplus besar produksi ikan di Kabupaten Kulonporogo dimanfaatkan benar oleh pemerintah setempat, sebagai salah satu upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Selain itu, pihaknya terus berupa memperluas jaringan pasar, untuk lebih memaksimalkan hasil penjualan. Tidak hanya di Kota Yogyakarta, namun juga daerah lain seperti di Kebumen, Jawa Tengah.

“Untuk pemasaran ikan ini kita sudah mencoba membuka jaringan pasar di Kebumen. Selain itu, kita juga mewaspadai masuknya ikan dari daerah lain, seperti Jawa Timur, yang masuk ke Yogyakarta, agar produksi di wilayah kita tidak kehilangan pasar di daerah sendiri,” kata Leo, saat mendampingi Wakil Ketua Komisi IV DPR RI, Siti Hediati Haryadi (Titiek Soeharto), saat mengunjungi Kelompok Budidaya Ikan Tirtonadi, di Dusun Kalipeten, Kaliagung, Sentolo, Kulonorogo, Jumat (5/5/2017).

Leo mengatakan, dengan surplus produksi ikan yang cukup besar itu, pihaknya juga terus berupaya memperkuat daya saing dengan membentuk asosiasi. Hal tersebut diperlukan untuk menyatukan para pembudidaya ikan, sehingga memiliki daya tawar yang lebih kuat.

“Selama ini, adanya permainan harga ikan atau spekulan itu terjadi, karena pembudidaya belum terorganisir dengan baik. Kalau bisa bersatu, maka ulah spekulan itu bisa dicegah, dan pembudidaya juga semakin memiliki daya tawar,” katanya.

Sementara itu, Titiek Soeharto dalam kunjungan tersebut mengatakan, sangat penting untuk terus meningkatkan produksi ikan daratan, sebagai salah satu upaya Pemerintah dalam mewujudkan swasembada protein. Jauh lebih penting lagi, dari aktivitas produksi ikan itu mampu menambah penghasilan warga di pedesaan.

“Kita ini begitu banyak memiliki potensi alam yang bisa dikembangkan sebagai sumber penghasilan. Hanya dengan luas lahan yang tidak seberapa, warga bisa mendapatkan keuntungan yang besar hanya dari membudidayakan ikan nila,” kata Titiek.

Hal demikian, lanjut Titiek, juga membantu Pemerintah dalam mempercepat pengentasan kemiskinan. Kebutuhan ikan di Yogyakarta yang juga cukup besar, semakin memberi peluang bagi warga pedesaan untuk lebih meningkatkan kualitas dan kuantitas produksi ikannya.

“Saya kira berbagai bantuan Pemerintah yang sudah diberikan juga sudah dimanfaatkan sangat baik oleh masyarakat. Tapi, saya akan terus mendorong agar berbagai bantuan pemberdayaan warga pedesaan bisa lebih banyak lagi, karena ada daerah lain yang masih belum tersentuh,” kata Titiek.

Pokdakan Tirtonadi mulai dibentuk sejak Desember 2016. Dengan bantuan sarana dan prasarana perikanan dari Pemerintah, sejumlah warga yang tergabung dalam Pokdakan tersebut memanfaatkan lahan kosong seluas 1.000 meter persegi milik salah satu warga, dengan sistem bagi hasil.

Pembina Pokdakan Tirtonadi, Agus Supriyono, menjelaskan, dari lahan seluas itu dibuat menjadi 27 petak kolam, yang mampu menampung bibit ikan nila sebanyak 13.000 ekor. Selama empat hingga lima bulan masa pemeliharaan, masin-masing petak kolam mampu menghasilkan kurang lebih 480 ekor ikan nila siap jual.

“Selama empat hingga lima bulan itu, dibutuhkan pakan kurang lebih 40 Sak, dengan harga per Sak sebesar Rp350 ribu. Tidak ada kendala berarti yang kami hadapi, kecuali masih terbatasnya peralatan dan fasilitas kolam yang masih kurang, karena keterbatasan modal. Karena itu, dengan kunjungan Ibu Titiek, ini, kami berharap ada solusi untuk meningkatkan sarana dan prasarana kami yang masih seadanya ini,” pungkasnya.

Jurnalis : Koko Triarko / Redaktur : ME. Bijo Dirajo / Foto : Koko Triarko

Source: CendanaNews

Komentar