hut

Menristekdikti Luncurkan Radiofarmaka Deteksi Penyakit Degeneratif

SERPONG — Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti), Mohamad Nasir, meluncurkan lima radiofarmaka hasil riset dan pengembangan (risbang) Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) untuk mendeteksi berbagai penyakit degeneratif.

“Produk-produk teknologi nuklir telah memberikan kontribusi yang besar dalam bidang kesehatan, energi, pertanian, industri, pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan. Salah satunya adalah pemanfaatan radiofarmaka di bidang kesehatan. Di negara negara maju, radiofarmaka telah menjadi pilar utama dalam menyelesaikan masalah kesehatan,” kata Menristekdikti saat meluncurkan produk radiofarmaka Batan-Kimia Farma di Puspiptek, Serpong, Senin.

Riset dan pengembangan teknologi tenaga nuklir Indonesia saat ini, menurut dia, telah berkembang dengan baik sehingga mampu menghasilkan produk-produk inovasi yang dapat dimanfaatkan masyarakat, dunia industri dan dunia kesehatan.

Ia memang berharap agar riset jangan hanya sebatas publikasi dan tersimpan di perpustakaan, namun juga harus dihilirisasikan dan komersialisasikan. Karena itu, dirinya menyambut baik langkah Batan dalam melakukan hilirisasi hasil riset.

Terdapat lima produk radioisotop dan radiofarmaka Batan yang baru diluncurkannya, yakni Kit Radiofarmaka MIBI, Kit Radiofarmaka MDP,Kit Radiofarmaka DTPA, Radiofarmaka Senyawa Bertanda 153 Sm-EDTMP, dan Radiofarmaka Senyawa Bertanda 131 I-MIBG. Produk-produk kesehatan tersebut siap digunakan untuk kebutuhan diagnosis dan penyembuhan beberapa penyakit, terutama penyakit degeneratif seperti jantung, kanker, dan ginjal.

Enam juta pasien Berdasarkan laporan dari Badan Tenaga Nuklir Internasional, jumlah pasien di seluruh dunia yang ditangani menggunakan radiofarmaka telah melebihi enam juta pasien per tahun. Sedangkan di Indonesia saat ini ada belasan rumah sakit yang telah memiliki fasilitas kedokteran nuklir.

Jenis penggunaan radiofarmaka tertinggi adalah penggunaan untuk diagnosis penyebaran kanker tulang menggunakan radiofarmaka MDP. Radiofarmaka ini merupakan salah satu produk Kimia Farma hasil pengembangan Pusat Teknologi Radioisotop dan Radiofarmaka BATAN.

Direktur Utama PT Kimia Farma Honesti Basyir menyambut baik kerja sama yang telah terjalin antara Batan dan dunia Industri dalam hal ini pihaknya. Saat ini, perusahaannya telah melakukan hilirisasi 11 produk BATAN, dan pemanfaat produk tersebut dari tahun ke tahun mengalami peningkatan.

Acara Peluncuran Produk dan Penandatanganan Kontrak Kerja sama dilaksanakan di Pusat Teknologi Radioisotop dan Radiofarmaka (PTRR)-Batan, kawasan Puspitek Serpong, Tangerang Selatan. Turut hadir dalam kegiatan ini Direktur Jenderal Penguatan Riset dan Pengembangan Muhammad Dimyati, Direktur Utama Kimia Farma Honesti Basyir, Deputi Bidang Teknologi Energi Batan Nuklir Suryantoro, Deputi Pendayagunaan Teknologi Nuklir Hendig Winarno, Deputi Badan Pengawas Obat dan Makanan Nurma Hidayati, Kepala PTRR-Batan Siti Darwati dan tamu undangan lainnya. (Ant/Foto: Dokumentasi CDN)

Lihat juga...