Godok Pisang Saka Khas Minangkabau

 SABTU, 10 JUNI 2017
PADANG — Berbagai olahan buah-buahan yang bisa dibuat untuk makanan, seperti halnya pisang. Di Sumatera Barat, orang Minangkabau bisa membuat bermacam olahanan makanan dari pisang ini. Di antaranya, kolak pisang, pisang bakar, lapek pisang, dan godok pisang saka (gula merah). 
Gondok Pisang.
Nah, kali ini Cendana News akan membahas khusus untuk godok pisang saka. Bertepatan pada momen Ramadan ini, berbagai olahan khas kuliner Minangkabau ramai dijual dipasar pabukoan atau pasar takjil. Begitu juga untuk godok pisang saka.
Salah seorang pedagang pabukoan di Pasar Raya Padang, Etek Imang mengatakan, untuk membuat godok pisang saka itu tidak terlalu sulit, karena bahan-bahan yang digunakan murni dari pisang yang sudah matang, tanpa ada campuran tepung atau yang lainnya.
“Namanya godok pisang, jadi murni pisang nya yang digoreng. Namun sebelum digoreng, pisangnya harus dihancurkan dulu setelah dikupas dari kulitnya. Menghancurkannya bukan menggunakan blender, tapi di masukan ke dalam ke dalam baskom lalu hancurkan pakai gelas seperti ditekan-tikan hingga benar-benar lumat,” jelasnya, ketika ditemui di Pasar Pabukoan menjelang Magrib tadi, Sabtu (10/6/2017).
Setelah dihancurkan, maka godok tersebut dibulatkan menggunakan sendok dan tangan. Sesudah dibulatkan, lalu digoreng di dalam minyak dengan suhu yang cukup hangat.
Menurut Etek Imang, pisang yang digoreng itu tidak perlu lama-lama, cukup agak menguning warnanya, godok pisang yang digoreng sudah bisa diangkat. Proses disini, godok pisang yang telah digoreng itu dibiarkan agak dingin dulu, sembari menunggu, Anda bisa membuat cairan saka atau gula merahnya.
“Gula merahnya direbus dulu pakai air hangat untuk mencairkannya. Namun saka yang dicairkan itu jangan terlalu encer, tapi buatlah agak kental sehingga mudah untuk digelumuri godok pisangnya,” katanya.
Dengan telah selesainya digoreng godok pisang dan saka pun telah dicairkan. Saatnya mengaduk atau mencapuri saka yang cair itu diseluruh godong pisangnya. Usahakan, seluruh godok pisangnya benar-benar rata dicampuri sakanya. Jadi dah, godong pisang sakanya.
Nah, untuk godok pisang sakanya sebenarnya paling pas untuk dijadikan sarapan pagi. Namun, mengingat rasanya cukup manis, godok pisang saka ini dinilai cocok untuk sahur.
“Cukup laris dibeli godok pisang saya ini, untuk harganya satu godok pisang itu Rp2.000. Ukuran godok pisangnya cukup besar, dengan ukuran yang demikian, cukup sekitar memakan dua godok pisang saja, sudah bisa kenyang,” ujar Etek Imang.
Pembeli di Pasar Pabukoan Titi mengatakan, cukup sering membeli godok pisang saka itu, terlebih di bulan puasa ini. Godok pisang saka cocok untuk berbuka. Selain itu, mengingat makanannya bisa tahan melebihi 24 jam, disaat sahur godok pisang saka yang rasanya cukup manis itu, juga cocok untuk dimakan sebagai pembuka selera makan sahur.
“Saya anak kos, jadi butuh persiapan makanan untuk Sahur, dan godok pisang saka ini, menurut saya pas lah,” ucapnya.
Titi menilai, untuk godok pisang saka ini akan sulit ditemukan diluar bulan puasa atau Ramadan ini. Karena tidak begitu banyak yang jual. Sementara kalau Ramadan ini, makanan khas Minang tersebut cukup mudah dicari, karena hampir disetip penjual pebukoan atau takjil ada yang menjual godok pisang saka itu.
Tidak hanya godok pisang saka yang menjadi incaran masyarakat pada Ramadan. Tapi juga ada pisang bakar, tapi untuk pisang bakar ini aga sulit dicari, palingan adanya di lokasi wisata seperti di Kota Padang, adanya di Pantai Padang.
Untuk pisang bakar ini, pisangnya bukan pisang matang atau masak, tetapi pisang yang masih setengah matang (agak kuning kulitnya). Tidak semua jenis pisang yang dibakar, tapi hanya pisang batu.
Penjual pisang bakar, Edi menjelaskan,  pisang bakar itu tidak harus dibakar hingga pisangnya matang. Tapi cukup mengeluarkan aroma wangi pisang batunya, setelah itu pisangnya penyetkan menggunakan papan yang dibuat khusus untuk mempenyetkan pisang yang telah dibakar.
Setelah dibakar dan telah dipenyetkan,  dengan bentuk tipis itu, lalu ditaburkan parutan kelapa sedang, dan parutan kelapa yang telah dicampuri saka atau luwo. Harganya, kata Edi, hanya Rp5.000 saja untuk satu pisang bakar.
Etek Imang penjual pabukoan di Pasar Raya Padang.
Jurnalis: Muhammad Noli Hendra/Redaktur: Irvan Sjafari/Foto: Muhammad Noli Hendra

Source: CendanaNews

Lihat juga...