hut

Satgas Pangan Polres Karanganyar Ungkap Praktik Pengoplos Gas Bersubsidi

SOLO – Satuan Tugas (Satgas) Polres Karanganyar, beserta petugas Polsek Gondangrejo, Karanganyar, Jawa Tengah, baru-baru ini berhasil meringkus praktik curang yang memanfaatkan gas elpiji 3 kilogram.

Barang bukti di dalam truk.

Kapolres Karanganyhar, AKBP Ade Safri Simanjuntak menjelaskan, pengungkapan kasus pengoplos gas bersubsidi di willayah hukum Karanganyar ini berawal dari kelangkaan yang dialami warga Gondangrejo. Setelah ditelusuri petugas Satgas Pangan, petugas menemukan praktik curang yang dilakukan salah satu warga Solo, yang memanfaatkan gudang milik warga Gondangrejo.

“Awalnya dari adanya kelangkaan elkpiji tabung 3 Kg dalam beberapa pecan terakhir. Setelah diselidiki, petugas menemukan adanya oknum yang sengaja menimbun gas elpiji bersibsidi untuk dijual lagi dengan kemasan yang berbeda,” ungkap Ade dalam gelar kasus di Mapolres Karangayar, Senin (19/6/2017).

Dalam penggrebekan itu, petugas menggelandang seorang tersangka atas nama Eko Setiawan, warga Jebres, Solo, yang menjadi aktor utama pengoplosan ilegal elpiji tersebut. Sedangkan dua tersangka lainnya saat ini masih menjadi buron kepolisian. “Dua orang yang masih buron ini tugasnya membeli gas elpiji bersubsidi dari berbagai daerah,” jelasnya.

Modus yang digunakan tersangka adalah dengan memindahkan isi gas elpiji 3 Kg ke tabung 12 Kg, dengan menggunakan selang regulator. Dalam aksinya, pelaku tergolong cukup lihai dibidang gas, karena untuk menghindari adanya ledakan saat proses pemindahan, tabung gas elpiji 3 Kg direndam menggunakan air. “Untuk menyakinkan pembeli, pelaku juga memiliki segel petutup gas elpiji,” terang dia.

Tersangka mengaku nekat mengoplos elpiji karena tergiur keuntungan yang didapat,yakni sekitar 35.000-45.000 per tabung 12 Kg. Setiap harinya, tersangka mampu menjual 10-25 elpiji tabung 12 Kg. “Satu tabung gas elpiji 12 Kg ini diisi menggunakan 4 tabung gas bersubsisi 3 Kg. Harga jual yang ditawarkan juga lebih murah ketimbang harga pasaran. Jika harga normal gasl elpiji 12 Kg senilai Rp 137.000, pelaku hanya menjal Rp 115.000,” tandas Kapolres.

Dari pengungkapan praktik elpiji oplosan ini, petugas mengamankan sejumlah barang bukti. Berupa 52 tabung elpiji ukuran 12 kg, 111 tabung gas elpiji ukuran 3 Kg, 60 bendel nota kosong, selang regulator, satu kresek segel tutup tabung gas elpiji, motor operasional, dan peralatan lainnya. “Kasus ini masih kita dalami terus. Termasuk kemungkinan ada jaringan lain,” tambah Ade.

Sementara itu, tersangka Sko Setiawan saat dimintai keterangan oleh Kapolres mengaku, dalam menjalankan aksinya, termasuk pemindahan gas dari belajar sendiri alias coba-coba. Selama dua pecan menjalankan praktik kecurangannya, pelaku mengaku menjual gas elpiji miliknya ke sejumlah warung makan maupun took yang ada di Solo Raya. “Tergatung orderannya. Biasanya sudah ada yang ingin membeli, karena harganya lebih murah,” akunya.

Tersangka dijerat dengan UU No 8 tahun 1999, tentang perlindungan konsumen, dan atau UU No 22 tahun 2001, tentang migas, serta uu metrologi, dengan ancaman hukuman 5 tahun penjara. (Harun Alrosid)

Lihat juga...