Teman Ditangkap, Ratusan Buruh Datangi Mapolres Sikka

106

RABU, 17 MEI 2017

MAUMERE — Ratusan buruh Tenaga Kerja Bongkar Muat (TKBM) Pelabuhan Laurens Say Maumere, Rabu (17/5/2017), sejak pagi hingga sore hari berkumpul di halaman Mapolres Sikka dan duduk di depan trotoar jalan negara di depan Mapolres.

Para buruh yang duduk bergerombol di dalam halaman Mapolres Sikka.

Kedatangan ratusan buruh pelabuhan terbesar di Kota Maumere ini sebagai bentuk solidaritas dan dukungan kepada rekan buruh mereka yang sejak pagi ditangkap aparat Polres Sikka, karena melakukan pungutan kepada sopir dan pemilik kendaraan yang baru saja turun dari kapal fery jenis Roro Darma Kencana.

Kepada Cendana News di Mapolres Sikka, Rabu (17/5/2017) siang, Markus Bataona, salah seorang pimpinan kelompok TKBM Laurens Say Maumere, mengatakan, semua buruh di pelabuhan sebanyak 360 orang mendatangi Mapolres Sikka, sebab salah seorang rekan mereka ditangkap polisi.

“Tadi  pagi jam 5 subuh, teman kami yang sedang melakukan penagihan uang kepada sopir dan pemilik kendaraan, ditangkap polisi dan dibawa ke Mapolres Sikka, sehingga kami semua buruh pelabuhan datang ke sini,” ujarnya.

Menurut Markus, buruh berani melakukan penagihan berdasarkan surat kesepakatan yang ditandatangani petinggi-petinggi yang berkepentingan di Pelabuhan Laurens Say, seperti Kepala Syahbandar, Pelindo, PT. Dharma Lautan Utama dan Ketua TKBM. “Mereka yang tandatangan dan kami yang melakukan penagihan, sehingga kalau mau ditahan, ya tahan mereka, jangan kami yang bertugas menagih uangnya,” tegasnya.

Sebelum 2016,  lanjut Markus, kwitansi penagihan dibuat buruh dan dibawa ke PT. Dharma Lautan Utama dan pihak perusahaan yang membayar biayanya. Jika kendaraan besar yang memuat sembako, perusahaan yang menagih, sedangkan untuk mobil pribadi dan sepeda motor, perusahaan menyuruh buruh yang menagihnya.

“Penagihan dilakukan sendiri oleh buruh TKBM sejak 2016, sedangkan sebelumnya, sejak 1998, buruh TKBM menagih ke perusahaan Dharma Lautan Utama sebagai pemilik kapal fery, dengan membawa kwitansi dan dibayar oleh perusahaan ini,” jelasnya.

Markus Bataona salah seorang pimpinan kelompok buruh TKBM  pelabuhan Laurens Say Maumere.

Tetapi, karena perusahaan Dharma Lautan mungkin merasa capek, lanjut Markus, sehingga mereka menyuruh buruh menagih sendiri. Itupun dengan membawa surat dan sudah ada persetujuan. “Yang melakukan penagihan sekitar 2 sampai 3 orang buruh yang ditugaskan oleh kelompok, dan berdasarkan pengetahuan semua anggota TKBM,” paparnya.

Antonius Soa, salah seorang buruh lainnya menambahkan, teman mereka yang melakukan penagihan berdasarkan perintah mandor dengan menunjukkan surat kepada pemilik kendaraan, dan saat sedang melakukan penagihan ditangkap polisi.

Antonius menyesalkan, kenapa dari dulu polisi tidak melakukan penangkapan dan sekarang baru ditangkap, sehingga para buruh mendatangi Mapolres Sikka untuk meminta agar teman mereka dibebaskan. Sebab, kalau yang melakukan penagihan, maka semua buruh pernah menagih, sehingga kalau mau ditangkap maka semua buruh juga ditangkap. “Kami tidak tahu ini dikatakan pungutan liar, sebab selama ini kami selalu melakukan penagihan dan kami tidak merasa melakukan kesalahan, sebab berdasarkan surat yang dibuat bersama,” pungkasnya.

Jurnalis: Ebed De Rosary/ Editor: Koko Triarko/ Foto: Ebed De Rosary

Source: CendanaNews

Komentar