Sebanyak 40 Perguruan Tinggi Ikuti Ajang KRI Regional 4 di UB

259
Ilustrasi robot manusia - Foto: Dokumentasi CDN

SABTU, 6 MEI 2017
MALANG — Untuk pertama kalinya Universitas Brawijaya (UB) di percaya Kemnterian Riset Teknologi dan Pendidikan Pendidikan Tinggi (Kemenriset Dikti) Republik Indonesia untuk menjadi tuan rumah Kontes Robot Indonesia (KRI) Regional 4. Kompetisi ini ikuti oleh 40 Universitas tersebut di gelar di GOR Pertamina UB. 

Aksi Robot Divisi KRSBI.

 Menurut Slamet Kusnadi selaku ketua panitia, KRI diadakan dengan tujuan untuk melahirkan generasi muda yang kreatif, unggul dan berdaya saing positif dalam bidang teknologi yang nantinya akan berkontribusi di dalam pembangunan bangsa Indonesia.

Selain itu, Kompetisi Robot ini juga merupakan ajang seleksi bagi perguruan tinggi di Wilayah Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara, Maluku dan Papua untuk nantinya bersaing dalam kontes robot Indonesia tahun 2017 di Bandung.

“Semakin tahun jumlah peserta KRI semakin banyak dan secara otomatis kompetitif persaingan di tingkat regional semakin ketat untuk menuju tingkat nasional,” jelasnya, Sabtu (6/5/2017). Seluruh peserta yang berpartisipasi telah melalui proses evaluasi dan seleksi yang dilakukan oleh dewan juri, imbuhnya.

Disebutkan, KRI regional 4 di UB diikuti oleh 92 tim dari 40 perguruan tinggi negeri dan swasta. Lomba ini melibatkan 558 mahasiswa, 92 dosen pembimbing, 18 wasit dan 10 juri.

Lebih lanjut Slamet menyampaikan bahwa divisi yang di lombakan di KRI 2017 meliputi Kontes Robot ABU Indonesia (KRAI) yang diikuti 19 tim, Kontes Robot Pemadam Api Indonesia (KRPAI) berkaki 34 tim, Kontes Robot Sepak Bola Indonesia (KRSBI) Humanoid 6 tim, Kontes Robot Sepak Bola Indonesia (KRSBI) beroda sebanyak 20 tim dan Kontes Robot Seni Tari Indonesia (KRSTI) 13 Tim.

Disampaikan Kasubdit Penalaran dan Kreatifitas Kemenristek Dikti, Widyo Winarso bahwa ia mengaku melihat perkembangan dunia robotik di Indonesia dari tahun ke tahun semakin maju, meskipun dalam kondisi keterbatasan sarana prasarana dan fasilitas maupun dana yang ada di perguruan tinggi tapi mahasiswa tetap bisa mengembangkan karyanya.

“Saya bisa membayangkan perjuangan teman-teman dalam membuat sebuah robot selama berbulan-bulan itu seperti apa,” ucapnya.

Menurutnya, di kontes internasional perjuangannya juga lebih berat. Banyak diantara mereka yang justru membiayai sendiri untuk membuat sebuah robot dalam mengikuti kontes. Di sana mereka tidak mengandalkan pendanaan dari perguruan tinggi tapi merek justru mencari pendanaan sendiri, terangnya.

Kontes robot ini merupakan kolaborasi dari berbagai disiplin ilmu. Di dalam proses kompetisi ini juga di ajarkan dan di dapatkan sebuah kemampuan untuk saling bekerjasama, berkolaborasi, saling menghargai perbedaan pendapat.

“Jadi tidak hanya semata-mata untuk memenang kejuaraan tapi juga bisa membangun kolaborasi dan kerjasama,” unkapnya.

Sementara itu Rektor UB, Muhammad Bisri menyebutkan, di pilihnya UB menjadi tuan rumah KRI regional 4 menjadi sebuah kehormatan tersendiri bagi UB karena selama ini UB belum pernah di tunjuk menjadi tuan rumah dalam ajang tersebut.

Suatu kehormatan bagi UB yang dipilih menjadi tuan rumah kontes robot Indonesia. Yang merupakan sebuah kegiatan lengkap dalam pengembangan ide dan penerapannya.

Ia beranggapan Inovasi saat ini sudah semakin baik, tidak hanya teknologi bahkan sudah berkembang ke estetika dan seninya.

“Kalau dulu robot itu ketika ada suara bisa mempengaruhi kinerja dari robot, tapi sekarang tidak. Dalam kondisi bising pun sekarang robot bisa bergerak secara normal,” pungkasnya.

Suasana Kontes Robot Indonesia.

 Jurnalis: Agus Nurchaliq/Redaktur: Irvan Sjafari/Foto: Agus Nurchaliq

Source: CendanaNews

Komentar